KISAH | TIONGHOANEWS


Selamat datang berkunjung dalam situs blog milik warga Tionghoa Indonesia. Disini kita bisa berbagi berita tentang kegiatan/kejadian tentang Tionghoa seluruh Indonesia dan berbagi artikel-artikel bermanfaat untuk sesama Tionghoa. Jangan lupa partisipasi anda mengajak teman-teman Tionghoa anda untuk ikutan bergabung dalam situs blog ini.

Sabtu, 09 April 2011

OPINI MASA REMAJA

Saya memiliki seorang teman, meskipun sebelum lulus kuliah tidak memiliki cita-cita tinggi, namun ia cukup sehat dan antusias. Setelah lulus ia berusaha mencari pekerjaan, meski tidak mudah akhirnya ia mendapatkan pekerjaan di suatu pabrik daur ulang suatu produk.

Gajinya 1.500 RMB per bulan, sering kali harus lembur, dan terkadang dibayar namun kadang juga tidak. Kalau ditambah uang lembur, ia bisa mengantongi uang sekitar 2.000 RMB. Tempat tinggalnya 20 km dari tempat kerja, ia membeli sebuah sepeda motor elektrik. Setiap hari berangkat pagi pulang petang.

Saat baru menikah ia tak mampu membeli rumah. Untungnya rumah mereka di desa dibangun hingga 3 lantai, jadi lantai-1 dan 2 disewakan pada pekerja luar daerah. Setiap kamar dihargai 200 RMB lebih, total ada 6 kamar. Setiap bulan, ia bisa mengantongi 1.500 RMB sebagai pendapatan tambahan.

Pekerja yang berasal dari luar daerah umumnya berjumlah 3 orang dalam satu keluarga, pendapatan mereka rata-rata hanya 800 RMB per bulan. Mereka pun bergantung hidup dengan bekerja di pabrik di sekitar situ dengan berjalan kaki atau bersepeda.

Pabrik di sekitar umumnya pabrik kimia yang tingkat pencemarannya lebih parah dibandingkan dengan pabrik daur ulang, yang didirikan pemerintah setempat dengan mengundang para investor. Sebagian besar pabrik sudah bangkrut, yang belum bangkrut masih bisa mendapat sedikit keuntungan, namun jika pabrik itu diminta untuk menangani limbah pencemarannya, pasti akan merugi, dan jika sudah merugi pabrik tidak akan mampu membayar pajak dan menggerakkan GDP. Oleh karena itu pemerintah lantas tidak menggubrisnya.

Sungai yang tercemar pabrik itu mengalir di depan rumah kami. Di setiap rumah di lingkungan kami hampir semuanya dihuni sekitar 20 pekerja luar daerah. Warga setempat umumnya memiliki satu anak, dan hampir setiap anak nasibnya sama seperti teman saya.

Teman saya ini merasa dirinya sudah termasuk hidup lumayan, paling tidak ia masih bisa mendapatkan seorang istri. Hampir seluruh pendapatannya habis untuk keperluan hidup sehari-hari, tanpa mampu membeli sesuatu yang sedikit mewah. Ia tidak berani mencari pekerjaan lain atau mencoba untuk wiraswasta sendiri. Di satu sisi tidak ada jaminan sosial, di sisi lain jika tidak ada pendapatan tetap, kehidupan sehari-hari akan jadi masalah.

Mereka hendak membeli rumah di kota, mengubah kartu keluarganya menjadi keluarga di kota, dengan demikian akan lebih berdampak baik bagi anaknya di kemudian hari. Namun harga rumah di pinggiran Shanghai sangat mahal, sedikitnya 500.000 RMB. Jika mereka tidak makan sama sekali selama 25 tahun barulah mereka mampu membelinya, itu pun berupa rumah tua yang perlu direnovasi sana sini, dan butuh waktu 5 tahun lagi menahan lapar untuk biaya renovasinya.

Tetangga sebelahnya, yang juga teman saya, begitu lulus kuliah memperoleh pekerjaan dengan gaji agak lebih tinggi dari teman saya yang pertama tadi, namun keluarga pihak perempuan juga meminta lebih, yakni harus memiliki satu rumah di kota sebagai syarat menikah.

Rumah bekas di daerah kota sedikitnya butuh biaya sekitar 2 juta RMB, berarti teman kedua saya itu harus bekerja selama 60 tahun, atau jika rumah mereka yang sekarang disewakan kepada 8 keluarga pekerja dari luar daerah selama 100 tahun, barulah ia dapat membeli rumah di kota.

Maka satu-satunya harapan, pindah domisili. Seandainya pemerintah memberi ganti rugi 500.000 RMB dengan menggusur rumah mereka, atau lahan itu dibeli seharga 5 juta RMB tidak jadi soal. Paling tidak 500.000 RMB sudah bisa digunakan melunasi uang muka rumah di kota, sisanya akan dipikirkan belakangan, pokoknya bisa menikahi calon istrinya.

Soal tempat tinggal kedua orang tuanya jika rumah itu digusur, memang suatu masalah yang pelik, sementara untuk beberapa tahun ke depan bisa menyewa sebuah rumah agak besar di desa seharga 300 RMB per bulan. Teman pertama saya dulunya pernah bekerja shift di pabrik yang sangat jauh, kesehatannya pun terganggu sehingga akhirnya alih profesi dan melakukan pekerjaannya yang sekarang ini.

Ia berharap tidak banyak kerja lembur dan dinaikkan gajinya. Majikannya menjanjikan kenaikan gaji sebesar 100 RMB setiap bulannya tahun depan, lalu naik 100 RMB lagi di tahun selanjutnya. Minggu lalu ia memberitahu saya bahwa ayahnya akan bekerja sebagai buruh bangunan di luar negeri, 3 tahun bekerja di luar negeri bisa membawa pulang 200.000 RMB.

Saya balik bertanya, apa rencananya sendiri. Ia menjawab, begini saja, mau bagaimana lagi. Ibunya bekerja memasangkan bola lampu, sebulan menghasilkan 800 RMB. Keluarga di pinggiran Shanghai ini punya 20 orang anak, yang hidupnya sepenuhnya bergantung pada ibu dan ayah yang telah berusia 50 tahun lebih. Dan sang ayah bahkan harus bekerja di luar negeri selama 2 tahun.

Sementara para pekerja luar daerah sangat dibenci karena menghabiskan lowongan pekerjaan di sekitar sana, bahkan bersedia dibayar murah hingga hanya beberapa ratus RMB sebulan. Perbandingan jumlah warga pendatang dengan warga setempat telah mencapai 10:1, namun warga setempat tetap harus bergantung pada pendatang karena pendatang menyewa rumah mereka, yang setiap tahunnya dapat menghasilkan pendapatan mencapai lebih dari 10.000 RMB setiap tahunnya.

Begitulah kehidupan  rakyat biasa di pinggiran Shanghai, mungkin masih bisa dikatakan keluarga yang layak hidupnya. Itulah mengapa begitu banyak orang bunuh diri di Foxconn, pekerjaan yang seperti mesin, masa depan yang tanpa harapan, gaji yang rendah, tapi jika pindah ke tempat lain, gajinya lebih rendah lagi.

Harga barang yang mahal, selain mampu mengenyangkan perut dan memakai baju hangat, hampir tidak mampu lagi untuk melakukan apa pun. Sementara pemerintah yang telah memberi makan rakyat mempropagandakan pada dunia betapa besar sumbangsih dan kinerjanya, seolah hendak membandingkan keadaan sekarang ini dengan zaman dahulu kala atau zaman es, bahwa sekarang rakyat telah diberi makan dengan layak sehingga wajib berterima kasih pada negara.

Coba Anda pikirkan apa yang bisa diharapkan dari negara ini. Kehidupan teman saya itu meskipun sarat dengan tekanan hidup, namun ia masih memiliki teman dan keluarga. Di tempat sejauh 20 km lebih dari rumahnya, sebagian besar adalah pekerja usia muda, yang keluarganya berada ribuan kilometer jauhnya, dan keluarga mereka itu belum tentu bisa makan kenyang dan berpakaian hangat. Berapa banyak uang yang bisa dihasilkan seseorang umumnya menjadi patokan penilaian satu-satunya terhadap seorang anak di keluarga China.

Ini adalah sekelompok orang yang belum banyak dikenal para netter China. Coba lihat di forum diskusi di internet, jarang sekali ada karyawan Foxconn yang mengisahkan cerita di balik rekannya yang bunuh diri atau menceritakan tentang kehidupannya sendiri. Karena mereka tidak punya waktu apalagi kemampuan untuk itu.

Gemerlap kehidupan di luar sama sekali tidak ada hubungannya dengan mereka, mereka bahkan tidak paham apa itu cinta. Di dunia ini tidak ada pihak ketiga, realita adalah pihak ketiga yang paling besar, mungkin hanya pada saat hendak bunuh diri, nilai kehidupan mereka baru terpancar, yaitu sebagai suatu jiwa yang disebut-sebut dan dikenang, namun sayang jiwa tersebut kini hanya menjadi sebuah angka.

Bimbingan psikologi tidak ada gunanya, saat saya melihat istri saya merangkul seorang pria kaya, pria kaya merangkul pejabat, pejabat merangkul konglomerat, dan konglomerat merangkul Lin Zhiling (model dan bintang film terkenal, red.), bimbingan psikologis seperti apa yang akan Anda lakukan bagi saya.

Tanya sana sini, ternyata teman-teman sekelas saya dulu lebih mengenaskan lagi nasibnya. Ada teman pria sekelas yang hidupnya lumayan, ternyata mengandalkan latar belakang keluarganya.Teman perempuan sekelas yang hidup enak, ternyata menikahi suami yang kaya raya. Orang iri pada orang yang terjamin kesejahteraannya di Foxconn, gaji dibayar tepat waktu, ada fasilitas asrama, ada uang lembur. Jika ada yang bilang hidupnya bagai mesin, orang lain akan mengatakan dirinya ibarat sebongkah kotoran, sama sekali tidak ada motivasi di dalam radius ratusan kilometer, begitulah kehidupan kaum muda di China.

Jika gaji mereka dinaikkan 10 kali lipat, apakah tidak akan ada lagi orang yang bunuh diri? Seandainya tidak terjadi inflasi sebesar 10 kali lipat, tentu saja tidak akan ada orang yang bunuh diri. Tentunya, majikan juga tidak akan melakukan hal itu, dan kalaupun majikan mau melakukannya, pasti juga akan dilarang pemerintah.

Mengapa para politikus dan pejabat kita dapat berjalan tegak di pentas politik dunia, melakukan perdebatan politik, bahkan melakukan trik politik? Semuanya karena kita semua, setiap pekerja yang digaji murah, kitalah kartu As China, sandera terhadap GDP China. Entah itu ciri khas China yang menganut paham sosialis atau paham kapitalis yang konservatif, dalam 10 tahun mendatang, semua kaum muda ini tidak akan menemukan jawabannya, suatu hal yang sangat menyedihkan. Antusiasme di dalam diri, ditumpahkan begitu saja di atas tanah. [Chen Mei Ing]

ARTIKEL YANG BERKAITAN

Mari kita dukung kiriman artikel-artikel dari teman-teman Tionghoa, dengan cara klik "SUKA" dan teruskan artikel kesukaan Anda ke dalam facebook, twitter & googleplus Anda.

TERBARU HARI INI

ARTIKEL: INTERNASIONAL

ARTIKEL: BUDAYA

ARTIKEL: KEHIDUPAN

ARTIKEL: KESEHATAN

ARTIKEL: IPTEK

ARTIKEL: BERITA