Pembagian beras dimulai siang hari setelah pembacaan Sutra yang dipimpin oleh sembilan Bhikuni dari Persatuan Vihara wilayah III Jawa Barat. Setelah pembacaan Sutra, acara dilanjutkan dengan pembagian makanan ringan seperti mi instan, kue-kue, dan bingkisan makanan lainnya yang diberikan dengan cara "menyawer".
Puluhan masyarakat dari empat kelurahan yang mendapat kupon pembagian beras terlihat memadati halaman depan Vihara Dhanagun. Untuk mengantisipasi terjadinya desak-desakan, sekitar 100 umat dan relawan Vihara Dhanagun disiagakan mengatur antrean warga.
Empat kelurahan yang mendapatkan kupon pembagian beras yakni Kelurahan Sukasari, Bondongan, Gudang dan Babakan Pasar. "Beras ini juga untuk masyarakat tidak mampu yang tinggal di sekitar Vihara," kata Candra.
Candra mengatakan, pembagian beras ini merupakan sumbangan dari para donatur dan umat Vihara yang ingin berbagi kepada sesama. Pembagian beras tersebut sebagai sedekah umat untuk membantu sesama. Sedekah tersebut nantinya akan menjadi amalan dan doa untuk arwah leluhur umat yang bersedekah.
"Ini adalah bentuk cinta kasih umat kepada sesama dalam hal memberikan bantuan pangan berupa beras," kata Candra.
Usai pembagian beras, acara akan dilanjutkan malam harinya dengan membakar patung Raya Api dan Raja Air. "Ritual ini nantinya akan menjadi prakiraan kondisi alam Bogor kedepan seperti apa. Api menandakan kemarau dan air menandakan hujan," katanya.
Ia menjelaskan, dalam ritual tersebut dilihat di antara kedua patung yang dibakar mana yang lebih lama bertahan berarti itu ramalan saat ini. Misalnya jika Raja Api yang paling lama habis terbakar maka Bogor masuk musim kemarau, begitu sebaliknya.
Candra menambahkan ritual ini rutin dilakukan setiap tahunnya pada bulan ke tujuh tanggal dua pada kalender China. [Vina Koh, Pangkal Pinang, Tionghoanews]
Ingat! Teman-teman bebas mengirim artikel juga ke blog ini yang berhubungan dengan Tionghoa (Chinese) dalam dan luar negeri, melalui email: indonesia.chinese.ngepost@blogger.com