KISAH | TIONGHOANEWS


Selamat datang berkunjung dalam situs blog milik warga Tionghoa Indonesia. Disini kita bisa berbagi berita tentang kegiatan/kejadian tentang Tionghoa seluruh Indonesia dan berbagi artikel-artikel bermanfaat untuk sesama Tionghoa. Jangan lupa partisipasi anda mengajak teman-teman Tionghoa anda untuk ikutan bergabung dalam situs blog ini.

Selasa, 16 Agustus 2011

KISAH TIGA KSATRIA MENGGEMPUR LU BU

Rantai besi yang tertancap lereng gunung tersebut, meski telah melewati terpaan hujan dan angin selama ribuan tahun sama sekali tidak menampakkan tanda-tanda penuaan, bahkan tidak berkarat dan nampak masih mengkilap seperti sedia kala. Suatu fenomena unik.

"Tiga Ksatria Menggempur Lu Bu" (baca: lü pu) di depan Hu Lao Guan (Lintasan Kerangkeng Harimau), telah mengharumkan nama Hu Lao Guan di seluruh dunia.

Hu Lao Guan bermakna Lintasan Kerangkeng Harimau, terletak di Kabupaten Sishui – Provinsi Henan. Konon pada zaman Dinasti Zhou Barat (Xi Zhou) tatkala Zhou Mu Wang (Raja Mu dari Zhou, 976-922 SM) berburu di tempat itu, Gao Benrong seorang jagoannya berhasil menangkap hidup seekor harimau ganas dan dipelihara di dalam kerangkeng, dari situlah nama Hu Lao Guan berasal. 

Lintasan Hu Lao secara militer sangat strategis dan sebagai pintu gerbang timur menuju Kota Luoyang (ibukota dari 9 dinasti kuno), di sebelah selatannya ia terhubung dengan Pegunungan Song Yue, di sebelah utara mengalir Sungai Kuning (Huang he), ia merupakan sebuah hambatan alami, di zaman kuno ia merupakan jalur satu-satunya menuju ke Luo Yang, karakter geografis yang bersifat "Cukup seorang ksatria menghadang di lintasan, ribuan musuh jangan diharap bisa lewat", sebuah lokasi strategis yang pasti diperebutkan oleh para ahli strategi militer selama ribuan tahun ini.

Disinilah Dinasti Qin dan Han (221 SM – 220 M) serta lainnya mendirikan benteng pertahanan mereka. Itulah mengapa di dalam sejarah, aktivitas militer seperti 3 ksatria menggempur Lu Bu (terjadi sekitar tahun 190 masehi), Li Shimin (pendiri Dinasti Tang) menangkap hidup seorang rivalnya yakni Dou Jianbao (620 M), rata-rata terjadi di lokasi ini.

Fenomena Unik Di Lokasi

Di sini terdapat seuntai rantai besi tidak berkarat meski telah berusia ribuan tahun yang melekat di lereng Gunung Hu Lao Guan. Konon, itu adalah rantai penjegal kuda yang masih orisinil peninggalan zaman Samkok tatkala tiga ksatria (Liu Bei, Guan Yu dan Zhang Fei) menggempur Lu Bu (seorang jenderal digdaya dari seorang raja perang). Ketika itu, sekitar tahun 190, karena pasukan gabungan yang menggempur Lu Bu berulang kali tapi tidak dapat mengalahkannya, maka dipasang lah rantai besi penjegal kuda yang ditempatkan di jalan yang pasti dilalui Lu Bu.

Setelah dikamuflase dengan rerumputan hijau, satu ujungnya ditancapkan pada batu cadas lereng gunung, ujung lainnya dijaga oleh para prajurit yang bertugas menariknya apabila Lu Bu lewat dengan perhitungan Lu Bu akan terjatuh ke dalam lubang jebakan kuda.

Tak dinyana, kuda Lu Bu jenis Red Hare bukan sembarang kuda, hambatan rantai tersebut sama sekali tak berdampak terhadap kuda itu, kemudian rantai itu terkubur di lereng tersebut. Oleh karena kerap kali tergelontor banjir bandang maka saat ini rantai tersebut muncul dari lereng gunung sepanjang 10 meter lebih, meskipun telah melewati terpaan hujan dan   angin selama ribuan tahun sama sekali tidak menampakkan tanda-tanda berkarat bahkan masih berkilauan seperti sedia kala. Betul-betul suatu fenomena unik di lokasi tersebut.

Situs Hu Lao Guan

Situs asli mulut lintasan Hu Lao Guan pernah hancur berkali-kali lantaran kekacauan perang dan air bah, berulang kali pula dipugar, terakhir pada 1881 zaman Dinasti Qing. Fondasi tembok Kota Hu Lao Guan terbuat dari batu dan temboknya terbuat dari tanah kuning, waktu itu tinggi tembok sekitar 20 meter lebih sedangkan lebarnya 10,5 meter. Kuil kuno San Yi untuk mengenang tiga bersaudara angkat yakni Liu Bei, Guan Yu dan Zhang Fei ketika menggempur Lu Bu didirikan di sebelah barat pintu lintasan. 

Kemudian, pintu gerbang dan dinding Hu Lao Guan serta kuil San Yi dihancurkan PKT (semasa Revolusi Kebudayaan), batu prasasti di dalam kuil diseret ke tepi Sungai Si Shui dan digunakan untuk menambal lubang jembatan, kini kondisinya hancur separuh, aksara reliefnya pun buram tak terbaca lagi. Tinggal sebuah prasasti kuno di depan kuil San Yi yang masih tersisa, tertera tahun 1731 dari Dinasti Ming dan Qing, berukuran 2 m x 0,7 m (tinggi x lebar). Di atasnya terpahat aksara tipe Gaishu-besar, sebuah kaligrafi yang kokoh dan kuat. Itulah rekam jejak yang tersisa dari Hu Lao Guan semasa Dinasti Ming dan Qing. 

Kini bila Anda berdiri di depan Hu Lao Guan yang bersejarah, yang nampak bukan lagi wajah asli Hu Lao Guan, lebih sulit lagi melacak rekam jejak perubahan sejarah dan topografinya. [Caroline Chan, Bandung, Tionghoanews]

ARTIKEL YANG BERKAITAN

Mari kita dukung kiriman artikel-artikel dari teman-teman Tionghoa, dengan cara klik "SUKA" dan teruskan artikel kesukaan Anda ke dalam facebook, twitter & googleplus Anda.

TERBARU HARI INI

ARTIKEL: INTERNASIONAL

ARTIKEL: BUDAYA

ARTIKEL: KEHIDUPAN

ARTIKEL: KESEHATAN

ARTIKEL: IPTEK

ARTIKEL: BERITA