CERBUNG: Malam menjelang, saat yang membuat Tri sedikit gelisah, menunggu tiba saatnya Li menyampaikan maksud hati kedatangannya kepada kedua orangtuanya.
Sementara itu suara jangkrik di halaman belakang memberi tanda kalau siang telah berlalu. Gelap telah menyebar kemana-mana. Suara adzan maghrib berkumandang dengan syahdunya. Sebagai keluarga yang taat beribadah, Tri dan kedua orangtuanya meminta waktu untuk melakukan kewajiban mereka.
Di sebuah perkampungan damai, Li kini tengah berada dalam dilema cintanya.
Duduk dengan hati sedikit bergetar dan berpikir keras bagaimana cara terbaik menyampaikan isi hatinya yang terdalam.
Dingin menusuk tulang-tulangnya, Suara kendaraan yang lalu lalang hanya sesekali saja ia dengar. Jaket kulit berwarna hitam membalut tubuhnya, sehingga terlihat semakin gagah saja. Ia semakin terlihat mempesona, bukan karena celana jeans berkelas yang dikenakannya, tetapi semangat dan harapan besar di hatinya yang penuh cinta memancarkan senyuman indah dari raut mukanya.
Makan malam keluarga Tri terasa berbeda, tidak biasanya malam ini ada orang lain di tengah-tengah mereka. Semua menyantap makan malam dengan lahapnya, senyap yang terdengar hanya suara sendok yang sesekali beradu di atas piring.
Masing-masing mulai berkelana dengan pikirannya, Tri menanti dengan hati berdebar.
Apakah yang akan terjadi malam ini? Tri tampak lebih tegang dan gelisah, tanpa sengaja tarikan nafasnya mengeluarkan bunyi yang seakan menggambarkan kesesakan rongga hatinya.
Dalam diam ia melirik Papa dan Mamanya, keduanya serius mengunyah makanan mereka. Tri mengalihkan pandangannya pada wajah di sebelah Papa. Li kekasihnya, hatinya membathin.
“Li sedikitpun aku tidak pernah meragukan? kesungguhanmu memilihku. Sama seperti tiada sedikitpun ragu dihatiku untuk mencintaimu.”
“Andai saja kita adalah burung satu badan dengan dua sayap. Maka aku rela untuk terbang mengepak bersamamu setinggi-tingginya menyibak awan, melintasi langit luas ini dan menembus cakrawala, agar tak ada satu tanganpun yang bisa menjangkau untuk memisahkan kita. Dengan satu tubuh kita mengibarkan sayap-sayap yang indah diantara teriknya sang surya. Dan dengan dua sayapnya kita saling mendekap untuk menghangatkan satu sama lainnya, dalam dinginnya malam-malam panjang yang kita lalui. Itu keinginanku, Li! Itu mauku!”
“Malam ini perjuangan puncakmu, Li! Aku berharap padamu, dapat meruntuhkan pertahanan kokoh Papa dan Mamaku. Aku akan selalu berdoa Li, untuk kebahagiaan yang kita dambakan. Semoga Papa bisa lebih arif memaknai cinta kau dan aku!”
Setetes air mata bening Tri jatuh tanpa kuasa ditahannya. Li seperti membaca pikiran Tri dan memahami airmata ketulusan Tri. Sesungging senyum penuh arti diberikannya untuk Tri, disertai anggukan kecil seolah bertanda,
“Kuatlah sayang, kita akan berhasil. Tuhan bersama kita!”
Li diam-diam di kedalaman hatinya begitu terharu dan ingin pula meneteskan airmatanya. Menyatukan airmata mereka yang penuh kejernihan cinta anak manusia. Li dapat merasakan kehangatan dan ketulusan cinta Tri di dalam samudra hatinya saat melihat tatapan mata Tri yang begitu syahdunya.
Di dalam hati Li ada sebuah keyakinan, bahwa Tri adalah jodohnya dalam hidup ini yang akan melahirkan anak-anak lucu dan pintar baginya kelak. Sebab selama ini bukan tak ada wanita lain yang mengejar dan mendambakan dirinya sebagai kekasih.
Banyak!
Ada Zaza, Siska, Fera, Ita, Ika, Tyas, Nathalie, dan gadis indo yang bernama Claire. Belum lagi gadis-gadis Singkawang, kota asalnya, tak sedikit datang menggoda.
Namun Li tidak pernah bergeming untuk menjadikan salah satunya sebagai kekasih.
Li tak merasakan getaran apapun. Tetapi dengan Tri, sejak awal pertemuan Li sudah merasakan Debaran cinta yang begitu kuat.
Sebab itulah Li yakin, bahwa Tri adalah jodohnya. Apalagi Li sangat yakin dengan hukum sebab akibat. Li yakin, kehidupan yang lalu antara dirinya dan Tri punya ikatan jodoh kehidupan. Memandang Tri saat pertama kali saja, Li sudah merasa sangat begitu mengenal wajahnya.
Itulah sebabnya, mengapa Li tak mengenal kata mundur dan pantang menyerah untuk mendapatkan Tri sebagai pendamping hidupnya. Walaupun ia menyadari rintangan yang menghadang setinggi pegunungan Himalaya dan seluas samudra Atlantik.
Li juga sangat memahami orangtua Tri yang begitu kuat memegang aqidah dan tentu saja sulit untuk meyakinkan. Sedangkan Li sendiri juga memiliki prinsip hidup dan keyakinannya sendiri. Sementara ini bagi Li, tak mungkin ia harus mengalah dan kemudian mengikuti agama yang dianut demi untuk melancarkan pernikahannya dengan Tri.
Pilihan terbaik baginya dan Tri adalah menikah tetapi masih dalam keyakinan masing-masing. Dimana bagi Li, hal itu bukanlah masalah besar. Walaupun sebelumnya kedua orangtua Li sebenarnya juga menentang.
Kedua orangtua Li yang totok atau kolot sangat mengharapkan ia dapat menikah dengan gadis yang satu suku dan agama yang sama. Dalam tradisi keluarga Li, ada semacam pantangan bagi anggota keluarga besarnya untuk menikah dengan gadis pribumi dan beragama Islam. Sebab bisa menjadi aib keluarga dan di kampung.
Tetapi Li tidak ingin terkungkung dalam tradisi yang masih fanatik dan pemikiran orangtuanya yang masih belum terbuka. Li, adalah sosok lelaki yang sangat terbuka dan mau menerima segala perbedaan. Dalam pemikirannya semua manusia adalah sama dan agama yang ada semua pasti mengajarkan kebaikan juga.
” Enak sekali makan malamnya Om, Tante terimakasih telah menjamu saya sebaik ini!” Li memecah kebisuan di meja makan malam itu. “Sama-sama Nak Li, tadinya Tante khawatir Nak Li tidak bisa makan pedas, tapi ternyata kuat juga ya..?” sambil tersenyum Mama Tri berucap.
“Orang Minang tidak akan bisa makan kalau tidak ada cabe Nak Li, selagi ada cabenya, tidak ada laukpun makan bisa lahap.” Papa Tri menambahkan.
Li tertawa dan menjawab ” Semenjak mengenal Tri saya jadi terbiasa makan cabe Om, Tante. Sekarang malah tidak enak juga kalau makan tanpa sambal pedas ini. He he he … ” sambil melirik kearah Tri, Li tertawa. Dengan senyum malu Tri pun ikut tertawa.
Akhirnya sampai acara makan malam usai, meja makan itu tak lagi sepi. Selalu ada saja candaan Papa dan Li yang membuat Tri dan Mamanya terkekeh. Sepertinya waktu yang ditunggu telah tiba bagi Li untuk menyampaikan maksud kedatangannya tanpa membuang waktu lagi, agar segalanya menjadi jelas, sehingga tidak lagi timbul tanda tanya akan hubungan Tri dan Li.
Part.8
Papa mengajak Li duduk di ruang tamu. Li mengikut saja dengan perasaan mulai sedikit grogi.
Tri menyuguhkan ubi rebus yang masih panas di meja tamu bertaplak coklat berenda itu. Dua gelas kopi panas tak lupa pula dibuatkan Tri. Meskipun Tri tahu dua lelaki dewasa itu masih kenyang, udara yang dingin akan cepat membuat perut mereka kembali lapar.
Li duduk di sofa berwarna coklat tua, keluarga Tri keluarga yang hangat dan bersahabat. Tergambar dari ruang tamu yang cukup luas. Dengan dua pasang kursi tamu yang tertata.
Sepasang kursi kayu dari jati yang sangat halus, terdiri dari satu meja berukir ukuran sedang dan satu buah kursi panjang, dilengkapi dua buah kursi pendek. Satunya lagi, sofa empuk yang kini diduduki Li. Sepertinya ini sofa lama, terkesan dari desainnya yang unik.
Li menyapukan pandangannya ke seluruh ruang tamu. Tidak terlalu banyak perabot, sebuah lemari sudut terpajang indah di sampingnya. Dinding – dinding dihiasi dengan sebuah lukisan kaligrafi bahasa Arab yang cukup besar menggantung di salah satu dinding. Li tidak mengerti apa arti tulisan itu.
Selanjutnya
sebuah lukisan abstrak terpajang di sisi dinding yang lain. Satu buah foto keluarga, terlihat semua keluarga besar Tri ada di dalamnya. Sepertinya foto itu dibuat sudah lama, karena di situ Tri masih terlihat sangat remaja sekali. Semuanya tampak serasi, menambah nyaman ruangan tamu itu.
“Lukisan itu indah sekali Om, selera Om tinggi juga,” ungkap Li memuji.
“ Semuanya Tri yang memilih Nak Li, saya hanya menyetujui saja. ” Jawab Papa Tri ramah dan merendah.
“ Ooo begitu, pantas saja..” sambut Li kemudian. Li tidak perlu kaget karena memang Tri bekerja di bagian desaign interior di sebuah perusahaan di Jakarta. Mama Tri masuk ke ruang tamu dan mengambil tempat duduk di sebelah
suaminya.
Tri memilih diam di ruang keluarga, sambil nonton tv, ia mencoba mengusir kegelisahannya. Tri sengaja menyetel suara tv dengan pelan agar bisa mendengar pembicaraan tiga orang itu di ruang sebelah.
Sebetulnya ia ingin juga ada di sana, ikut membahas masalahnya. Tapi itu tidak baik, dan tabu bagi wanita Minang.
“Hmmm…!” Papa Tri mendehem, “ Bagaimana hubungan Nak Li dengan Tri ?” Pertanyaan Papa Tri mencekat urat leher Li.
Sekilas ia gugup, tapi cepat ia menguasai diri sehingga kesan gugup itu tak tertangkap Papa Tri.
“ Beginilah Om, seperti yang Om lihat. Saya telah menjatuhkan pilihan hidup saya pada Tri, datang ke sini juga membawa harapan besar. Selain bersilaturahmi, juga ingin mengutarakan maksud hati saya kepada Om dan Tante.” Li bicara setelah berhasil mengendalikan dirinya dari rasa gugup.
“Saya benar-benar menginginkan hubungan kami sampai ke pelaminan. Mengikat tali keluarga dalam ikatan rumah tangga yang abadi. Mungkin saya tidak perlu lagi menjelaskan panjang lebar, karena sejatinya Om dan Tante pasti juga sudah tahu hal ini. “Li mulai mengatur nafasnya, agar bicaranya tertata.
“Saya beranikan diri datang ke sini, untuk meminta doa restu Om dan Tante. Walaupun Tri sudah pernah mengatakan Om dan Tante tidak menginginkan saya sebagai pendamping Tri karena saya punya keyakinan yang tidak sama dengan Om dan Tante.” Li menghembuskan nafasnya pelan, tersendat sebenarnya ia mengatakan itu namun disembunyikannya.
“Maaf Nak Li, secara pribadi saya dan istri saya tidak ada masalah dengan hubungan kalian. Kalian berdua sudah sangat dewasa dan berhak menentukan pilihan hidup sendiri. ” Papa menjawab juga dengan bahasa yang sangat hati-hati.
“Nak Li orang yang baik, mengerti sopan santun. Dan saya menyukai pribadi Nak Li. Saya juga paham kenapa Tri akhirnya memilih Nak Li, pastilah juga karena keelokan budi pekerti Nak Li itu. ”
Papa melanjutkan kembali, “Betapa miris dan kecewa hati kami berdua, kala tahu ternyata Nak Li berbeda keyakinan dengan kami. Ini memang masalah prinsip Nak Li.
Dalam Islam tidak dibenarkan menikah berbeda agama. Sebagian ulama mengatakan boleh, jika yang non muslimnya itu adalah perempuan dan hal itu tidak dibolehkan jika yang non muslimnya adalah laki-laki. ” Papa berhenti sesaat, memandang wajah Li yang masih terihat tenang dan berusaha memahami.
“Alasan ini bukan alasan yang dibuat-buat. Bukan karena kami umat Islam merasa benar sendiri dengan keyakinan kami dan menganggap keyakinan orang di luar Islam itu salah. Sama sekali tidak. ” Papa melanjutkan masih dalam nada berhati-hati.
“Agama memang diturunkan sebagai pengatur hidup manusia agar manusia tidak berbuat di luar batas-batas kemanusiaannya. Saya sekeluarga memilih Islam sebagai
agama yang akan mengatur hidup saya, maka sudah sepantasnya saya taat dan patuh terhadap aturan-aturan yang sudah ditetapkan dalam agama saya. ”
“Dalam Islam suami adalah imam, sebagai penentu dalam keluarga kemana arah keluarga itu di bawa. Laksana kapal suami adalah nahkoda dalam rumah tangga, yang akan membawa seluruh awak dan penumpangnya berlayar. Dia mampu untuk membelokkan arah kapal dan tahu kapan dan dimana akan merapat. ” Papa menarik nafas dalam sebelum melanjutkan, “ Itulah sebabnya mengapa perempuan muslim tidak diizinkan menikah dengan laki-laki non muslim. Perempuan harus patuh terhadap suami, begitu Islam mengajarkan. Jika seorang wanita menikah maka ia adalah hak penuh suaminya. Orang tuanya sama sekali tidak punya hak atas dirinya jika suaminya seudah memutuskan sesuatu untuknya. ”
“Seorang istri tidak boleh membantah dan membangkang kepada suaminya. Hal inilah yang dikhawatirkan, perempuan itu akan menjadi murtad (berpindah agama) setelah menikah, karena ikut dengan suaminya. Sementara perbuatan murtad itu adalah dosa besar dalam agama kami. Berbeda halnya bila laki-laki itu muslim dan menikah dengan wanita non muslim. Kekhawatiran itu tidak ada, karena laki-laki lebih kokoh memegang prinsip. Tidak seperti wanita yang mudah terbawa perasaan. Perasaan cintanya kepada suaminya akan dengan mudah baginya meninggalkan keyakinannya. ” Jelas Papa panjang lebar dan dengan harapan Li mengerti.
Li yang sedari tadi diam mendengarkan dan berusaha memahami apa yang disampaikan Papa Tri, mulai membuka suara.
“Om, tentunya saya sangat memahami sekali apa yang disampaikan Om. Saya mengamini semua kebenaran yang ada dan saya sangat mendukung sekali kebenaran itu. Bila demikian kebenarannya, maka saya
percaya, sebenarnya tidak akan menjadi
masalah besar kalau kami menikah dan tetap hidup sesuai keyakinan masing-masing. Sebab saya akan sepenuhnya mendukung dan menjaga Tri dalam keyakinannya. Saya jamin, Om! Saya tidak mungkin menghianati hati saya dan dikemudian hari akan mempengaruhi Tri untuk ikut keyakinan saya dan kemudian menjadi murtad. Dosa besar saya, Om!”
Papa berkata dengan nada khawatir,”Tapi, Nak Li, masalahnya pasti semudah itu!”
“Om, segalanya akan menjadi mudah, kalau manusianya mau memudahkan dan bukannya mempersulit. Bagi saya dan Tri, tentulah bukan masalah, karena kami saling mendukung sekali dalam masalah
keyakinan. Saya berjanji akan menjaga Tri agar menjadi muslimah yang solehah dan tetap dalam keislamannya sampai akhir hayat. Tentu saja saya sangat berharap Tri bisa masuk surga nantinya! ” Begitu semangatnya Li menyampaikan isi hatinya.
“Tapi Nak Li . . .”
Part.9
Malam kian larut, hawa malam terasa semakin dingin sama sekali tidak dirasakan tiga orang yang tengah serius berdiskusi di ruang tamu di rumah Tri. Kopi panas masih mengepulkan asapnya yang menebar aroma khas. Ubi rebus yang tadi sempat disuguhkan Tri satu-persatu mulai berkurang dari wadah keramik berwarna putih itu.
Diskusi masih alot, kedua pihak masih saling berusaha mengeluarkan pendapatnya masing-masing. Meskipun begitu tidak ada pihak yang terlihat tersinggung karena keduanya sama-sama mampu untuk saling menghargai.
Sementara itu, di ruanga keluarga Tri berkali-kali menepis rasa kantuk yang mulai menyerang. Penasaran yang begitu kuat untuk mengetahui hasil pembicaraan itu mencegahnya untuk tidak dulu memejamkan mata.
Mendengar penjelasan Papa yang panjang lebar, Tri nelangsa. Hatinya diliputi kebimbangan luar biasa berbaur antara perasan cinta yang begitu besar dan takut dosa bila ini adalah keputusan salah. Tri menitikkan air matanya.
Dalam diam yang mencekam hatinya ia berdoa kepada Tuhan.”Tuhan, bukakanlah pintu petunjukMu bagiku. Tunjukkanlah aku ada kebenaran sejati. Engkaulah si pemilik Kebenaran itu. ”
Komat kamit bibir Tri bertutur pelan. Tri memejamkan matanya yang mulai perih menahan kantuk. Suara Tri berbicara di ruang sebelah membuat hatinya bergetar hebat.
“Li, begitu kuatnya cintamu terhadapku. Jika akhirnya takdir tidak mempertemukan kita dalam ikatan jodoh ini aku bertanya padamu.
Apakah kau sanggup menapaki hari tanpa aku di sisimu? Jujur Li, jika itu benar terjadi aku tak sanggup. Sama sekali aku tidak mampu berdiri dengan kokoh tanpa cinta darimu yang menyangga tubuhku, ” Tri berbisik dalam hatinya.
“ Li, aku tidak ingin hatiku retak, dan goresannya melukai seluruh jiwaku. Jika kau tak ada maka hatiku akan remuk berkeping-keping. Mungkin kau masih akan kuat Li, karena ku yakin kau pria yang tegar. Di sekelilingmu masih ada wanita-wanita cantik dan pintar yang menanti cintamu. Kau bisa memilih salah satu dari mereka. Mungkin si imut Ita, atau si feminine Tyas atau si cantik Zaza. Atau si manis Fera atau si indo Claire itu.
Siapapun Li kau bisa memilikinya!
Ahh..mengingat wanita-wanit itu aku?cemburu, Li. Hatiku sungguh tak rela jika kau harus pergi dengan salah satu diantaranya.
Aku ingin tetap menjadi milikmu, Li, selamanya dalam hidupku. ”
***
“Tapi, Nak Li …! Suara Mama memecah lamunan Tri. Lalu ia kembali fokus mendengarkan pendapat Mama. “Sebagai Ibu, saya memang keberatan Nak Li, maafkan saya! Bagi saya mendengar semua penjelasan Nak Li sungguh sangat meyakinkan. Betapa besarnya cinta Nak Li kepada putri kami. Saya berterimakasih untuk itu. ”
“Namun, sebagai seorang Ibu dan seorang muslimah saya wajib menjaga anak saya dari berbuat sesuatu yang melanggar syariat. Agama Islam meninggalkan dua pusaka untuk kami berpedoman menjalani hidup, yaitunya Al Qur’an dan Sunnah. Segala sesuatunya telah diatur dengan sangat jelas di dalamnya. ”
Li dengan sabar mendengar apa yang disampaikan oleh Mama Tri tanpa berusaha membantah atau memotong pembicaraan.
Sementara Papa Tri terlihat mulai menahan kantuk.
“Mulai dari hal-hal yang paling kecil sampai pada masalah besar sekalipun. Semua tertera dalam Al Qur’an dengan sangat terang. ”
“Hal kecil misalnya yang diatur adalah, pada saat seorang bayi lahir ke dunia, Bapaknya harus mengumandangkan azan di telinga anak lelaki yang baru lahir itu. Jika yang lahir adalah bayi perempuan maka Bapaknya harus mengumandangkan Iqamat. Itulah kalimat pertama yang harus didengar sorang bayi mungil dalam agama kami, kalimah Tauhid. Hanya orang Islam yang bisa melakukannya. ”
“Saya percaya bahwa penguasa hati manusia adalah Tuhan. Tuhanlah Yang Maha membolak balikkan hati. Kita sama sekali tidak mengetahui apa yang akan terjadi nanti dan juga sama sekali kita tidak punya pengetahuan tentang masa depan itu.”
Sementara Mama Tri terlihat masih begitu semangat menyampaikan isi hatinya.
“Kita tidak bisa katakan kepastian bahwa nanti Tri tidak akan berpindah agama. Bukan karena saya meragukan kesungguhan Nak Li untuk tetap menjaganya. Bukan..Bukan itu! Tetapi saya tetap tidak mampu melepaskan anak saya kepada seorang lelaki Non muslim. Karena agama memang jelas-jelas melarangnya. ”
“Nak Li, Om setuju dengan pendapat Mamanya Tri. Maaf, bila hal ini mengecewakan hati Nak Li! Sebenarnya kami tidak bermaksud demikian sama sekali. Tidak!” Papa Tri sedikit menambahkan.
Sambil menggeleng kepalanya dengan perlahan, Li menarik nafasnya dalam-dalam. Li terlihat memendam kekecewaan yang sangat. Papa Tri yang duduk didekatnya berusaha menghibur dengan menepuk bahunya.
“Nak Li, kami doakan kelak akan mendapatkan jodoh yang sepadan.” Demikian suara Papa Tri menghibur diiringi anggukan Mama Tri.
Sesungguhnya Li ingin berteriak dan mengeluarkan isi hatinya yang terpendam. Namun ia rasa sudah percuma untuk meyakinkan kedua orangtua Tri.
Sambil bangkit berdiri Li berkata,” Om dan Tante, saya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Walaupun berat dan kecewa, tetapi saya harus berjiwa besar menerima keputusan ini! Kalau begitu, Om dan Tante silakan istirahat dahulu. Hari sudah larut, maaf telah mengganggu waktu istirahatnya.”
Ingin rasanya Li menangisi apa yang terjadi, namun sekuat tenaga ia menahan diri.
Sesungguhnya dalil-dahil agama yang disampaikan kedua orangtuanya Tri, banyak menimbulkan pertanyaan di benaknya.
Sebab sebelum Li pernah bertukar pikiran tentang masalah ini dengan seorang temannya yang sedikit banyak mengerti tentang agama.
Dimana temannya mengatakan, bahwa sah-sah saja perkawinan beda agama itu. Yang jelas-jelas haram itu hanya korupsi!
Kelakar temannya ketika itu.
Demikian juga Li pernah membaca tulisan tentang perkawinan beda agama suatu ketika dimana ada cendekiawan yang tidak mempermasalahkan.
Bagaimana dengan perasaan Tri, ketika tahu keputusan kedua orangtuanya, karena terlalu lelah, Tri tertidur pulas di sofa! [sebelumnya | selanjutnya]
Disalin oleh: Chen Mei Ing
