Perusahaan Guangxi Power Grid menggelar konferensi pers dan mengatakan bahwa, "kekurangan listrik tahun ini jauh lebih buruk dari yang diperkirakan dan sekarang meliputi 30 persen dari total permintaan," demikian yang dilaporkan China Economic Times pada 2 Agustus. Perusahaan telah mengeluarkan peringatan mengenai krisis listrik.
Wakil kepala insinyur perusahaan listrik mengatakan bahwa krisis saat ini berada di antara 3,5-4 gigawatt.
Saat ini, pasokan batubara dari pembangkit listrik Guangxi sangat rendah dan saham total batubara di seluruh wilayah hanya 1,22 juta ton, yang kira-kira setara dengan 13 hari produksi. Beberapa pembangkit listrik telah ditutup karena kurangnya batubara.
Krisis listrik telah menyebabkan lebih dari 1.000 pabrik dan bisnis untuk sepenuhnya atau sebagian ditutup. Penerangan jalan di ibukota provinsi Nanning telah berkurang setengahnya untuk menghemat listrik.
Tuan Bai dari Kotapraja Qingzhou menyimpulkan situasi: "Kadang-kadang listrik padam dari pukul 7-10 malam, bahkan kadang dari pukul 9 pagi hingga 5 sore. Pasokan listrik baik ke rumah penduduk maupun pabrik diputus. Pemadaman jauh lebih sering tahun ini."
Tuan Chen dari Liuzhou berkata, "Pemadaman bergilir ini telah berlangsung selama dua bulan. Situasi ini sedikit lebih baik di perkotaan."
Seorang pemilik usaha alat listrik bernama Ding juga terkena imbasnya. "Kampung halaman saya berada di daerah pedesaan, pemadaman terjadi makin sering dan pemadaman itu digilir di antara distrik-distrik berbeda. Situasi ini telah berlangsung setidaknya setengah bulan."
Ding menjelaskan: "Sekitar dua bulan lalu tarif listrik sudah naik, daya listrik untuk usaha turun dari 18,6 sen per kwh menjadi 23,3 sen, tetapi tingkat hunian tetap sama. Untuk pembangkit listrik, Guangxi bergantung pada batubara, tapi pasokan batu bara kian menipis."
"Ada beberapa besar pembangkit listrik hidro di Guangxi, namun pembangkit listrik tergantung pada level air, saat hujan banyak, pemadaman terjadi lebih sedikit. Hujan juga kian jarang di musim panas ini di Guangxi," kata Ding.
Mengenai penyebab kekurangan listrik, Xinhua melaporkan pada 31 Juli bahwa hidro generasi di Guangxi rata-rata sekitar 2,5 gigawatt tahun ini, yang mana adalah setengah dari jumlah tahun lalu. Level air di tiga stasiun hidroelektrik terdekat makin mendekati tingkat produksi nol. Pada saat yang sama, krisis pasokan batubara menyebabkan penurunan satu gigawatt di pembangkit listrik dan kualitas batubara yang tidak dapat digunakan juga menyebabkan pengurangan gigawatt. Selain itu, meningkatnya penggunaan penyejuk udara akibat suhu tinggi telah meningkatkan permintaan listrik sebesar 4 gigawatt.
Pada 29 Juli, Dewan Listrik China (CEC) merilis pasokan listrik negara dan analisis permintaan serta laporan perkiraan. Kurangnya total pasokan listrik negara pada paruh kedua tahun ini diperkirakan mencapai 30 gigawatt.
Laporan menunjukkan bahwa, sejak 2003, harga batubara di Tiongkok terus mengalami peningkatan. Harga batubara berkualitas tinggi naik dari 42,6 dolar AS per ton pada 2003 menjadi 130,5 dolar AS pada bulan Juni tahun 2011, peningkatan akumulasi lebih dari 200 persen, tetapi harga listrik hanya naik sebesar 40 persen. Hal ini telah menyebabkan kerugian berat bagi pembangkit listrik batubara; pembangkit listrik berbahan bakar batubara dari lima perusahaan listrik besar mengalami kerugian total sebesar 2,4 miliar dolar AS.
Sebuah artikel yang diterbitkan pada 1 Agustus oleh majalah Energy Review mengatakan bahwa sekitar 10 provinsi sekarang menderita krisis daya.
Artikel ini meringkas tiga alasan untuk krisis daya yang sering terjadi tahun ini: 1) tarif listrik naik lebih lambat daripada biaya batubara dan minyak, sehingga daya listrik untuk usaha saat ini hanya 70 persen dari rata-rata internasional, sementara tingkat hunian hanya 40 persen dari rata-rata dunia; 2) Tidak ada alokasi sistematis terhadap sumber daya, menyebabkan distribusi tidak seimbang di pembangkit listrik; 3) Karena tekanan biaya dari bahan baku, pembangkit listrik Tiongkok melaporkan pendapatan yang sangat minim dan kurangnya sumber daya keuangan yang diperlukan untuk melanjutkan operasi. [Roswati Lim, Mataram, Tionghoanews]