***
Aku sengaja bangun pagi-pagi dan langsung meninggalkan kamarku tanpa sarapan, lalu berjalan kaki menuju sebuah taman kecil yang hanya berjarak sekitar 200 meter dari hotel tempatku menginap. Udara cerah sekali pagi ini, seakan menjanjikan padaku bahwa aku tak akan menjalani hidupku seharian ini dengan perasaan tak karuan, seperti yang kualami setiap tanggal satu di bulan ke lima tahun-tahun lalu.
Sepagi ini, taman masih sepi. Hanya ada dua bocah lelaki dan perempuan kecil berusia sekitar 7 dan 5 tahun — sepertinya mereka kakak beradik karena tampang mereka mirip — yang berkejaran dengan asyik di balik pohon-pohon tua yang meneduhi taman itu. Lalu ada sepasang kakek-nenek yang duduk berdampingan dengan diam di bangku dekat kolam kecil, persis di tengah taman. Sepertinya mereka tengah melamun mengenangkan masa muda mereka —terkesan dari senyum mereka yang tersembunyi dan mata mereka yang menerawang.
Selebihnya, cuma seorang gelandangan berusia setengah baya yang masih terlelap di atas bangku panjang di pojok taman. Ah, gelandangan tak hanya ada di Jakarta saja — pikirku sambil melewatinya.
Kakiku terus saja kulangkahkan pelan-pelan sambil menikmati merdunya kicau burung dan indahnya bunga-bunga yang bermekaran di taman itu. Akhirnya kuhentikan langkahku, duduk di sebuah bangku taman yang agak terlindung oleh lebatnya daun pohon.
“Siapa sih nama asli kamu?” tanyaku pada gadis berkulit kuning yang tersenyum manja di sampingku.
“Bukankah kamu sudah tahu? Kenapa tanya lagi?” jawabnya balik bertanya.
“Bukan, maksudku... nama pemberian orangtuamu dulu. Siapa?”
“Nama pemberian orangtuaku, ya nama yang kupakai sekarang ini. Gimana sih, kamu?” ujarnya bingung.
“Mm, maksudku... nama dari leluhur kamu, nama Chinese kamu. Kamu pasti punya, kan?” — uh, akhirnya mesti kuomongkan terang-terang juga padanya.
“Buat apa kamu tanya? Nanti kamu pakai untuk meledek aku, lagi,” tolaknya dengan senyum menggoda yang tambah membuatku penasaran.
“Enggak, kok. Aku cuma ingin tahu saja. Lagi pula, untuk apa kamu sembunyikan? Kamu malu?”
“Kenapa harus malu? Tapi apa perlunya kamu tahu? Aku juga tak pernah menggunakan nama itu,” katanya lagi, masih berusaha menyembunyikan.
“Nah, itulah sebabnya aku tanya. Aku tanya supaya aku bisa memanggilmu dengan nama itu. Sayang kan, punya nama tapi tak pernah digunakan,” rayuku terus. “Memangnya namamu jelek, ya?” selidikku lagi.
“Enak saja. Namaku cukup indah, kok. Aku cuma nggak mau orang-orang menengok dan memperhatikanku waktu kamu memanggilku dengan nama itu. Pokoknya aku nggak mau dipanggil dengan nama itu,” katanya sewot.
“Justru itu, orang-orang di sini harus dibiasakan mendengar namamu yang indah itu. Dari dulu toh banyak orang dari etnis kamu yang tinggal di sini, mengapa orang yang berbeda harus menganggapnya aneh?” timpalku.
“Ah, sudahlah. Bicara yang lain sajalah. Untuk apa membicarakan soal nama itu
terus?” ujarnya kesal.
“Habis, kamu belum kasih tahu. Pokoknya kalau kamu tak mau bilang, aku akan bertanya terus sampai kamu bilang. Jadi, siapa dong...?” rajukku makin iseng, demi melihat tampangnya yang mulai sebel.
“Mei Hwa...,” ujarnya lirih, akhirnya.
“Siapa? Bisa diulang? Suara kamu pelan sekali, sih. Dan ngomongnya jangan sambil merengut begitu, dong...!” He he he... si anak manis marah, rupanya.
“M-e-i... H-w-a...,” ujarnya lambat-lambat dengan intonasi yang ditekan.
“Mei Hwa.... Hmm, memang bagus kedengarannya. Apa arti namamu itu?” tanyaku.
“Mei itu artinya cantik, hwa artinya bunga. Jadi Mei Hwa artinya bunga yang cantik, atau bunga yang indah. Ada juga yang mengistilahkannya ‘the blossom plum’, kuntum-kuntum bunga pohon plum yang mekar. Selain itu, Mei tentunya juga menandai bulan kelahiranku. Begitu kata orangtuaku,” jelasnya, sambil tangannya menuliskan nama itu dengan Hanzi (huruf Cina) di atas secarik kertas yang kemudian kusimpan di sakuku.
Sejak itu, meskipun ia berkali-kali protes, aku selalu memanggilnya dengan nama itu. Bahkan ketika ia meminta bantuanku mengirimkan cerpennya ke redaksi sebuah situs, aku sengaja menuliskan nama ‘Mei Hwa’ sebagai pengarangnya. Alhasil, waktu ia membacanya, ia mencak-mencak sejadinya.
“Kamu jahat! Buat apa kamu menonjolkan ke-Cina-anku lewat nama itu? Biar semua orang tahu bahwa aku ini warga keturunan? Aku kan orang Indonesia, aku tak ingin dibeda-bedakan. Aku ingin lebur jadi satu dengan mereka, dengan kamu. Justru di saat aku ingin menguburkan perbedaan itu, kamu malah mengangkatnya ke permukaan. Mau kamu apa, sih?” tanyanya sengit.
“Jangan marah begitu, dong, Non. Aku memandang kamu sama sekali tak berbeda dari aku atau yang lain. Kamu bukannya beda, tapi unik. Nah, keunikan kamu itulah yang ingin aku tampilkan. Apalagi, dalam cerpen itu kamu bercerita tentang kehidupan masyarakat tradisional Jawa, lengkap dengan falsafah wayang dan diselipi kata-kata bahasa Jawa pula. Siapa yang sangka kalau penulisnya ternyata orang non-Jawa? Justru dengan pakai nama Mei Hwa itu, pembaca akan makin kagum, betapa kamu menghargai orang yang tak se-etnis dengan kamu. Malah, mungkin nama itu juga yang bikin cerpenmu dimuat... he he he...,” paparku panjang lebar.
Sejenak dia terdiam mendengar penjelasanku. Tiba-tiba dia mengangkat wajahnya dan memandangku dengan senyumnya yang teramat manis.
“Aku pulang dulu, ya...,” ucapnya singkat sambil mengecup lembut pipiku, lalu segera berlari meninggalkanku dengan gerakannya yang lincah.
***
Aku terus melangkah sendirian. Tanpa kusadari, kakiku membawaku ke sebuah kota tua. Aku tidak tahu apa nama kota ini — bahkan..., aku merasa tak yakin di manasebenarnya aku berada kini. Kutoleh-tolehkan kepalaku dengan bingung. Rumah-rumah Cina tua tampak di sekelilingku, yang beberapa di antaranya tampak sudah hampir roboh. Tak kulihat manusia di situ. Di mana sebenarnya aku berada sekarang? Mengapa aku bisa berada di sini? Mengapa aku tak bisa mengingat apa pun? Sepi terasa sangat menyengat terbawa oleh aroma debu tebal yang terbawa angin. Tiba-tiba, terdengar sayup suara seorang perempuan.
Kepalaku masih terus berusaha mencari jawab yang entah tersembunyi di memori otakku bagian mana. Tiba-tiba suara itu terdengar lagi. Lebih jelas dari sebelumnya. Hatiku mengatakan, ini suara erangan minta tolong — meskipun aku sendiri tak bisa menangkap dengan jelas apa yang keluar dari ucapan yang sebenarnya lebih mirip suara kucing itu.
Kucari-cari asal suara itu. Sebuah rumah tua yang sudah miring pintunya. Suara itu rupanya memang dari situ. Aku memberanikan diri masuk ke dalamnya. Pintunya berkereot waktu kudorong perlahan. Ketika kulongokkan kepalaku ke dalam, tampaklah asal suara itu. Seorang perempuan tua berbaju encim yang lusuh terbaring kesakitan di atas sebuah dipan kayu.
Dia tampak lega waktu melihat seorang manusia datang — yang tak lain: aku. Tangannya menggapai-gapai menyuruhku mendekat, sambil mulutnya menggumamkan kata-kata yang sama sekali tak kumengerti artinya.
Dengan langkah ragu-ragu dan dengan perasaan bodoh dan linglung, kudekati dia ke sisi pembaringannya. Sambil memegangi dadanya dengan sebelah tangan dan sesekali terbatuk, tangan kanannya meraba-raba ke bawah bantalnya yang tipis. Tangan itu keluar lagi menggenggam sebuah foto yang hampir sama lusuhnya dengan keadaan si pemilik tangan kurus itu sendiri.
Susah payah dia berusaha mengangkat kepalanya dan mengulurkan foto itu padaku. Sekilas kulihat wajah seorang perempuan muda di foto itu. Aku diam saja sambil memandanginya dengan bingung — bolak-balik antara wajah tuanya yang tampak kesakitan dan wajah manis dalam foto itu.
Tangannya terus terjulur, menyuruhku mengambilnya. Ia menggumamkan sebuah kata yang sama berulang-ulang, sambil menunjuk dua karakter Hanzi yang tertulis di balik foto itu. Aku tetap tak tahu apa yang harus kulakukan, selain bengong saja sambil berusaha menemukan makna kata-katanya.
Tiba-tiba dia terbatuk-batuk keras dan foto itu terlepas dari genggamannya, jatuh ke tanah. Aku segera mengambilnya dan mendekatinya, membantu mengelus-elus dadanya untuk melegakan pernafasannya. Sambil terus terbatuk, suaranya yang parau kembali menyuarakan kata yang sama. hingga beberapa detik kemudian, tiba-tiba kepala itu tersentak jatuh dan terkulai di bantalnya....
Sepi kini. Tak ada lagi suara batuk-batuknya, tak ada lagi kata-kata aneh yang keluar dari mulutnya. Aku berdiri dalam kebingungan sambil menatapi wajah perempuan dalam foto itu. Siapa...? siapa...??
***
Mei Hwa! Itulah jawabannya. Tiba-tiba saja wajah buram dalam foto itu menjadi jelas terbayang di mataku. Tiba-tiba saja sebuah kata yang diucapkan berulang-ulang oleh perempuan itu saat menunjuk dua huruf yang tertulis di balik foto, menjadi jelas bagiku. Mei Hwa. Itulah yang diucapkannya. Itulah huruf yang tertulis di situ. Semuanya terjawab saat mimpi itu datang lagi mengunjungiku semalam, setelah siangnya kuketahui nama dan bentuk huruf itu dari mulut gadis Tionghoaku.
Gadis yang kemudian kupanggil Mei Hwa itu hanya tertawa saat akhirnya kuceritakan tentang mimpi aneh yang pernah berulang kali menghantuiku beberapa tahun lalu, jauh sebelum aku bertemu dengannya, dan yang datang lagi semalam dengan segala jawaban atas teka-teki yang menggelitikku sekian tahun.
“Kamu ada-ada saja. Masa kamu bilang perempuan dalam foto itu mirip aku?” katanya dengan senyum geli.
“Iya, sungguh. Semakin kuingat mimpi itu dan semakin kukenal kamu, semakin jelas kuyakini bahwa mimpi itu mempunyai suatu makna yang besar, dan inilah kejelasannya sekarang. Kamu tahu, aku kan jarang sekali bermimpi. Aku hanya sesekali diganggu mimpi buruk kalau aku sedang dalam keadaan sangat lelah atau stres berat. Tapi yang ini lain. Saat aku mendapat mimpi itu, aku tidak sedang dilibat suatu masalah atau kesulitan apa pun. Hidupku sedang baik-baik saja. Dan tak seperti biasanya, mimpi yang sama datang berulang-ulang....”
“Dan mimpi itu masih sering datang sampai sekarang?” tanyanya.
“Tidak lagi. Cuma di tahun itu saja, saat aku sedang bekerja di Jakarta sini. Ketika kemudian aku pindah tugas lagi ke kota lain, mimpi itu tak pernah lagi datang. Lucunya, sekarang, saat aku kembali ke kota ini, aku ketemu kamu. Dan kemarin tiba-tiba mimpi itu datang lagi. Aku yakin sekali, kamulah gadis dalam foto yang diserahkan perempuan tua itu. Mungkin dia adalah nenekmu dari keturunan yang ke sekian atau leluhurmu. Dia sengaja memintaku untuk menjagamu, menolongmu...,” ucapku penuh keyakinan. Ya, aku yakin sekarang, itulah arti mimpi itu.
“Ah, sudahlah. Aku tak percaya. Itu terlalu konyol dan terkesan terlalu dibuat-buat. Kamu sengaja mengarang cerita itu untuk melegalkan keberadaanmu di sisiku, agar aku mau menjadi pacarmu. Iya, kan?”
“Ya ampun, aku memang sungguh-sungguh pernah mendapatkan mimpi-mimpi itu, kok. Kalau kamu tak percaya, ya sudah. Tapi aku tak seperti yang kamu tuduhkan itu. Aku tak memerlukan cerita itu untuk merayumu. Tanpa cerita itu pun aku tahu bahwa aku sudah kautempatkan di dalam hatimu...,” kataku meyakinkannya sambil menggoda.
Sebuah cubitan keras mendarat di lenganku. Wajahnya sedih. “Jangan mulai lagi. Kamu tahu bahwa itu tak mungkin. Kita ada di dunia yang berbeda. Agama kita..., orangtua kita..., jalan hidup kita...,” ujarnya lirih, membuat irisan-irisan halus di jantungku.
“Tapi aku nggak apa-apa, kok. Aku tak butuh penjagaanmu. Aku tak butuh pertolonganmu. Kamu cukup jadi kamu, seperti sekarang ini,” lanjutnya tegas.
***
Tanggal satu, bulan ke lima, tahun ke sekian. Aku tak ingin mengingat berapa kali sudah kulalui tanggal itu dengan ketakjelasan perasaan dan pikiran. Bahkan ingin rasanya aku tidur selama satu hari penuh agar ketika terbangun aku sudah tidak lagi berada di tanggal yang satu itu.
Dia berusaha menyembunyikan perasaannya dan mencoba menampakkan wajah ceria saatkuberikan sekuntum bunga sebagai ucapan selamat ulang tahun padanya. Tapi dia terlalu naif untuk menjadi seorang pembohong. Aku menangkap jelas kesedihan itu dan kudesak dia untuk bercerita. Dia hanya menjawabnya dengan diam, diam dan diam.
Akhirnya aku mencoba menceritakan kisah-kisah lucu untuk menghiburnya, demi menjaga agar suasana makan malam kami yang pertama ini tak jadi berantakan. Dia memang tak pernah diizinkan keluar malam oleh orangtuanya, dan dia tak pernah membantah. Dia memang tersenyum dan tertawa oleh cerita dan godaanku, tapi aku tahu semua itu teramat hambar.
Bertahun-tahun aku menyesali, mengapa malam itu aku tak berhasil menembus dinding tebal yang dibangunnya memagari hatinya. Seandainya saja saat itu dia tak menyembunyikannya sendirian, aku yakin bahwa aku tak akan kehilangan dia sepahit ini. Entah bagaimana caranya, tapi aku yakin aku akan bisa melaksanakan amanat itu: menjaganya dan menolongnya. Paling tidak, mencarikan jalan keluar baginya.
Nyatanya, itu adalah makan malam kami yang pertama dan yang terakhir. Itu adalah juga ulang tahunnya yang pertama dan terakhir dia rayakan di sampingku.
Baru keesokan harinya aku tahu bahwa dia sudah pergi. Orangtuanya memaksa mengirim dia ke rumah kerabat mereka di sebuah kota kecil bernama Shangqing — atau apa, aku tak tahu persis — untuk dinikahkan dengan anak laki-laki dari kerabat tersebut. Dan baru beberapa bulan kemudian aku mendengar kabar dari sahabatnya: dia memang tak akan pernah kembali lagi. Dia telah menentukan pilihannya sendiri. Dia telah membuktikan, bahwa jalan hidup kami memang berbeda, seperti yang pernah dikatakannya.
Dia ada di sebuah dunia lain..., sementara aku ada di sini sekarang, mencoba memperingati hari ulang tahunnya tanpa perasaan getir, di tanah leluhur yang tak pernah dicintainya dan yang telah menelannya bulat-bulat — itulah yang membuatku pernah sangat membenci segala sesuatu yang berbau negeri itu. Suatu ironis bahwa justru kali ini aku mesti berada di sini, gara-gara perusahaanku mempercayakan aku untuk menemui seorang klien di sini.
Aku tersadar saat sebuah bola karet berwarna merah-biru menyentuh kakiku. Seorang anak perempuan kecil berkepang dua yang berlari mengejarnya, berhenti tepat di hadapanku. Ragu-ragu hendak mengambil bolanya. Ini anak perempuan yang tadi berlarian dengan adiknya. Sementara adiknya tampak berdiri beberapa meter di belakangnya, menunggu bola itu kembali dilemparkan ke tangannya dengan tidak
sabar.
“Here’s your ball, sweet girl. What is your name?” tanyaku iseng — mungkin saja dia bisa bahasa Inggris — sambil kuserahkan bola itu ke tangan mungilnya.
“Mei Hwa...,” jawabnya lembut seraya mengambil bola itu dari tanganku dan segera berlari membawa bolanya. Senyumnya yang tertinggal di benakku mengembang bagai kuntum bunga pohon plum yang bermekaran di taman. [Chen Mei Ing]
