Pada suatu waktu seekor ayam jantan mencakar-cakar mencari cacing di kebun tuannya dan menemukan sebutir intan yang indah berkilauan. Segera dia memanggil ayam-ayam betina, katanya, "Lihat! Batu indah yang kutemukan!" Ayam-ayam betina itu pun lalu berkerumun mengagumi permata itu; berkotek-kotek sangat gembira. Seekor ayam betina berkata, "Batu ini milik nyonya kita. Kita harus mengembalikan kepadanya. Pasti mahal harganya."
Kata yang lain, "Aku ingin memilikinya ! Sungguh indah batu ini." Ayam-ayam betina itu terus mengagumi intan itu sedangkan ayam jantan tidak tertarik lagi. Dia pergi untuk mencakar-cakar lagi mencari cacing.
Tiba-tiba seekor ayam betina berkata kepadanya, "Engkau sesungguhnya tidak berperasaan. Tidak dapatkah engkau menghargai keindahan permata ini?" Ayam jantan itu menjawab, "Engkau memang ayam betina yang bodoh ! Apa yang engkau peroleh dengan mengagumi sebutir intan ? Mari cari cacing-cacing ! Itu akan lebih bermanfaat bagimu."
Sebutir intan mungkin indah tetapi tidak memuaskan rasa lapar. [Natalia Lim / Cirebon / Jabar Tionghoanews]