KISAH | TIONGHOANEWS


Selamat datang berkunjung dalam situs blog milik warga Tionghoa Indonesia. Disini kita bisa berbagi berita tentang kegiatan/kejadian tentang Tionghoa seluruh Indonesia dan berbagi artikel-artikel bermanfaat untuk sesama Tionghoa. Jangan lupa partisipasi anda mengajak teman-teman Tionghoa anda untuk ikutan bergabung dalam situs blog ini.

Sabtu, 27 Oktober 2012

MENIKAH ADALAH PILIHAN!

Setiap orang pasti menemui kehidupan pernikahan, kecuali mereka yang memang memilih tak ingin menikah. Aku memilih menikah. Entah kenapa, kadang sekilas dalam diriku menolak kehidupan pernikahan, bagiku kala itu hanya buang waktu. Membagi hidup dengan orang lain yang bukan saudara atau keluarga, disahkan oleh secarik buku nikah, maka hingga akhir usia harus menghabiskan hidup dengannya.

Kalau tidak ibu yang memohon agar aku segera menikah dan sebuah keinginan yang menggelitik menjadi perempuan seutuhnya dengan melahirkan anak dari rahimku sendiri, keinginan menikah ini tak pernah terlintas. Kultur budaya dan norma ketimuran, serta yang terpenting menjalankan ibadah, aku setuju menikah. Toh, aku takkan diijinkan hamil oleh keluargaku tanpa aku memiliki suami kan?

Pertemuan dengan Apheng juga bukan kebetulan. Teman-teman kantor yang gigih menjodohkanku. Di hadapan teman-teman kantorku sebagai saksi, aku menyatakan menerima Apheng sebagai pacarku. Dengan syarat, jangan berharap apapun dari hubungan ini. Kalau memang kita berjodoh, kita akan menikah, tapi kalau tidak jangan memupuk dendam. Sejauh ini Apheng setuju. Sejak itu, kami menjalani kehidupan yang berbeda. Dengan status pacaran, kadang membuatku repot sendiri.

Ada tugas luar, aku harus mencari Apheng dulu sekedar laporan bahwa aku mau keluar kantor. Terlalu sibuk di kantor, membuatku sering lupa menghubungi Apheng sekadar untuk "say hello". Pernah aku harus diskusi dengannya, bahwa hubungan yang baru ini jangan sampai mengganggu kehidupan yang sudah ada sebelumnya. Jalani apa adanya, jangan terlalu banyak basa basi. Pernyataanku ini sempat membuat Apheng syok, aku segera meralatnya. "Koko, ingat pernyataanku di depan teman-teman ketika menerimamu sebagai pacarku?" Apheng mengangguk.

"Jangan berharap apapun dari hubungan ini," pelan suara Apheng menjawab pertanyaanku. "Jadi, jangan paksa aku melakukan hal-hal yang konyol, menelponmu hanya untuk mengatakan.. hay! atau hello!", padahal kita tiap hari ketemu, lapor kalau ada tugas luar, padahal kamu bisa membaca di white board siapa-siapa aja yang sedang tugas luar. Bagiku ini buang waktu, kalau kamu mau melakukannya silakan, tapi jangan paksa aku melakukan hal yang sama," ada rasa lega saat mengatakan itu.

Kulihat Apheng tertunduk, "Aku hanya berusaha agar kau bisa mencintaiku, tapi kalau caraku salah, maafkan aku." Aku tergugu, tanpa pamit Apheng beranjak meninggalkanku. Sejak itu, aku memang tak pernah menerima telpon isengnya dan tak perlu lapor untuk hal-hal yang sepele. Aku kembali pada aktifitasku semula. Tapi ada sedikit yang tiba-tiba kosong di hatiku, tapi aku tak tahu apa namanya.    

Iseng, suatu hari aku mendatangi meja kerja Apheng. Sedikit berantakan memang, aku merapikannya. Tak ada yang aneh dan aku tak mengharapkan itu. Sebuah foto berukuran kecil terselip di antara buku, berdebar aku menariknya. Tertegun aku memandangi wajah di foto itu. Itu adalah fotoku saat ulang tahun perusahaan tiga tahun lalu. "Aku mengagumimu sejak lama, hanya saja kamu tak pernah tahu dan merasakannya," sebuah suara menyadarkan lamunanku. 

Apheng sudah berdiri di belakangku. Aku baru menyadari bahwa sekian lama aku tak menggubris pemuda ini, namun hatinya tak pernah berubah. "Kenapa kau mencintaiku, Pheng?" tanyaku tiba-tiba. Apheng menyeret sebuah kursi dan duduk di sebelahku. "Bukan karena apapun, aku mencintaimu saat melihatmu pertama kali dan itu sudah cukup bagiku." Aku hanya bisa tertunduk, cinta Apheng amat sederhana bahkan tak mampu kucerna dengan nalar.

Tapi kesederhanaan cinta itulah yang membuatku akhirnya memutuskan untuk menerima lamaran Apheng, meski tanpa mengetahui latar belakang keluarganya. Bagiku Apheng sudah cukup melengkapi hidupku. Namun ternyata kehidupan pernikahan tak se-simpel yang aku bayangkan. Tiba-tiba saja aku tak mengenali diriku sendiri. Memang tak ada yang menyuruhku untuk menyelesaikan semua pekerjaan rumah. Namun ada sebuah naluri untuk melakukan itu. Di samping tentunya sudah kewajiban istri.

Aku tersadar pada suatu siang dengan tubuh yang kelelahan. Apheng menemukanku sedang terduduk lemas di dapur. Membelai rambutku yang kusut masai dan membimbingku ke kamar. "Istirahatlah, biar aku yang selesaikan pekerjaanmu," ucapnya lembut. Aku hanya memandanginya dalam diam.

Sore saat aku terbangun dari tidur, dapurku sudah rapi, bahkan masakan sudah tertata di meja makan. Apheng muncul dengan rambut yang sedikit basah habis mandi, wajahnya terlihat bersinar. "Sorry, bukannya aku mau merampok pekerjaanmu. Aku hanya ingin agar saat kamu bangun, semua sudah selesai," ucapnya terbata-bata.

"Siapa yang memasak ini?" tanyaku. Dengan cepat Apheng menjawab, kalau ia yang memasak semuanya. "Maaf kalau rasa masakannya tidak sesuai dengan lidahmu." Bergegas aku mandi, membersihkan diri dan duduk di meja makan berhadapan dengan Apheng. Ada rasa bersalah telah membuat Apheng menyelesaikan pekerjaan rumah yang nota bene adalah pekerjaan perempuan.

"Kenapa kamu lakukan semua ini, Pheng?" aku berusaha mencari jawaban, meski aku belum siap mendengarnya. Aku merasa bersalah dengan enak-enakan tidur sementara Apheng melakukan pekerjaan rumah. "Sayang, sebuah rumah tangga kan terbentuk kalau ada suami dan istri. Dalam menjalankannya semua punya peran sendiri-sendiri. Namun bukan berarti yang satu tidak boleh membantu yang lain. Kalau kamu kecapekan, aku harus bantu, demikian juga sebaliknya," aku hanya terdiam kagum mendengar jawabannya.

Terlebih setelah mencicipi masakan Apheng. Aku hanya bisa menghela nafas. Masakan olahan Apheng lebih lezat ketimbang masakanku. Rasanya aku tidak salah memilih Apheng pria keturunan Tionghoa menjadi suamiku. Terlebih aku tidak salah memilih menikah ketimbang menjadi single woman. [Lena Lim / Kisaran] Sumber: Life of My live

Catatan: Ayo kita dukung Tionghoanews dengan cara mengirim email artikel berita kegiatan atau kejadian tentang Tionghoa di kota tempat tinggal anda ke alamat email: tionghoanews@yahoo.co.id dan jangan lupa ngajak teman-teman Tionghoa anda ikut gabung disini, Xie Xie Ni ...

ARTIKEL YANG BERKAITAN

Mari kita dukung kiriman artikel-artikel dari teman-teman Tionghoa, dengan cara klik "SUKA" dan teruskan artikel kesukaan Anda ke dalam facebook, twitter & googleplus Anda.

TERBARU HARI INI

ARTIKEL: INTERNASIONAL

ARTIKEL: BUDAYA

ARTIKEL: KEHIDUPAN

ARTIKEL: KESEHATAN

ARTIKEL: IPTEK

ARTIKEL: BERITA