Rabu, 06 April 2011

SATU CINTA DUA AGAMA (10-13)

Saat Tri terbangun, di hatinya penuh tanya. Melihat raut wajah Li yang walaupun berusaha tersenyum, Tri menangkap ada gelagat yang tidak baik terjadi.

Namun karena malam sudah larut, Li meminta Tri untuk beristirahat terlebih dahulu dan membicarakan masalahnya keesokan harinya.

Malam itu, di kamarnya masing-masing Li dan Tri tak dapat memejamkan matanya. Li berusaha menenangkan hatinya menarik nafas dalam-dalam dan kemudian bermeditasi ditemani alunan irama simponi alam.

Runtuh sudah keyakinannya untuk dapat bersatu dengan belahan jiwanya. Sirna sudah harapan indahnya untuk bersanding dengaN kekasih hatinya di pelaminan. Hancur sudah keinginannya untuk membina mahligai rumah tangga yang bahagia.

Inilah kenyataannya dan Li merasa tak ada jalan lagi bagi mereka untuk meneruskan hubungan percintaan.
Li adalah sosok lelaki yang tidak pernah memaksakan keinginannya dan ia juga tidak ingin Tri membantah keputusan orangtuanya.

Salah atau benar, merekalah yang telah berjasa melahirkan dan mendidiknya. Li tidak ingin Tri menjadi Malin Kundang pada jaman modern melawan orangtuanya, sehingga ia menjadi anak yang durhaka.

Sebenarnya ada terbersit seberkas keinginan mengalah demi keutuhan cinta mereka untuk hidup bersama dengan mengikuti keyakinan Tri, sehingga mereka segera bisa menikah.
Tetapi Li segera menepisnya. Ia tidak ingin keimanannya ditukar hanya demi sebuah cinta.


Duduk dalam kamar yang sunyi dan suasana hati yang mulai pulih, Li ingin menumpahkan segala isi hatinya dengan menulis.
Dibukanya notebook yang selalu ia bawa kemana saja.

Hari ini, tahu-tahu aku dilahirkan
Begitu pula dirinya disana
Tak kuasa aku dapat memilih dilahirkan sebagai apa, dimana, dan bagaimana
Sama halnya dengan dia

Tetapi di hari yang lain
Aku dan dia dipertemukan
Tahu-tahu kami saling jatuh cinta
Sebagai anak manusia dalam cinta yang sama
Warna dan rasa

Namun…..
Bukan keinginanku dan pasti juga bukan keinginannya
Aku dan dia tidak sama dalam suku dan agama
Dan kami tidak diperkenankan untuk bersatu
Atas dalil-dahil agama
Atas kebenaran yang katanya mutlak

Tetapi
Bicara cinta
Mengapa kami harus jatuh cinta sejak pandangan pertama?
Bila itu salah
Siapakah yang harus disalahkan?

Apakah tidak boleh aku menyalahkan Tuhan yang menciptakan lalu mempertemukan kami untuk saling jatuh cinta?


Namun sejenak dalam hening
Aku belajar untuk memahami
Hidup adalah perjalanan menelusuri takdir kehidupan yang telah diciptakan sebelumnya

Bila aku dan dia bertemu adalah memang jodohnya
Demikian pula bila aku dan dia harus berpisah
Biarlah aku memaknai bahwa jodoh ini hanya untuk saling mencintai
Dan bukan untuk bersatu

Biarlah aku belajar untuk membuang keegoan hati
Belajar untuk tidak terjebak dalam kebodohan dan kemelekatan cinta
Yang sesungguhnya palsu
Yang menjadi sumber penderitaan hidup yang tak bertepi

Li seakan menemukan kesadarannya atas masalah yang sedang dihadapi. Kata demi kata demikian mengalir saja menjadi kalimat yang seakan bukan berasal dari pemikirannya.

***
Sementara di kamarnya Tri menatap ke langit-langit malam. Kegelisahan yang ditangkapnya di wajah Li barusan membuatnya tak tenang. Ingin membahas malam ini juga apa yang terjadi. Tri mengumpat pada dirinya mengapa tadi tidak bisa menahan kantuknya. Hingga ia tertidur dan ketinggalan hasil akhir pembicaraan mereka.
Tri bangkit dari tempat tidurnya. Ia ingin menenangkan hati dan pikirannya. Tri melakukan shalat malam dengan sangat khusyuk. Berserah pada Tuhan yang telah menentukan takdir hidupnya. Tri meminta pada Tuhan sebanyak-banyaknya, berulang-ulang samapai airmata bersimbah di kedua belah pipinya. Tri menutup sholat malamnya dengan witir 3 rakaat.

Azan subuh menjelang, Tri tak sadar telah
bermunajat sebegitu lama. Ia langsung
menunaikan shalat subuh dan melanjutkan doa-doanya.
Tak terasa pagi hampir menjelang.
Terdengar dengan jelas kokok ayam saling bersahutan. Tri berjalan menuju dapur, menyiapkan minum pagi dan sarapan untuk keluarganya. Seperti biasa Papa dan Mama masih sibuk dengan membaca Al Qur’an di subuh itu.

*
Tri menunggu Li keluar dari kamarnya, entahlah apakah semalam Li bisa tidur atau sama seperti dirinya mengadu pada Tuhan tentang nasib cintanya.

Akhirnya yang ditunggu-tunggu muncul juga, Li masih tampak lusuh. Terlihat lelah dan mata masih agak memerah.
Tri menatap dengan mata penuh harap, tetapi Li minta diri untuk mandi terlebih dahulu. Tak tega Li menatap wajah Tri yang begitu sendu.

*
Mendengar apa yang disampaikan kedua orangtuanya tentang keputusan mereka, airmatanya tak kuasa ditahan lagi. Hatinya hancur dan perasaannya menjadi kalut.
Mengapa dan mengapa, tiada habis Tri bertanya.

Untuk meyakinkan Tri segera bertanya
pada Li.

“Iya, Tri, Mama dan Papamu tetap tidak mengijinkan kita untuk menikah. Alasan utamanya seperti dari awal adalah keyakinan kita yang berbeda!” Li menatap Tri yang duduk terkulai tanpa daya. Ingin rasanya ia segera memeluk Tri erat-erat untuk memberikan kekuatan.

“Tri, sayapun sebenarnya sangat sedih dan tidak bisa menerima kenyataan ini. Tapi, memang inilah kenyataan yang mau tidak mau harus kita hadapi. Seperti halnya kematian. Mungkin ini adalah takdir hidup yang memang harus kita terima dengan kerelaan hati!”

“Jadi Koko sudah pasrah menerima keputusan ini? Mengapa, Ko, ini harus menimpa kita? Kalau memang akhirnya harus berpisah dengan menyakitkan seperti ini, mengapa kita harus saling jatuh cinta pada awalnya?” Tanya Tri dalam linangan airmatanya.

“Bukankah Koko selama ini yang selalu memberikan kekuatan dan harapan akan kelanjutan hubungan cinta kita?!”

“Adiak sayang, sabar ya, anggap saja ini adalah kehendak Tuhan dan kita hanya bisa pasrah untuk menerima kenyataan ini. Kita harus kuat dan hidup tidak boleh berhenti sampai disini. Kebahagiaan masih bisa kita temukan dengan cara yang lain, selain melalui pernikahan kita. Tri, sejujurnya saya tak akan mungkin bisa melupakan kamu!”
Tanpa sadar, airmata Li mulai berjatuhan membasahi pipinya.

“Ko, Koko. . . . Rasanya aku tak percaya kita harus berpisah dan tak dapat bersatu untuk selamanya. Mengapa hidup ini tidak adil untuk kita, Ko?” Tri hanya berkata pelan dalam isak tangisnya yang penuh kepedihan.

“Adiak, percayalah, pasti ada hari esok yang lebih baik untuk hidup kita, walaupun cinta kita yang tulus tidak dapat dipersatukan oleh agama kita yang berbeda.”
Itulah kata-kata Li yang terakhir kali pada kesempatan sebelum ia terbang kembali ke Jakarta.

Kota kecil Batusangkar yang tadinya begitu indah dan sejuk seketika menjadi gersang bagi Li. Hari itu yang harus pergi membawa duka yang mendalam.
Ia harus tegar untuk melangkah karena hidup memang harus terus berlanjut!

Ketika sudah sampai di Bandara Internasional Minangkabau dan hendak chek in menuju Jakarta, terdengar suara yang sangat khusus di telinganya memanggil dari kejauhan, “Liiiii. . .!!!”

Part.11

Koko Liiii. . . Ko, tunggu, tunggu aku !” Li membalikkan tubuhnya ke arah suara yang sangat ia hafal itu. Tri setengah berlari mengejarnya, dengan travel bag berukuran sedang diseretnya. Ia tidak memperdulikan orang-orang di bandara itu memandanginya.

Li kaget dan tidak percaya dengan sosok yang dilihatnya. Tri menyusulnya, dengan mata yang setengah sembab usai menangis.

“Koko …!” Tri tidak bisa lagi menahan dirinya, ia ingin sekali memeluk kekasihnya dengan hati tersayat. Tapi tak jua dilakukannya. Tri mematung di hadapan Li, dengan mata sendu dan suara lemah ia berkata, “ Kita ke Jakarta sama-sama ya, Ko !” Begitu ujarnya.

Li tak mampu juga untuk mengeluarkan kata-katanya, kerapuhan yang dilihatnya dari kekasih hati yang sangat ia cintai membuatnya kehilangan kata-kata. Ia merasa tidak bisa lagi memberikan kekuataan pada gadisnya. Li hanya menganggukkan kepalanya, dan tersenyum kecut serta sedikit heran.

“Ayoooooh !” Sambil menggandeng tangan Tri di sisinya ia melangkah, Li dapat merasakan sedikit kelegaan bersama kekasihnya.

Tri kemudian menjelaskan kepada Li, bahwa dia telah meminta ijin kepada kedua orangtuanya ke Jakarta untuk membereskan pekerjaannya terlebih dahulu, lalu kembali ke kampong halamannya.

***

Bisu, di atas pesawat. Sama sekali sepasang kekasih itu tidak saling bicara dalam menahan gejolak hati. Terkurung dalam pikiran sendiri-sendiri yang dipenuhi perasaan luka dan lara.
Tri merebahkan kepalanya di pundak Li yang datar. Dibiarkan tangannya digenggaman Li. Matanya menatap ke awan di balik jendela pesawat, sambil membayangkan kenangan indah ini akan segera berlalu.

“Ko …!” Suara lirih Tri memecah kebisuan mereka. Tatapannya begitu manja namun sayu.

“Ya … ” Li menjawab lemah tanpa gairah tetapi berusaha tersenyum untuk menyenangkan hati Tri yang sedang terluka.

“Ko, apa Koko tahu seperti apa kita sekarang? Laksana burung, dimana satu sayap burung itu kini telah patah. Dengan begitu aku tak bisa membantumu terbang membebaskan diri dari semua yang kini mengikat kita ?”

“Atas nama perbedaan mereka tidak pedulikan cinta kita, tidak mau mengerti kalau ayunan kaki ini akan pincang tanpamu di sisiku. Jiwa ini tidak sempurna karena belahannya telah melayang, ”tertahan tangisnya saat Tri berusaha melanjutkan berkata, “Retak yang menggores hati kini telah semakin meluas dan menjalari seluruh jiwa. Yang tersisa hanya perih yang tiada
terkira! ” Li seperti biasanya menghela nafas dalam-dalam sebelum memberikan kata-kata
penghiburan untuk kekasih hatinya.

”Tri, kebahagiaan, kesedihan, dan penderitaan memang tak jauh dari perjalanan hidup kita.
Semua adalah proses kehidupan. Tetapi apapun itu, semuanya janganlah kita sikapi
dengan perasaan yang berlebihan. ” Li menepuk bahu Tri yang sedang menyandar di pundaknya dan kemudian berkata lagi, ”Perkawinan bukanlah satu- satunya jalan yang bisa membuat kita menikmati kebahagiaan hidup ini. Tetapi hanyalah salah satu cara saja. Terus terang
saya memang kecewa dengan keputusan kedua orangtuamu, namun sayapun ingin berjiwa besar atas semua ini dan menghormati sikap mereka!”

“ Aku tidak tahu Ko, apakah aku bisa seperti Koko? Bisa menerima dan kuat menjalankan ini semua. Terkadang pikiran picik menghasutku untuk mengabadikan cinta ini tanpa restu orang tuaku. Terkadang aku juga berpikir, orangtuaku tidak memahami perasaan hati kita. Karena sebenarnya aku merasa kita bisa hidup bahagia dengan keyakinan kita masing-masing dalam satu keluarga!” Tri menarik nafas dalam dan sedikit sesak.

“ Maksud Adiak ?” Li penasaran dengan ungkapan kekasihnya.

“ Jika aku mengikuti ego cinta ini, aku mau diajak kawin lari saja, Ko. Bagiku aku bisa
bahagia bersama Koko. ” Tri menghapus airmata yang kembali menggenang di
matanya.

“Tapi tidak, Ko, itu tidak akan terjadi. Tri masih bisa berpikir waras bahwa itu adalah tindakan bodoh! Koko benar ini bukanlah akhir kebahagiaan kita. ” Tri memaksakan diri untuk tetap tersenyum, dan memandangi kekasihnya.

Dunia masih serasa milik mereka berdua walaupun kenyataannya cinta belum dapat mempersatukan mereka dalam sebuah mahligai rumah tangga.
Mereka tidak peduli, apakah suara hatinya dapat didengar orang-orang disekitarnya.

Li menatap Tri dengan sayang, hatinya perih. Wajah ayu yang sangat ia cinta akhir-
akhir ini jarang sekali tersenyum. Air matanya seperti tidak pernah habis untuk mengucur. Li merasa bersalah terhadap dirinya, harusnya ia bisa membahagiakan kekasihnya.

Harusnya ia bisa menikmati senyuman -senyuman indah dan tulus dari kekasihnya. Seperi dulu, ketika hari-hari bahagia yang selalu mereka lewati. Li kembali merindukan senyuman, dan tawa
lepas Tri, lesung di kedua belah pipinya akan membuatnya terlihat semakin manis.

Kini semuanya hilang. Entah dimana Tri menyembunyikan senyum-senyum itu.
Li tidak boleh membiarkan ini terus terjadi. Tri harus kuat seperti dirinya yang juga memaksakan diri untuk tetap tegar menerima kenyataan ini. Li merasa bertanggung jawab mengembalikan hari-hari bahagia Tri.

Mereka kembali saling diam. Membiarkan saja pikiran mereka untuk saling bicara. Mencoba memaknai setiap apa yang telah mereka lalui bersama.

***
Langit yang tadinya membiru kini tiba-tiba menjadi gelap dan disertai turunnya hujan.
Li masih mengkhawatirkan diri kekasihnya dan mengantarnya sampai dimana biasanya Tri menghabiskan waktu malamnya.

Berat rasa hatinya untuk meninggalkan sang pujaan hatinya dalam kesendirian. Apalagi saat menatap wajah kekasihnya yang mengharap agar Li masih bisa menemaninya.

Segelas kopi cappucinno hangat dihidangkan Tri untuk Li menemani mereka diiringi rintiknya hujan yang belum juga reda.

“Ko, ada perasaan takut dalam diriku untuk berpisah denganmu!” Tri merapatkan duduknya disamping Li.

Part.12

Bagaimanapun juga Tri dan Li masih sepasang kekasih, sehingga kemesraan itu masih ada diantara mereka. Perasaan cinta yang sama di lubuk hati mereka tentulah tidak mudah begitu saja menepi dan pupus dalam sekejab.

Bagaimana mungkin ikatan batin yang begitu kental selama ini diantara mereka demikian saja dapat dimusnahkan! Meskipun masa depan cinta mereka sudah tidak searah lagi, karena kedua orangtua Tri sudah dengan sangat tegas menolak pernikahan mereka yang berbeda keyakinan.

“Diak sayang!” Seperti kebiasaan Li yang suka mengusap-usap rambut kekasihnya, kali ini ia melakukan hal yang sama dengan lembutnya. Diciumi dengan sepenuh perasaan dan meresapi aroma tubuh Tri yang begitu khas baginya.

Ruang dimana kini mereka berada yang tak seberapa besar tetapi tertata rapi dengan nuansa yang serba putih itu, menjadi saksi kesehatian dua insan yang masih saling mencintai ini.

“Sejujurnya, aku juga tak rela bila kita harus berpisah saat ini. Tetapi ini adalah kenyataan yang harus diterima dan kita hadapi. Janganlah sampai kita terus larut dalam masalah ini, karena orangtuamu sudah tegas tidak merestui. Kita tidak perlu memaksakan diri lagi, Diak! Kita harus berani menatap masa dengan rasa percaya, bahwa ini adalah jalan yang terbaik bagi kita. Bagaimanapun aku tetap akan menyayangimu!”

Getar-getar cinta semakin cepat memacu ke seluruh nadi dua manusia dewasa itu. Dengan tangan kanannya Tri mengusap wajah Li. Sentuhan lembut itu seperti menegaskan betapa dalam cintanya untuk Li. Tri tak kuasa menahan gejolak untuk memeluknya dengan erat. Sangat erat, seakan ingin menyatu ke dalam tubuh kekasihnya.

Kehangatan segera menjalar diantara tubuh mereka pada dinginnya malam.

Gemericik hujan masih terdengar, irama lagu “Takkan Terganti” dari suara lembut Marcel, terdengar begitu syahdu dan suasana yang begitu sepi dan sunyi malam itu membuat kedua insan ini larut dengan gelora cinta dan isi hatinya. Aroma tubuh mereka menyatu dalam dekapan yang semakin kuat.

Li sebagai lelaki layaknya, pikirannya tiba-tiba berkecamuk dalam nafsu dan Tri ikut terlarut didalamnya. Suasana romantis serasa membuat mereka terlena dan sejenak lupa akan jati diri mereka yang sesungguhnya.

Dan . . .

Namun pada saat itu juga Li disadarkan oleh suara hatinya yang terdalam.

Sebagai lelaki sejati, ia tak rela berbuat yang tidak pantas pada kekasih yang begitu disayanginya itu. Li terlalu sayang pada Tri, sehingga tak mungkin ia tega melakukan sesuatu yang tak layak pada wanita yang ada di hadapannya.

Li bukannya hanya mencintai Tri, tetapi juga menghormatinya sebagai seorang wanita.

“Ma, ma…maaf, Adiak!” Li seakan tidak percaya dengan apa yang hampir mereka lakukan. Begitu juga Tri yang segera menyadari kesalahannya.

“Ko, koko, maaf!”

Tri dan Li segera kembali duduk dalam posisinya. Sesaat mereka saling diam dan mengatur nafas mereka kembali. Ada perasaan malu di hati mereka ketika itu. Tri menundukkan kepalanya, tak sanggup menatap kekasih hatinya. Rintik-rintik hujan yang berjatuhan masih terdengar, saat ini tidak terasa merdu lagi. Namun sepertinya sedang menertawakan kebodohan mereka yang hampir saja terlempar dalam jurang dosa.

“Sayaaaaang,.. !” Li mengangkat dagu kekasihnya dengan lembut. Seutas senyum manis dipersembahkannya untuk kekasihnya. Tanpa banyak bicara Li mengecup lembut kening Tri, cepat sekali dan kemudian Li berdiri dari duduknya.

“Sudah malam, sebaiknya kamu istirahat lagi ya, Diak!. Lihat tuh, matamu sudah sangat lelah sekali. Jadi tidak kelihatan cantiknya lagi.” Sambil memencet hidung Tri yang bangir, Li menggoda gadisnya. Mau tak mau Tri tersenyum juga dengan manjanya. Ehm, manisnya gadis itu!

“Pagi-pagi aku harus masuk kerja, jadi sekarang saatnya pulang. Ada rapat dengan pimpinan. Besok kita bertemu lagi, sebelum Adiak balik ke kampung lagi. Ok..!”Lembut dan pelan sekali Li bicara, seperti tidak ingin membuat kecewa kekasihnya.

Tak seperti biasa, Li selalu bicara dengan sangat cepat, sampai Tri harus berulangkali mendengarnya agar bisa mengerti bahasanya. Sekali lagi senyuman Li malam ini membuat Tri gelisah, rasa takut semakin kuat menyerangnya. Tri menggigit bibirnya menahan haru. Tidak ingin lagi ia menangis.

Malam ini ia merasakan berbeda dengan hari-hari sebelumnya yang pernah ia jalani bersama Li. Malam ini, ucapan perpisahan itu diucapkan kekasihnya seakan untuk selama-lamanya. Tri tak sanggup menahan sedihnya, ia kembali memeluk lelaki itu. Erat dan sangat erat. Li membalas pelukan itu, membiarkan kekasihnya melepaskan kerinduan yang bergelora.Perlahan Tri melepaskan juga pelukannya.

Lalu ia berkata. “ Besok kita akan bertemu lagi bukan ?”

Li mengangguk demi menyenangkan perasaan kekasihnya, senyum Tri mengembang indah, membuat hati Li bergetar. Sebelum akhirnya merekapun berpisah malam itu.

*

Malam begitu terasa panjang bagi Tri. Meski ia sudah berusaha untuk tidak larut memikirkan, namun bayangan perpisahan yang akan segera terjadi bergelayut di kelopak matanya.

Tri berusaha mengusir kegalauan dan isi hatinya dengan merangkai kata-kata.

Kasih,…rasa takutku adakah kau mengerti?

Lambaian tanganmu, memberi isyarat untukku ini telah berakhir

Aku takut kau pergi, Aku takut kau hilang,

Dan aku takut sendiri tanpamu

Detak Jarum jam menghujam sampai ke jantung

Putarannya bak tarian malam yang mengayun sendu

Aku terpaku dalam keterasingan tanpamu

Kasih,..Apakah benar?

lembaran-lembaran hari yang penuh terisi oleh cintamu harus ku tutup?

Apakah jemari-jemari lentik ini harus berhenti menulis tentangmu?

Apakah benar, kesendirian ini akan menjadi milikku selamanya?

Tanpa senyummu yang menguatkan. Tanpa cintamu yang memberi nafas pada hidupku?

Kasih,…!

Jangan pergi, jangan bawa cintaku

Aku tak biasa tanpamu, tanpa kasih sayang darimu

Nyanyian hujan tak mampu lagi kudengar

Berganti tangis yang berderai di wajahku

Sayangku, tak bisakah kau membawa serta diriku

Tak melepaskan aku dalam dekapan hangatmu

Tak membiarkanku kedinginan dalam sunyi dan kelam ini

Mengertikah kau, aku tak sanggup melangkah tanpamu

Tahukah engkau, bagaimana rasanya di sni?

Berada dalam ruang kosong, sepi dan hampa

Namun

Ya Tuhan, kuatkan jiwaku

Pada akhirnya aku harus sadar

Ada pertemuan pasti ada perpisahan

Biarlah kisah ini menjadi kenangan keindahan

Akan kisah cinta dua anak manusia yang saling mengasihi

Semoga akan ada hari esok yang lebih bahasa

Untukku dan untuknya, Li

*

Li dalam perjalanan pulangnyapun masih menyimpan rindu yang mendalam. Tak rela rasanya ia meninggalkan Tri dalam kesendirian.

Part.13

“Tri, Tri, mengapa cinta kita yang begitu tulus dan suci ini tak dapat dipersatukan juga. Perpisahan ini memang layak kita sesali, namun mengapa harus ada pertemuan dikala itu dan membuat kita saling jatuh cinta?!” Li masih menyisakan sedikit penyesalan direlung hati.

“Ya . . . Inilah kehidupan yang penuh dengan segala misterinya! Apapun itu, aku harus tetap tersenyum demi hari esok yang lebih baik dan menemukan cinta yang tak kalah indahnya! Bukankah masih ada Siska, Fera, Claire, Nathalie, dan juga Meysa yang masih mengharapkan cintaku?!

Ha ha ha . . . ” Pikiran nakal Li melayang dan terbayang kepada gadis-gadis yang tak kalah manisnya dengan Tri sambil tertawa lepas dengan lucunya.
Sejenak menghalau kepedihan hatinya.

“Perpisahan pastilah bukan akhir segalanya dan Tuhan pasti akan memberikan jalan yang terbaik buat kami. Tri, aku harap kamu mendapatkan lelaki yang lebih baik, seiman, dan direstui kedua orangtuamu!” Gumam Li dalam sebait doa.

Sepanjang perjalanan menuju ke rumah di pinggiran kota Jakarta malam itu, Li tidak menghiraukan suasana malam yang masih ramai lalu lalang kendaraan. Jakarta memang kota tak pernah mati. Pikirannya masih tak bisa untuk melepaskan bayangan wajah kekasih hatinya.

*
Tri seakan bisa merasakan getaran hati kekasihnya. Tanpa sadar senyumnya mengembang menghiasi keremangan malam. Tri memandangi langit-langit kamarnya yang putih. Ada panggilan hati malam itu agar ia berwudhu menunaikan tahajud ditengah malam hening.

Pencerahan jiwa mengalir ke dalam dirinya. Suara-suara kebenaran menyegarkan seluruh tubuh dan pikirannya. Jiwa yang kelam oleh kesedihan dan logika terkikis pandangan terang.

Kesadaran akan makna cinta yang sesungguhnya mulai memenuhi pikirannya. Seberkas sinar menembus relung-relung hatinya. Kegelapan tertutupi cahaya jiwa sejati.

“Ya, Allah, Engkaulah Maha Kebenaran bagi kami. Engkaulah kekuatanku untuk menghadapi semua kenyataan ini dan aku percaya pasti yang terbaik yang selalu Engkau berikan!”

Airmata Tri mengalir deras memenuhi wajahnya. Bukan airmata kesedihan seperti sebelumnya, tetapi kali ini adalah airmata kekuatan untuk membersihkan kekelaman hatinya.

Kelegaan memenuhi rongga dadanya. Malam itu Tri akhirnya bisa juga tertidur lelap. Berharap ada mimpi-mimpi indah yang menemani tidurnya.

****
Seperti biasa Tri berangkat ke kantor pagi ini, setelah seminggu cuti dari pekerjaan. Tri mulai membayangkan akan banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya di kantor. Tri tersenyum, tak sabar rasanya bisa kembali pada aktivitasnya.

Tri mencintai pekerjaannya, dan ia sangat menikmatinya. Tri akan memulai paginya harus dengan hati bahagia. Apa yang terjadi dengan hubungannya bersama Li, tidak boleh merusak hidupnya.

Lenggang sekali kantornya, Tri sengaja datang lebih awal, ia ingin menata kembali ruang kerjanya, setelah seminggu ia tinggalkan. Ia bergegas ingin sekali menyelesaikan pekerja-pekerjaannya sehingga tiada meninggalkan beban.

Belum banyak karyawan yang datang. Tri masuk ke dalam ruangannya. Hanya seminggu ia baru meninggalkan kantornya, ternyata ia sudah sangat merindukan suasan hangat di kantor ini. Ia rindu canda tawa teman-temannya, ada Pak Yayok yang suka membuat cerita lucu, ada Aryo yang suka mengganggu karyawati yang imut-imut. Tri juga rindu cerita-cerita Bu Seno tentang putrinya yang cantik itu. Ahh, Tri rindu semuanya.

Tri sampai di mejanya, sebuah foto pria yang sangat gagah dengan bingkai berwarna perak terpampang di sudut meja kerjanya. Tri meraih foto itu. Mengusap wajah di foto itu lembut. Hatinya kembali pada bayangan kisah cinta mereka yang dulu bahagia.

Namun. . .
Li, kembali wajah tampan kekasihnya itu melintas. Kehadiran Li begitu sangat berarti dirasakannya pada saat perpisahan ini terjadi. Sampai kapanpun Li tak akan terganti dalam hatinya. Karena buat Tri, Li adalah pemilik hatinya.

Kata-kata Li yang menghibur dan menguatkan kembali terngiang memenuhi batinnya.
Tri kembali berusaha tersenyum, senyuman yang penuh kegetiran sekaligus mengandung kekuatan. Yang mengalirkan semua energi pada dirinya agar bisa terus bertahan

Tri kembali mendekap foto itu, dan kemudian ia memasukkannya ke dalam laci di mejanya. Tri tidak ingin memajang foto itu lagi, ia tidak ingin bersedih terus.

“Tri sudah datang kapan sampai dari kampung?” Suara Bu Seno mengagetkan Tri yang tengah asyik bergelut dengan bayangan kekasihnya.

“Eh, Bu Seno, iya tadi malam Bu, Apa kabar Bu?” Tanya Tri hangat

“Baik Tri, kita semua kangen sama kamu Tri. O ya, bawa oleh-oleh kan?” Lanjut Bu Seno sumbringah.

“ He he he, ada Bu beres. Saya bawa kerupuk mayang. Ini khas daerah saya Bu, enak pastinya.” Sambil memnyodorkan sebungkusan cukup besar dari tasnya.

“ Saya juga bawa rendang lho Bu, asli buatan Mama saya. Nanti siang kita makan bareng ya sama yang lain juga.” Ungkap Tri

“O ya, asyiik..!” Bu Seno senang.

Satu persatu karyawan lain juga mulai datang. Ruangan itu jadi ramai, dan mereka saling melepasjkan rindu. “Jadi menikah nih Mbak Tri?” Celetuk Dyah yang juga baru datang. Pertanyaan Dyah sedikit membuat wajah Tri berubah, dengan cepat ia hanya tersenyum tipis. Bunyi bel tanda masuk terdengar, Tri merasa bersyukur artinya tidak perlu menjawab pertanyaan Dyah saat itu juga.

Tri merasa belum siap untuk memberikan kabar kurang bahagia itu pada teman-teman sekantornya, bagaimanapun. Ia masih mencintai Li. Dia belum bisa mnghapus Li dari hati dan pikirannya.

Ruangan kantor itu kembali hening, setiap orang sibuk dengan tumpukan pekerjaan di meja masing-masing. Yang terdengar hanya suara jari-jari yang menari di atas keybord, suara kertas yang dibolak balik hingga mengeluarkan suara khas.

Begitu juga Tri. Ada proyek baru yang harus segera ia kerjakan. Tri serius mengerjakan pekerjaannya. Hingga tak ada yang tahu bahwa sebenarnya di balik kesan sibuk yang tengah ia lakoni hatinya sedang terluka dalam, karena sampai saat ini sejujurnya bayangan wajah Li selalu bergelayut di dalam bola matanya.

“Triiiii…..” Suara seseorang memanggilnya dari belakang. [sebelumnya | selanjutnya]

Disalin oleh: Chen Mei Ing