Christina Nataiia Sihite
Basuki Tjahaja Purnama salah satunya, \ ang hadir dalam Kick Andy episode Mereka Bilang Aku China. Kiprah Bupati Belitung Timur periode 200S-2008 di dunia politik itu berawal dari pengalaman pahit saat ia berprofesi sebagai pengusaha di kampung halamannya, Desa Mengkubang, Kecamatan Manggar, Belitung Timur.
Pabrik pengolahan pasir kuarsa yang dibangunnya sejak 1992 harus ditutup karena kesewenang-wenangan pejabat. Padahal, usaha itu dibangun sebagai proyek percontohan sekaligus cikal bakal tumbuhnya kawasan industri dan pelabuhan samudra di daerah tersebut.
Pengalaman itu bahkan sempat mendorongnya untuk hijrah ke luar negeri. Namun, ayahnya meyakinkan kelak masyarakat sekitar akan memilih Ahok-begitu panggilannya-untuk mem-penuangkan nasib mereka.
"Ayah saya kasih ilustrasi, kalau orang punya duit Kpi miliar terus dibagi ke rakyat masing-masing Rp500 ribu, itu cuma cukup untuk 2.000 orang. Tapi kalau di politik, bayangkan berapa jumlah uang APBD yang bisa dikuasai untuk kepentingan rakyat?" ujar dia. Saat Ahok memutuskan terjun ke dunia politik pada 2003, rekan-rekannya sempat menilai pria kelahiran Belitung Timur, 29 Juni 1966, itu ambisius terhadap kekuasaan. Beberapa elite politik setempat juga sempat menuduhnya membawa misi Kristenisasi.
\\ah tiga anak itti memulai karier politiknya dengan bergabung di Partai Perhimpunan Indonesia .Baru (PPIB), lalu mencalonkan diri dan terpilih menjadi anggota DPRD Kabupaten Belitung Timur periode 2004-2009. Ahok dikenal tegas menolak praktik KKN, menolak mengambil uang dinas fiktif, dan kerap berbaur dengan warga untuk mendengar keluhan.
Kedekatannya dengan warga menghasilkan dukungan besar untuk maju sebagai calon Bupati Belitung Timur pada 2005. Ia tak segan memberitahukan nomor ponselnya kepada masyarakat, dengan tujuan mengerti betul situasi dan kebutuhan rakyat.
"Prinsip yang saya pelajari dari Konghucu, kalau atasan lurus, bawahan pasti lurus. Konsep yang saya bangun,masyarakat kita itu sebetulnya enggak perlu diurus, yang penting kalau mereka sakit jangan dirampok, kalau mereka urus kewajibannya jangan dipersulit," tukasnya.
Keberhasilan itu membuat banyak pihak mendorongnya untuk maju sebagai calon gubernur Bangka Belitung pada 2007. Sayang, ia gagal. Pada pemilu legislatif 2009, ia maju sebagai caleg dari Partai Colkar.
Di DPR RI, anggota Komisi II itu dikenal sebagai figur yang apa adanya, vokal, dan mudah diakses Banyak orang. Ia menjadi pionir dalam pembuatan laporan kerja, pembahasan undang-undang, d.m kunjungan kerja yang transparan melalui situs pribadinya, nlwk.org.
Ahok mengaku tidak pernah khawatir dimusuhi. "Prinsip saya jangan ikut arus. Ibarat ikan, yang ikut arus itu, ya, pasti ikan mati. Ikan hidup pasti lawan arus," imbuh pria yang terpilih sebagai satu dari 10 Tokoh Pilihan yang Mengubah Indonesia versi Majalah Tempo 2006 itu.
Perjuangkan HAM
Sosok lainnya adalah Ester Indahyani Jusuf. Ia dikenal sebagai aktivis hak asasi manusia (HAM) yang menekuni bidang antidiskriminasi dan antirasia-lisme serta aktif menegakkan HAM, yang terkait dengan persoalan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).
Aturan, anak aturan, kebijakan, sampai praktik di lapangan semuanya diskriminatif. Padahal, pada dasarnya semua manusia itu setara. Diskriminasi ada di masyarakat bahkan sekolah."
Ester Indahyani Jusuf
Ester yang berdarah Tionghoa itu sempat dituding sebagai advokat yang hanya membela kepentingan etniknya pada kasus perkosaan saat kerusuhan Mei 1998 terjadi. ."Saya tidak menyalahkan masyarakat yang berpikir seperti itu. Karena saat itu banyak orang yang kepalanya sudah dipenuhi prasangka akibat dirusak oleh sistem sebelumnya. Rasialisme dulu diber-
lakukan secara sistematis dari atas sampai bawah," ujarnya.
Ia menunjuk aturan bagi n.ir-ga Indonesia berdarah Tionghoa yang hendak mengganti nama. Ketika mengurus surat-surat kependudukan, mereka diberi berkas yang berbeda. Etnik itu pun lantas dipaksa untuk ber-asimilasi dan menghilangkan budaya mereka.
"Aturan, anak aturan, kebijakan, sampai praktik di lapangan semuanya diskriminatif. Padahal, pada dasarnya semua manusia itu setara. Diskriminasi ada di masyarakat bahkan sekolah. Prasangka-prasangka ini yang ingin saya hilangkan," tukas peraih Yap Thiam Hien Award 2001 itu.
Kejengahan itulah yang membuat Ester serius menekuni bidang hukum. Selepas kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI), perempuan yang memiliki nama lahir Siem Ai Ling itu aktif berkiprah dalam kegiatan advokasi melalui Lembaga Bantuan Hukum (LBH) jakarta dan Lembaga Solidaritas Nusa Bangsa-yang ia dirikan bersama rekan dan almarhum suaminya pada 1998.
Kini, Ester menilai masyarakat lebih terbuka dalam mewacanakan dan menerima kemajemukan. Keterbukaan itu, menurutnya, membawa penghargaan hubungan antaretnik ke posisi yang kian terhormat.
"Pemerintah pascareformasi pun telah meratifikasi penghapusan aturan-aturan yang berbau diskriminatif. (Hal itu) Dimulai dari Habibie, Gusdur, dan Megawati. Memang tidak semua berjalan efektif, tapi perubahan ini ikut membuka mata masyarakat terkait perbedaan etnik," jelasnya.
Aktif berorganisasi
Ada pula Sumartono Ha-dfnoro, Direktur Medical Action Palang Merah ladoruKia (PMU Cabang Kota Surakarta. Bagi dia, kegiatan di sejumlah organisasi kemanusiaan dirasa jauh lebih berharga daripada mengumpulkan kekayaan melalui bisnis interior rumah yang digelutinya sejak 1986. Lantaran itu, ia menyerahkan usahanya agar dikelola sang istri dan terjun penuh waktu untuk melayani masyarakat.
Sejak masih SMA, Martono-nama panggilan Sumartono- .ik lil dalam Organisasi Amatir Radio Indonesia (Orari). Saat itu. Martono dipercaya membawa mobil ambulans untuk membantu korban, l.i lalu dipercaya untuk memegang jabatan bendahara, lalu ketua.
Ayah satu anak itu pun akut terlibat dalam misi-misi kemanusiaan PMI di berbagai lokasi bencana di Indonesia. Keterlibatannya di PMI bermula dari pengalaman pribadi, tatkala ia tak mampu menebus darah untuk kesembuhan ayah mertuanya dulu. Saat itu ia bertekad akan terjun langsung menangani keadaan darurat di kotanya.
Pada 2005, Martono diminta menjadi pengurus Bidang Organisasi dan Pembinaan Ranting PMI Cabang Kota Surakarta. Sejumlah terobosan ia hadirkan bersama rekan-rekannya.
Salah satunya pengembangan Medical Team Action untuk mengelola darah masyarakat. Timnya bertanggung jawab menjaga stok darah di Solo agar tak kurang dari seribu kantong per hari.
Martono mengaku pernah mendapat perlakuan sinis masyarakat. Maklum, kala itu belum banyak warga Indonesia keturunan Tionghoa yang aktif dalam kegiatan serupa. "Saya juga dicurigai ikut organisasi buat cari proyek atau cari muka. Tapi, ya, berbesar hati sajalah, jalani dengan ikhlas. Saya ikut ini karena diminta dan prinsipnya karena memang saya senang kumpul, senang menolong orang," tukasnya.
Menurut Martono, setiap etnik yang hidup di Indonesia punya hak dan kewajiban yang sama untuk mengabdikan diri bagi kemajuan bangsa dan negara. Lantaran itu, lanjut dia, harus ada pembauran an-taretnik san;; berjalan alamiah tanpa rekayasa, budaya maupun politik.
"Konsep kebhinnekaan harus berjalan dan dihayati secara alamiah. Keterpengaruhan pasti akan terjadi karena semua hidup berdampingan dan berinteraksi," tandas pria bernama Tionghoa Khoe Liong Hauw itu. [Meilinda Chen, Jakarta, Tionghoanews]
* Artikel di atas dikirim oleh pengunjung situs blog ini dan anda bebas meneruskan artikel di atas kepada teman2 anda juga atau anda bisa ikut serta kirim artikel melalui email ke alamat email: tionghoanews@yahoo.co.id