Rabu, 06 April 2011

SATU CINTA DUA AGAMA (4-6)

CERBUNG: Ketika cinta harus memilih, diantara pilihan hati, keimanan, dan keadaan. apa yang akan terjadi? Tri menikmati kesendirian perjalanannya antara gembira bercampur, dengan dua kerinduan yang berbeda. Kendaraan yang ditumpangi terus melaju, walaupun lelah Tri tak sedikitpun memejamkan matanya. Antara wajah Li dan kedua orangtuanya selalu membayang di pelupuk mata. Akhirnya perjalanan itupun tanpa terasa telah membawanya sampai di kampung halaman yang masih asri. Meskipun sudah bertahun-tahun ia meninggalkan desa ini. Ia masih sangat hafal semuanya.

Tak ada satupun yang terlewatkan oleh pandangan Tri. Hamparan sawah dengan padi mulai menguning sepanjang jalan, sebentar lagi sepertinya akan bisa dipanen. Tri tersenyum sendiri, ia bangga dengan desanya yang sangat subur.


Menyejukkan setiap mata yang memandang. Rasa penasarannya untuk bertemu keluarga semakin kuat menjalari. Rumah sederhana, bergaya tahun 80an masih kokoh berdiri. Cat rumah itu sekarang berwarna putih, halamannya yang luas dan aneka tanaman sayur dan buah ada di samping dan belakang rumah itu. Tak Berapa jauh dari situ hamparan sawah penduduk membentang menambah kesejukan nan menentramkan.

Masih seperti dulu, tidak ada yang berubah. Pikir Tri. Dengan hati riang bercampur rindu Tri melangkahkan kaki memasuki halaman itu. Rumahnya terlihat bersih dan rapi, walaupun bukan rumah mewah, namun perasaan Tri sangat nyaman memasukinya.
“Bunda Triiii …!” Suara keponakan Tri menyambutnya dengan sangat bahagia. Tri memeluknya dengan sayang, gadis kecil itu sekarang sudah terlihat remaja.

“Bulan…! Bulan sudah besar sekali. ” Tri memeluk keponakan kesayangannya itu, mereka berpegangan tangan masuk ke dalam rumah.

Mama dan Papa juga sangat bahagia dengan kepulangan Tri, anak sulung mereka yang selalu diharapkan kedatangannya dari waktu ke waktu. Tri mencium keduanya dengan penuh rindu dan hormat. Memeluk dan melepaskan segala kerinduan yang ada. Saat-saat yang sudah jarang bisa ia lakukan. Tri membuka tasnya, mengeluarkan oleh-oleh yang sudah disiapkannya untuk semua anggota keluarga. Rumah itu jadi terasa hangat dan bersahabat sekali, tetangga-tetangga yang melihat kedatangan Tri juga berdatangan.

Mereka semua bergembira. Melaporkan banyak cerita yang terjadi selama Tri tidak ada. Tri menikmati suasana kekeluargaan itu. Suasana damai yang selalu membuatnya rindu pulang. Di rumah itu menjadi seperti sebuah pesta kecil saja. Semua bergembira dalam kebersamaan.

***
Udara pagi sangat dingin sekali, apalagi buat Tri yang sudah biasa tinggal di kota. Ia sampai menggigil. Hawa sejuk pedesaan itu membuat Tri betah berlama-lama tinggal di sini, serasa tidak ingin kembali lagi ke Jakarta. Lebih sempurna lagi bila Li bisa menemani. Tri menerawang jauh.

“Ko, ahh..! “ Dia ingat lagi pada kekasihnya itu. “Suatu saat Koko harus ke sini, dan merasakan sendiri bagaimana sejuknya udara pagi di desa ini.” Tri tersenyum-senyum membayangkan jika saat itu benar-benar ada.

“Koko pastilah tidak akan kuat menahan dingin, berkali-kali akan minum tolak angin dan pastilah Koko akan sering-sering minta dikerokin!” bisik Tri.

Tri membiarkan saja tubuhnya dibelai udara pagi yang dingin. Ia ingin menikmati kesegarannya. Pagi baru saja menjelang, Tri terus melangkahkan kakinya, menyusup diantara kabut-kabut yang mengandung embun.

Tri tertegun diantara hamparan sawah yang masih menghijau, pemandangan itu mengingatkan pada masa kecilnya dulu. Tri seringkali menemani Papa ke sawah, berlarian di atas pematang . Pernah Tri tergelincir dan jatuh masuk ke dalam sawah.
Kakinya kotor penuh lumpur, Papa tidak marah hanya berkata,
“Hati-hati Tri, jangan berlari, pematangnya kan kecil!” Begitu papa mengingatkan.

Masa-masa itu adalah masa yang indah, dimana Tri bisa tertawa lepas dan bebas tanpa beban berat yang menggayut. Kini semuanya berbeda, Tri telah dewasa, usianya 28 tahun sudah. Ia harus bertarung keras berjuang untuk kebahagiaannya.

Dihadapkan pada dilema cinta yang rumit ini sempat membuat Tri rapuh dan kehilangan gairah. Tetapi karena Li selalu memberinya semangat, Tri akhirnya tidak menyerah begitu saja, hingga sampai sekarang mereka masih menjalin cinta itu. Cinta yang bagi sebagian orang adalah tabu untuk diteruskan. Sulit sekali mengurai persoalan cintanya bersama Li. Jika saja mereka satu keyakinan mungkin tidak akan serumit ini dan tidak dihantui perasaan-perasaan tidak nyaman dan bimbang.

“Mengapa cinta kami yang sama tidak dapat bersatu, karena agama kami yang berbeda?!” Seru Tri dalam hati.

“Tri. . . , sarapan dulu ya?! Suara Mama mengejutkan Tri yang sedang dalam angan-angan di beranda rumahnya setelah puas memandangi persawahan.

“Iya, Ma, sebentar lagi Tri belum lapar!” Suara telepon kesayangan Tri berdering, segera ia meraihnya. Suara yang dirindukannya terdengar,

“Halo, Tri, Uniku sayang! Bagaimana perjalanan dan tidurnya?” Ah, tumben sekali, Li kali ini bersikap mesra dan memanggil Tri pertama kalinya dengan Uni. Ini pasti gara-gara kebanyakan makan masakan Padang.

“Baik-baiklah Ko, lancar semuanya! Koko bagaimana? Sukses pertemuannya?”

Senyum berkembang di wajah Tri. Tri dan Li, selanjutnya melepaskan kerinduan mereka dalam derai tawa.

***
Sehabis sarapan pagi itu, Papa dan Mama memanggil untuk membicarakan sesuatu hal. Sepertinya serius.

“Tri, kamu sudah dewasa, seharusnya untuk usiamu pantasnya sudah menikah dan kami sudah bisa memomong cucu!” Mama membuka suara dan langsung ke pokok persoalan.

“Lagipula hubunganmu dengan Nak Li, sepertinya tidak bisa dilanjutkan, karena masalah keyakinan.
Kebetulan sekarang kamu ada di rumah dan kami bermaksud memperkenalkan Ramli sebagai calon suamimu, nanti malam!” Papa yang berada disamping Mama menambahkan. Tri terperangah dan tak percaya. “Mama dan Papa hendak menjodohkan, Tri? Ma, Pa, Tri ini sudah dewasa dan bisa mencari pendamping hidup sendiri!”

“Tri, bukan kami hendak menjodohkan, tapi memperkenalkan. Siapa tahu kamu cocok dengan Ramli?! Dia kan teman lamamu juga. Teman sekelas sewaktu SMA dulu. Orangnya baik dan soleh!” Mama kembali mengingatkan.

“Ramli? Ramli yang mana, Ma?” Tri masih penasaran.

“Nanti kamu juga tahu sendiri!” Kali ini Papa yang bicara.

“Ah, apalagi ini? Sekarang ada Ramli, belum lagi Rizal!” Begitu Tri mengeluh dalam hati. Tri pulang kampung untuk menenangkan hati, yang ditemukan justru persoalan baru.

***
“Tri ayo siap-siap, sebentar lagi Nak Ramlinya mau datang, dandan sedikit kenapa!” Suara mama mengagetkan Tri.

“ Ya Ma, bentar” jawab Tri acuh. “Tri masih asyik dengan handphonenya, jari-jari lentiknya cepat sekali menari di atas keypad. Sementara senyumnya begitu indah menghias bibirnya.

“Sms siapa sih…? Serius sekali pakai senyum-senyum segala. Dari tadi belum selesai-selesai juga?” Mama kembali bertanya.

Tri hanya tersenyum geli, “Siapa lagi kalau bukan Koko Ma? “ Jawab Tri dalam hati.

Tri mengulum senyumnya. Meskipun jauh Tri merasa sangat dekat dengan Li.
Karena hampir setiap saat Li menghubunginya, meskipun hanya lewat sms singkat sekedar menanyakan kabar. Perhatian-perhatian kecil Li itulah yang membuat Tri sangat mencintai kekasihnya.

Tri mengganti juga pakaiannya, berdandan seadanya saja. Malam itu Tri tetap terlihat cantik dengan rok ungu senada dengan baju biru keunguan. Semakin anggun dengan jilbab sorong polos berwarna sama. Tri enggan ikut makan malam bersama, tapi Tri tidak ingin keluarganya kecewa. “Apa salahnya, anggap saja silaturrahmi” bisik Tri pada dirinya.

Ternyata mama benar, Ramli teman satu SMA nya dulu. Ramli anak yang baik, dulu mereka sempat satu kelas di kelas satu. Kemudian untuk tahun-tahun berikutnya mereka berpisah, karena Tri masuk ke jurusan IPA sedangkan Ramli di kelas Bahasa. Ramli jago menulis, dan sepertinya sekarang dia sudah menjadi seorang penulis terkenal.

Ramli cukup istimewa, tutur katanya lembut dan santun. Wajar saja kalau mama dan papa tersentuh oleh sikapnya yang sangat sopan itu. Makan malam itu berjalan hangat, Tri bisa memecahkan suasana kaku yang sempat tercipta. Akhirnya Ramlipun tidak sungkan lagi untuk bicara. Mereka terlibat percakapan basa-basi. Tentang kegiatan masing-masing saat ini dan sedikit bernostalgia tentang masa SMA.

Makan malam itupun usai. Ramli pulang dengan perasaan bahagia. Di hatinya telah menggantung sebuah asa akan bisa menaklukkan hati Tri. Sementara Tri semakin menjadi gelisah dan bingung dalam dilema percintaannya ini, apa yang terjadi esok hari?

Part.5

Tri masuk ke kamarnya, tanpa membahas apa-apa hasil makan malam itu bersama keluarganya. Tri diam seribu bahasa dan kehilangan selera. Sama sekali makan malam yang baru saja berlangsung tidak meninggalkan kesan istimewa di hatinya, selain hanya bernostalgia bertemu sahabat di masa lalu.

Sudah pukul 21.00 wibb. Tri ingin tidur dan melupakan saja semua peristiwa yang silih berganti menguji cintanya. Tri duduk dengan hati galau di bibir tempat tidur. Baginya cinta yang ia bina bersama Li adalah cinta sejati. Cinta yang tercipta bukan karena desakan nafsu. Cintanya adalah cinta yang disatukan karena hati mereka yang satu. Tri begitu yakin bahwa Li adalah pelengkap dan penyempurna tulang rusuknya.

Tri sama sekali tidak percaya kalau cinta itu buta, sebab cintanya dengan Li mampu melihat perbedaan yang ada diantara mereka. Dan mereka bisa saling setia menjaga perbedaan itu. Mengapa mereka salah karena ingin menyatukan cinta itu dalam satu ikatan perkawinan yang abadi?.

Tri mengambil lagi hp nya, dan menekan satu nomor. “Malam sayang.., apa kabarmu?” Suara di seberang menyapanya dengan hangat, Tri tidak bicara apa-apa. Hanya diam, membiarkan kekasihnya memberondongnya dengan berjuta pertanyaan. Rasanya Tri ingin menangis, ia butuh Li saat- saat seperti ini. Ia merasa tidak kuat dan lemah.

“Ayo bicara, ada apa? Aku merasa ada sesuatu yang kamu sembunyikan, Tri! Kamu mau dijodohkan kah?” Suara Li kembali menyapanya dan menduga dengan tepat. Begitu sehatinya mereka, soal yang tidak terucap di bibirpun mampu dibaca oleh hati kekasihnya. Tri benar-benar ingin menangis memikirkan nasib cintanya kini.

“Tidak ada apa-apa, hanya ingin mendengar suara Koko saja.” Dengan lemah Tri menjawab. Air bening itu menggenang juga di bola matanya, sekuat tenaga Tri menahannya agar tidak jatuh. Tri tidak ingin kekasihnya gelisah saat dia tahu ia kini tengah menangis. Li tidak mau Tri menjadi wanita yang cengeng, Tri berusaha agar tetap terdengar tegar oleh kekasihnya di seberang.

“O ya, ya udah kalau begitu.., istirahat saja dulu. Mungkin kecapean.” Sambung Li tidak berusaha mendesak dan mencoba memahami keadaan kekasihnya.
“Iya, selamat malam, Ko.., sayangku untukmu !” Dengan berat ia matikan hp itu. Padahal sebenarnya banyak hal yang ingin ia sampaikan pada kekasihnya itu. Ingin menumpahkan segala uneg-uneg yang mengganjal.

Tri merebahkan tubuhnya di kasur empuk di kamarnya. Kamar yang dulu selalu ditempatinya saat masih tinggal di sini. Tempat tidur mungil berukiran bunga mawar berwarna putih, sekarang sudah agak menguning, karena sudah lama ditinggalkannya.
Lemari berukuran cukup besar berwarna senada dengan tempat tidurnya.
Semuanya masih seperti dulu, terpajang di tempat yang sama. Mama tidak akan memindahkannya, karena biasanya Tri lah yang suka menggonta ganti tempat saat ia telah bosan dengan suasana.

“Oh, Tuhan, aku hanya ingin Li yang menjadi pendamping hidupku, bukan yang lain, karena ia adalah belahan hatiku. Kami adalah sehati yang tak mungkin untuk terpisahkan!” Hati Tri berseru!

Tri belum puas berseru, “Jangan ambil kebahagiaan kami. Agama dan suku kami memang berbeda, tapi darah dan hati kami adalah sama. Cinta kamipun sama warnanya! Tolong, Tuhan, ajari aku untuk memahami! Apakah perkawinan beda agama itu karena kehendakMu atau karena kepicikan manusia?”

Berjuta pertanyaan menyerangnya tanpa henti. Tak sekejappun matanya bisa terpejam. Tri kembali duduk, beranjak ke kamar mandi. Ia berwudhu dan shalat dua rakaat. Dalam heningnya malam Tri bersimpuh di hadapan Tuhannya. Mengeluhkan segala beban berat yang dipikulnya. Tanpa malu Tri memohon petunjuk kepadaNya yang Maha Memberi Petunjuk, memohon hidayah dan rahmatNya.

Air mata luruh di pipinya, dengan tersedu ia menangis dalam doanya yang panjang. Tri sepenuhnya menyadari tiada daya dirinya untuk menghentikan semua kecamuk dalam jiwanya.

“Tuhan, Aku tahu dan percaya Engkau Benar, JanjiMu benar NabiMu benar dan agamaMu benar, Maka tunjukkanlah aku kebenaran itu. Jika pilihanku ini adalah benar maka mudahkan jalannya bagiku. Dan jika menurut Engkau ini salah maka tuntunlah aku, agar bisa keluar darinya dengan cara terbaik. Bukankah segala urusan itu bagiMu sangatlah mudah.”

“Tuhan Rezki, jodoh dan maut itu adalah ketentuanMu. Aku hanyalah manusia bodoh yang tidak tahu apa-apa dan tiada pula aku puya kekuasaan atasnya. Engkaulah yang Maha Tahu segala-galanya. KepadaMu aku bertanya, kepadaMu aku meminta. Aku hanya menjalankan semua ketentuan yang telah Engkau gariskan, sekuat tenaga aku berusaha mendapatkan semua keinginanku. Namun Engkaulah yang menentukan segalanya. Berikanlah aku kekuatan agar aku tabah menjalani cobaan ini.”

Entah berapa lama Tri bermunajat kepada Sang Khalik, sampai mengering air matanya. Ketentraman mulai menyusup ke dalam relung hatinya, bisikan-bisikan nuraninya mulai sanggup ia dengar. Begitu banyak suara-suara hati yang menguatkannya. Hingga akhirnya ia tersenyum menutup doa malamnya. “ Tuhan kuserahkan hidup dan matiku kepadaMu. Engkaulah pemilik hati dan jiwa ini, Engkau yang Maha membolak-balikkan hati. Berikan ketetapan hati kepadaku agar tidak salah aku memilih.”

Akhirnya Tri tertidur juga dalam perasaan damai, malam itu ia bermimpi bertemu kekasihnya bersanding di pelaminan. Semua bagaikan nyata. Betapa bahagianya Tri. Begitu banyak tamu undangan yang hadir untuk turut merasakan kebahagiaannya. Tri dan Li benar-benar menjadi raja sehari. Namun saat terbangun, pesta telah usai dan kebahagiaanpun lenyap seketika.

***
Tanpa diduga, entah angin apa hari itu Tri kedatangan tamu yang tak diundang.
Saat hatinya galau, Rizal berkunjung. Spesial untuk mengambil hati Tri, sepertinya.

“Apa kabar, Tri? Kebetulan aku sedang lewat sehabis ada keperluan di tempat saudara!” Rizal beralasan atas maksud kedatangannya.

“Oh, begitu?” Tri menanggapi dengan enggan. Namun karena Rizal adalah tamu, mau tidak mau Tri harus melayani. Apalagi kedua orangtuanya sedang ada keperluan keluar.
Tri menerima Rizal di beranda rumah dengan pemandangan pohon-pohon yang rindang.

“Apakabarnya setelah liburan di kampung, Tri?” Rizal bertanya dengan penuh simpati.

“Baik!” Suara Tri terdengar pelan tanpa menoleh.

“Lumayanlah melepaskan kerinduan dan penat. Aku merasakan hal yang sama. Bisa pulang kampung benar-benar memberikan energi yang lebih!” Rizal begitu semangatnya berbicara.

“Oh ya, orangtuamu mana, Tri?” Tanya Rizal saat merasakan rumah Tri yang sepi senyap.
Duduk dalam pikiran yang melayang Tri menjawab sebisanya,”Ada keperluan keluar rumah!”
Sebenarnya Tri ingin cepat-cepat meninggalkan Rizal bila ada orangtuanya yang menemani.

Tapi . . .
Hp dalam genggaman Tri berdering dan hatinya langsung terasa riang.
“Halo, Koko Li, lagi dimana? Kapan datang menjemput aku dan bertemu kedua orangtuaku disini? Haaa?! Apaaa??? Kamu sedang dalam perjalanan kesini dan sudah mau sampai?” Tri antara gembira dan kaget mengetahui bahwa Li sedang menuju ke rumahnya. Pasti Li ingin membuat kejutan atas kedatangannya yang diluar rencana.

Lalu???

Part.6

“Kejutan! Li, kekasihmu mau datang kemari, Tri ? Mau melamar kamu?” Rizal bertanya karena memang mendengar pembicaraan Tri dengan kekasihnya barusan.

Belum sempat Tri menjawab, Rizal sudah meneruskan seakan tidak memahami perasaan Tri yang sedang berkecamuk, “Baguslah, sekalian aku bisa berkenalan !”

Ingin rasanya Tri mengusir lelaki itu, karena tak ingin saat kedatangan Li terjadi salah paham. Tapi ditahannya juga hatinya agar tidak menyinggung perasaan pria usil satu ini. Tri menghembuskan nafas kesal, apa boleh buat jika Rizal tidak punya rasa biarlah ia tetap di sini. Tri juga sangat yakin Li pasti lebih bijak dan berbesar hati menerima Rizal sebagai teman barunya. Karena Li orang yang supel dan suka membina hubungan dengan banyak orang.

Sepertinya Rizal memang sedang tak patah semangat untuk terus mengejar Tri. Sekilas Tri memperhatikan wajah lelaki di depannya . Rautnya cukup tampan dengan penampilan yang menarik. Tapi tetap tidak mampu mengalahkan Li dimata Tri.

Walaupun ia tahu Tri telah memiliki kekasih hati. Namun iapun mengetahui keadaan yang dihadapi Tri dengan Li yang hubungannya tidak mendapatkan restu dari orangtua Tri.

“Tri, bapak kapan pulang ya! Aku ingin bertemu dan berkenalan !” Rizal mencoba membuyarkan lamunan Tri.

“Entahlah ! Mungkin sebentar lagi, ” jawab Tri dengan enggan, sebab pikirannya sedang tertuju pada Li. Ia juga tengah bingung memikirkan bagaimana pertemuan Li dengan kedua orangtuanya nanti.
*

Di dalam kendaraan yang ditumpangi yang akan mengantarnya menuju ke kampung Tri, Li tersenyum dan geli sendiri. Ia ingat kejadian kemarin, saat ia memanggil kekasihnya yang orang Padang itu dengan “Uni”.

Bukankah panggilan Uni itu adalah panggilan sama dengan kakak? Sedangkan Tri sudah memanggilnya dengan sebutan “Koko” yang artinya kakak juga!

Setelah berbincang-bincang dengan seorang penumpang yang asli orang Sumatra Barat, Li baru mengetahui seharusnya Li memanggil Tri itu dengan “Adiak” untuk panggilan kepada seorang adik.

Ya, Adiak atau cukup diak saja! Li selanjutnya ingin memanggil Tri dengan panggilan sayang “Adiak” saja, sebagaimana Tri sudah memanggilnya dengan “Koko”, panggilan untuk kakak bagi orang tionghoa.

Li kembali menerawang, betapa bahagianya ia bisa sampai di Daerah Minang Kabau ini. Negeri nan elok, berbudaya dan taat memegang Islam sebagai agama. Dengan falsafah hidup yang mereka pegang Adat basandikan syarak. Syarak basandikan kitabbullah.

Meskipun tidak terlalu banyak yang diketahui Li tentang negeri yang indah ini. Ia sedikit tahu bahwa masyarakat Minang menganut system matriliner (garis keturunan dari Ibu), berbeda dengan daerah-daerah lainnya di Indonesia yang menggunakan sistim patriliniar (garis keturunan Bapak).

Li juga mengenal tokoh-tokoh besar yang pernah dilahirkan dari sini. Seperti Muhammad Hatta, yang selalu dikenang dengan kesederhanaan dan kedisiplinan beliau. Adalagi Mohammad Yamin dan Mohammad Natsir, Sutan Syahrir dan Tan Malaka yang merupakan para politikus hebat dan pahlawan-pahlawan besar. Serta Buya Hamka sebagai tokoh agama dan ulama besar yang melahirkan banyak sekali karya-karya sebut saja salah satunya adalah “Robohnya Surau Kami”,

Tidak hanya pahlawan pria, Pahlawan perempuan juga banyak terlahir dari tanah Minang ini. Seperti pejuang hak-hak perempuan Rasuna Said. Aktivis, penulis, wartawati pertama Indonesia dialah Rohana Kudus. Dan masih banyak tokoh-tokoh besar lainnya yang tercatat dalam sejarah.

Li kini bertanya apakah nilai-nilai luhur dan kebersahajaan pahlawan-pahlawan besar itu, yang telah mereka warisi dengan meninggalkan nama besar dan begitu banyak jejak sejarah bagi masyarakat Minang masih melekat dan menjadi panutan bagi generasi muda Sumatera Barat saat ini?.Ahh…entahlah Li tidak tahu, tidak ingin juga menduga-duga.

Li tersenyum lagi, dia semakin semangat ingin menjadi bagian dari daerah ini. Tentu saja saat ia telah direstui menikahi Tri. Li memejamkan matanya, setiap ingat wajah kekasihnya hatinya selalu bergetar. Li membayangkan kekasihnya yang baik dan manis itu. Serasa selalu ada dalam dekapan, walaupun jarak memisahkan.

Bagi Li Tri adalah belahan jiwanya yang tak mungkin dapat dipisahkan oleh ikatan sebuah jodoh kehidupan. Li tahu hidupnya baru akan lengkap bila ia telah bisa bersatu dengan belahan jiwanya itu. Sejak pertemuan pertama sekian tahun yang lalu ia sudah meyakini getaran hatinya senada dengan Tri.

Li dalam tekadnya merasa memiliki kekuatan akan mampu untuk dapat meyakinkan orangtua Tri.Li, percaya perbedaan-perbedaan yang ada diantara dirinya dengan Tri, bukanlah persoalan karena mereka memiliki cinta yang sama. Hati dan perasaan yang sama.

Buat Li semua ini adalah rintangan dan bukit terjal yang harus ia daki, bukan hanya dengan semangat. Tetapi juga harus dengan keyakinan yang kuat dan tidak boleh putus asa memperjuangkan cinta mereka yang tulus dan murni. Li tidak ingin sedikitpun mengeluh dalam dilema cinta yang sedang dihadapinya saat ini dengan Tri yang cukup menguras pikiran mereka.

*
Sementara itu Tri juga yakin, Li pasti datang untuk berbicara dan meyakinkan tentang hubungan mereka dengan orangtuanya. Tri memiliki harapan dan kekuatan akan hubungannya dengan Li akan terus bertahan sampai ke pelaminan.

Hampir setengah jam lebih setelah Li menghubunginya, akhirnya Li sampai juga di desanya. Li tidak mengalami kesulitan berarti untuk menemukan rumah Tri. Karena Tri telah menggambarkan dengan sangat jelas.

Dari kejauhan Li dapat melihat Tri sedang bersama seorang pria. “Siapakah dia?” Begitu tanya hati kecil Li. Ah, tapi Li segera mengusir pikiran negatif dari otaknya.

Rizal masih enggan beranjak dari rumahnya. Dengan hati yang tak fokus Tri melayani pembicaraan Rizal seadanya. Tetapi Rizal tetap bersabar dengan sikap Tri. Semangat empat lima, maju tak gentar memburu cinta wanita.

“Selamat siang..!” Suara seseorang mengagetkan mereka berdua yang tidak menyadari kehadiran seseorang diantara mereka.

Tri segera berdiri hampir saja ia menghambur kepelukan Li untuk menyambut kekasihnya itu. Cepat-cepat ia tersadar dan merasa itu tidak baik, bukan hanya karena Rizal berada diantara mereka tapi juga agama Tri tak membolehkannya.

Diam-diam melihat ekspresi bahagia Tri, Rizal merasakan sebuah kecemburuan. Ia seakan tak rela Tri dimiliki lelaki itu. Padahal kalau dipikir, Tri bukanlah kekasihnya. Rizal merasa selama ini ia sudah begitu memperhatikan dan berusaha mendekati Tri. Sayangnya Tri tidak menggubris dan menyadari ternyata Rizal telah jatuh cinta padanya selama mereka berhubungan di Jakarta.

“Koko …,” setengah berteriak dengan ekspresi kebahagiaan yang tak sanggup tersembunyikan Tri berdiri. Tri mengajak Li naik ke teras tempat ia dan Rizal tengah berbincang.?

“ Ko, kenalkan ini Rizal, temanku. Orang Padang juga, tapi aku mengenalnya di Jakarta di organisasi mahasiswa Minang.” Tri mencoba menjelaskan. Kemudian memperkenalkan,“ Ini Koko Li, Rizal . ” Li mengulurkan tangannya, dengan senyum ramah ia menjawab,“Hallo Rizal, senang bisa bertemu anda di sini. ” Ucap Li tulus. Rizal menyambut tangan Li dengan senyum sinis.?

Terlihat sekali Rizal tidak menyukai Li. ?Dalam hatinya berpikir, Li adalah hambatan baginya untuk dapat memiliki Tri selamanya.

Tak lama berselang kemudian, orangtua Tri pulang juga. Tetapi mereka tidak berdua, namun bersama seorang pria lagi. Ramli, pria itulah yang diharapkan kedua orangtuanya untuk mempersunting Tri.

**

Siang itu rumah Tri jadi ramai, kedatangan tamu-tamu penting. Apalagi mereka semuanya adalah orang-orang yang tengah berusaha mendapatkan hati Tri.Tri menyiapkan makan siang keluarga hari itu. Bersama mereka duduk satu meja, makan masakannya sendiri yang langsung dicicipi para penunggu cintanya.

Hangat sekali suasana di di meja makan, masing-masingnya bisa menempatkan diri. Apalagi Papa. Tri bangga dengan sikap Papa dan Mama, yang begitu welcome terhadap semua tamu-tamunya. Mereka terlibat perbincangan ringan yang akrab. Tri tidak banyak ikut nimbrung di pembicaraan itu, cukup mendengar dan menyimak saja.

Setelah makan siang, Tri juga menyuguhkan pisang dan buah jeruk sebagai makanan penutup. Itu yang ada di kampungnya, dengan senang hati semua menyantapnya. Setelah sedikit berbasa-basi Rizal mohon pamit pulang. Tak lama Ramlipun menyusul. Tri mengantar mereka keluar.

Sesaat hening di ruang tamu. Papa mungkin kikuk untuk memulai pembicaraan dengan Li. Li menangkap kesan itu di wajah Papa Tri. Dia mulai mengeluarkan jurus jitunya.

“Udara di sini sejuk ya Om?” Li memulai bicara “berbeda sekali dengan Jakarta.”

“ Iya, di sini lebih adem..o ya, gimana perjalanan Nak Li tadi? Menyenangkan?” Papa mulai beradaptasi.

“Menyenangkan sekali Om, orang Padang ramah-ramah, saya jadi sedikit tahu tentang desa ini. Karena di mobil tadi ada ibu-ibu yang dengan senang hati mau saya ajak mengobrol” jawab Li jujur.

“ O ya,..hmmm Nak Li masih capek gak?” Tanya Papa.

“Ohh, tidak  Om, kenapa Om…?”

“ Kalau capek mungkin istirahat dulu, tapi kalau gak capek ,  yuk Om ajak jalan sore, sekalian kita ke rumah Pak Jorong. Melapor Nak Li mau menginap di sini 1 atau 2 hari ini.”

“Ooo begitu, boleh, boleh Om…saya tidak capek kok. Dengan senang hati. Saya ingin lihat-lihat juga. Biasanya hanya mendengar cerita Tri saja. Tetapi kenapa harus lapor Om?” Ujar Li penasaran

“ Sebaiknya begitu Nak Li.  Nak Li kan tamu keluarga saya. Mohon maaf..Nak Li kan laki-laki di sini orang kampung tahu kalau saya punya anak perempuan. Tidak baik ada lelaki bujang menginap di rumah perempuan., agar tidak timbul fitnah, kita lapor dulu. “

“ Ooo begitu ya Om. Boleh mari Om saya mau.”

Mama dan Tri masih sibuk di belakang membereskan piring-piring setelah makan. Sesekali Tri mencoba menguping pembicaraan dua lelaki yang sama dicintainya itu. Hati Tri sedikit lega, ternyata Papa sangat baik memperlakukan Li. Mungkin karena Papa suka juga pada orang-orang Cina.

Papa selalu salud dengan kegigihan dan kelihaian orang-orang Cina dalam berbisnis. Itu juga yang membuat papa terpacu semangatnya memulai bisnis. Dalam Islampun ada pepatah yang mengatakan “Tuntutlah ilmu itu, walaupun ke negeri Cina” sebab itulah Papa kagum pada orang Cina, bagi Papa mereka itu hebat dan pintar-pintar.

Setelah pamitan dua pria itu keluar rumah. Langsung menuju rumah pak Jorong. Pak Jorong memberi izin, dan menerima Li dengan sambutan baik. Setelah itu mreka berjalan menyusuri jalanan desa. Semangat sekali Papa menerangkan setiap pertanyaan yang diajukan Li. Li merasa hatinya sangat bahagia, “Tri benar kampung kekasihnya itu sangat indah,” Li tidak lupa mengabadikan gambar-gambar yang dirasanya menarik dan indah dengan kameranya. Itu akan menjadi kenangan abadi untuk Li.

Sepanjang jalan itu taka ada pembicaraan serius yang menjurus pada hubungan Tri dan Li. Mereka berdua hanya bicara seperti dua sahabat yang lama tak bertemu. Sementara di rumah Tri menunggu dengan hati resah, apakah yang akan terjadi? Mungkin Papa baru akan membahas masalahnya nanti malam bersama Li. Tri mulai gelisah, dan berdoa agar semuanya berakhir baik. “Semoga.” Bathin Tri..

Apakah yang terjadi nanti malam..??? [sebelumnya | selanjutnya]

Disalin oleh: Chen Mei Ing