"Iya, memang kenapa?” "Kebetulan. Lili nggak bawa mobil, karena sedang diservice. Kalau nanti pulang, kita antar dia pakai mobil Mas Bas. Rencananya sih Lili mau naik taksi, tapi nggak baik. Kalau ada pengantar, kenapa tidak?” jelas Zaliany. "Ah, nggak usah merepotkan. Saya bisa naik taksi,” sahut Lili. "Nggak apa-apa, lagi pula aku libur. Mau pulang jam berapa?” Baskara diam-diam berterima kasih kepada adiknya yang pintar mengatur. "Sekitar pukul 23.00, biar nggak terlalu kemalaman,” jelas Zaliany.
Tiba-tiba Awan dan seorang rekannya melintas di depan mereka. Rupanya Awan baru dari Bogor, karena kemarin bilang kalau mau pulang ke rumahnya sebentar untuk memberikan STNK motornya kepada ayahnya agar diperpanjang. Malam Minggu begini, dia memang sering ke TIM sekadar ngobrol dengan sesama aktivis, atau menonton pertunjukan. Meski mahasiswa Fakultas Hukum, Awan punya apresiasi tinggi terhadap seni. Itu pula sebabnya, Zaliany mengajak Lili bermalam panjang di TIM agar bisa bertemu dengannya. Kalaupun tidak, mereka bisa bertemu teman-teman aktivis lain sekadar ngobrol atau diskusi. Toh, tujuan utama mereka memang menghabiskan malam panjang di TIM. Tapi, Zaliany sejak awal sudah berharap akan ada peristiwa sampingan: bertemu Awan. Harapan itu kini ternyata terkabul.
Awan tak menyadari kalau Zaliany dan Lili ada di situ. Demikian pula Lili tak melihatnya, karena duduknya menghadap ke ruangan kafe. Awan terus berjalan sambil asyik ngobrol dengan temannya. Zaliany yang melihatnya, langsung beranjak dari tempat duduknya dan memanggil Awan.
Dia bukannya mengajak Awan dan rekan satunya bergabung, tapi malah mendatanginya dan membisikkan sesuatu untuk menjauh. Padahal Lili yang kemudian ikut menyapa dari kursinya, tadinya menyangka Awan akan bergabung. Sehingga dia tak meninggalkan kursinya, selain juga menghormati Baskara.
Awan tahu yang dimaksud Zaliany. “Itu ‘kan Baskara, kakakmu. Aku ingat betul. Dia pacar Lili, ya?” bisik Awan.
"Syiiit! Udah kita tinggalkan saja. Biar mereka lebih bebas. Antar aku ke gedung bioskop untuk melihat film apa saja yang diputar,” pinta Zaliany kemudian pamit kepada kakaknya dan Lili. "Eh, mau ke mana?” tanya Lili yang tampak kaget dan tak menyangka, bingung, dan kikuk karena akan ditinggalkan berdua dengan Baskara. "Sudah di situ saja, ini urusan pribadi kami. Nggak lama. Nanti aku ke sini lagi,” elak Zaliany yang langsung menggandeng Awan meninggalkan kafe itu.
Awan pun gembira diajak Zaliany, wanita pujaannya. Dia sudah lama tertarik kepadanya dan merasa Zaliany juga membalas ketertarikannya. Sudah lama dia ingin menyatakan cinta. “Semoga ini kesempatannya,” katanya dalam hati.
Zaliany pun berharap kali ini Awan menendang bola yang sudah lama dia tunggu untuk ditangkap dengan erat. Seperti tendangan idolanya David Beckham yang indah, melengkung. Kemudian dia akan menangkapnya seperti kiper Gianluigi Buffon yang juga idolanya.
Lili masih bingung dan kikuk. Dia tak tahu harus berbuat apa. Dia menyangka ini urusan cinta Awan dan Zaliany. Sebab, sahabat dekatnya ini pernah mencurahkan isi hatinya tentang Awan. Sehingga dia tak ingin mengganggu. Di sisi lain, dia merasa kelabakan terjebak di depan Baskara. Tapi akan meninggalkannya jelas tak sopan dan bisa menyakiti hatinya, selain sebenarnya dari dalam lubuk hatinya dia mensyukuri bisa berdua dengannya.
"Kamu nggak keberatan kita berdua saja?” tanya Baskara mengagetkan. Lili pun mencoba menepis kegugupannya dan menjawab, “Nggak. Mas Bas keberatan, nggak? "Jelas tidak! Justru menyenangkan, bisa banyak bicara dengan orang sepertimu,” Baskara mulai lancar berbicara. Lili tampak tersanjung, malu, gemetar, sekaligus mulai dirayapi rasa bahagia. Sejenak mereka diam. "Lili, kamu tampak cantik. Pasti bahagia pacarmu memiliki kekasih sepertimu. Sudah cerdas, cantik pula,” tiba-tiba Baskara bisa mengeluarkan jurus lamanya. Dia sendiri tak menyadari, dari mana keberanian itu muncul. Makanya dia sempat tegang, karena merasa terlalu lancang. "Ah, saya belum punya pacar. Nggak laku, mungkin karena jelek.” Plong! Ternyata Lili tak merasa dilancangi dan masih sendiri. Baskara pun semakin berani mengeluarkan jurus-jurusnya. “Jangan merendah begitu. Kamu tak hanya memancarkan kecantikan fisik, tapi juga memiliki inner beauty.” "Bisa saja Mas Bas memuji.” "Sungguh! Aku tak mengada-ada.”
Lili diam, menundukkan kepalanya sambil menahan getaran yang luar biasa. Baskara juga makin mabuk-kepayang melihat keanggunan Lili dalam diamnya. Dia sengaja tak ingin membicarakan hal lain, karena tak mau kehilangan momen terindah. Malam ini, dia harus bisa melakukan sesuatu demi gejolak jiwanya yang makin meronta. Jikapun tak akan menyatakan cinta, setidaknya dia bisa membuat sesuatu yang membuka gerbang agar mereka punya alasan untuk lebih sering bertemu di kemudian hari.
"Mas Bas sendiri malam Minggu begini nggak pacaran?” Lili kini berani memecah kebisuan sekaligus membalas pertanyaan menyelidik yang dilakukan Baskara. Selidik dibalas selidik, meski untuk merangkai kata-kata itu Lili harus berkeringat. Baskara merasa Lili telah memberikan umpan balik.
"Oh, aku sudah tiga tahun tak pacaran sejak putus. Nggak laku-laku ha…ha…ha…” "Ah, mosok sih orang ganteng seperti Mas Bas nggak punya pacar,” kata Lili ganti memuji, meski sebenarnya sudah tahu Baskara masih sendiri dari cerita Zaliany.
Pertanyaan itu membuat hati Baskara bergoncang keras. Detak jantugnya makin tak teratur, sampai napasnya kadang tersengal. Untuk menutupinya, dia menyulut rokoknya. Tetap saja dia agak gemetar. Sebab dia mengartikan pertanyaan itu sebagai pintu yang mulai dibuka Lili dan dia harus berani memasukinya. Dia sudah menyiapkan kata-kata berikutnya, tapi menimbangnya berkali-kali untuk mengeluarkannya. Harus diucapkan. Ini momen terbaik. "Inginya punya. Apalagi kalau pacarnya seperti kamu.”
Baskara makin gemetar karena akhirnya mengeluarkan kalimat andalan yang sejak tadi dia rancang itu. Dia lirik reaksi Lili yang ternyata juga seperti tersengat, lalu hanya bisa menundukkan kepala. Baskara pun kini kehilangan kata-kata lainnya, apalagi Lili. Diam lagi, sementara alunan musik instrumental Kenny G yang diputar pihak kafe manambah suasana makin mencekam. Setengah menit tak ada kata dari keduanya. Ini sudah pinangan. Lili sebenarnya menyambut dengan gembira pinangan itu, tapi rasa malu mengalahkan keberaniannya untuk jujur. Sementara Baskara makin penasaran terhadap reaksi Lili selanjutnya.
Ah, kepalang basah. Maju, atau kehilangan kesempatan. Sekarang atau nanti sama saja. Memang kenalan belum lama, tapi getaran yang kurasakan setiap hari menandakan aku mulai terpengaruh oleh Lili. Sosok yang entah bagaimana sangat istimewa dan sangat menggetarkan jiwaku. Terimalah cintaku, Lili, jika ini disebut cinta.
Perasaan yang sama ternyata ada dalam diri Lili. Oh, Mas Baskara. Seandainya aku berani mengucapkan, aku sudah tertarik sejak pertama kali bertemu. Katakan sesuatu, aku ingin semua lebih jelas. Biar kusambut dengan caraku dan tolong jangan paksa Lili mengeluarkan kata ‘aku juga cinta kepadamu’, karena Lili belum sanggup. Kata-kata itu hanya berdengung di dalam jiwa dan kalau aku keluarkan pasti akan tersangkut di tenggorokanku. Ya, aku siap mencintaimu. "Lili, aku tidak membual atau menggombal. Kamu benar-benar cantik. Jujur saja, aku tertarik kepadamu sejak pertama bertemu,” akhirnya Baskara memberanikan diri untuk berterus terang. Keringatnya mulai berjatuhan.
"Engkau wanita istimewa. Maafkan kelancanganku. Aku memang pantas didamprat atau dimaki-maki. Jika engkau tersinggung karena kata-kata ini, sekali lagi maafkan aku. Lupakan dan anggaplah tak pernah ada, agar kita tetap bisa menjadi teman,” tak tahu Baskara tiba-tiba lancar mengeluarkan kata-kata itu. Apalagi suaranya tiba-tiba sangat magis. Dipadu sikapnya yang menjadi tegar, suaranya semakin berwibawa hingga membuat wanita akan bergetar mendengarkannya.
Diam lagi. Lili tersengat begitu hebatnya. Baginya itu kata-kata terindah dan sangat dia tunggu. Sengatan itu membuatnya kesulitan bicara. Dia hanya bisa menatap Baskara dengan sayu, tapi memancarkan sinar kasih dan cinta. Baskara bisa merasakan dan menerjemahkannya, itu bahasa kasih. Tapi dia tetap penasaran menunggu bahasa verbal dari Lili.
Lili menunduk lagi. Tiba-tiba matanya mulai berkaca-kaca, disusul tetes-tetes kecil yang keluar dari pelupuk mata sipit nan indah itu, saking tak kuat menahan rasa bahagia bercampur ketidakmampuannya untuk menjawab pinangan Baskara. Dia buru-buru menyekanya, lalu memberanikan diri mendongak dan menatap mata Baskara. Perlahan dia letakkan kedua tangannya di atas meja, kemudian memalingkan tatapan sendunya ke arah halaman TIM.
Baskara terharu. Itu sudah cukup sebagai jawaban bagi Baskara. Dia merasakan bahasa cinta lewat tetes air mata dan pancaran matanya. Kemudian dia memberanikan diri meraih tangannya yang kuning-lembut, dan meremas pelan. “Kamu tak harus menjawab jika memang tak perlu. Sekali lagi maafkan aku membuat situasi menjadi begini dan menyakitimu.” "Tidak ada yang perlu dimaafkan dan tak ada yang disakiti,” Lili mulai bicara. Dia kemudian tersengal, seperti ada yang mengganjal tenggorokannya.
Ganjalan itu berupa kata-kata untuk membahasakan perasaan hatinya yang seolah menggumpal. Entah kekuatan apa pula, ganjalan itu seperti terdorong dari dalam dan akhirnya keluar juga. “Saya… juga punya perasaan yang sama." [sebelumnya | selanjutnya]
Disalin oleh: Chen Mei Ing
