KISAH | TIONGHOANEWS


Selamat datang berkunjung dalam situs blog milik warga Tionghoa Indonesia. Disini kita bisa berbagi berita tentang kegiatan/kejadian tentang Tionghoa seluruh Indonesia dan berbagi artikel-artikel bermanfaat untuk sesama Tionghoa. Jangan lupa partisipasi anda mengajak teman-teman Tionghoa anda untuk ikutan bergabung dalam situs blog ini.

Rabu, 07 November 2012

AKU PENYEBAB KEMATIAN AYAH DAN IBU

Sebut saja namaku Deni, aku anak bungsu dari empat bersaudara yang semuanya laki-laki. Sejak aku lahir aku memnag mendapat perlakuan khusus dari ayah da ibuku, maklumlah aku adalah anak terakhir dengan keadaan fisik yang tidak terlalu prima. Kata orang tuaku tubuhku sangat rentan dan lemah sehingga memerlukan pengawasan yang lebih dari ketiga kakak-kakakku.

Namun perlakuan istimewa itu berakhir saat aku mulai menginjak usia sepuluh tahun. Aku yang dilahirkan dengan keadaan fisik yang laki-laki, ternyata memiliki kelainan kejiawaan. Lagak, gerak  dan suaraku lebih dominan kearah yang lebih feminin. Aku sendiri baru menyadari keadaan itu setelah teman-teman sebayaku selalu memperolok aku sebagai seorang banci.

Namun keadaan tersebut tidak membuatku kesulitan dalam mendapatkan teman, justru keaadanku menjadi cukup rumit ketika aku berada di rumah ataupun dilingkungan keluarga besar kami. Karena ayah dan ibu selalu saja mengancamku untuk berlaku wajar saat berada dirumah famili-famili ayah atau ibu, padahal saat itu aku sudah berusaha bersikap layaknya seorang laki-laki tulen, namun apadaya hal itu tak membuatku diterima seratus persen bila berada di rumah.

Perubahan prilaku-ku semakin bertambah parah saat aku lulus dari bangku SMU, aku lebih menyukai berpakaian perempuan daripada berpakaian laki-laki. Hal itu membuat ayah, ibu dan kakak-kakakku marah besar. Aku disebutnya sebagai anak yang tak memiliki moral dan budi, bahkan ayah tak segan-segan menyiksaku demi keinginannya agar aku menjadi laki-laki sejati namun itu tak bisa mengubah apa yang terjadi dengan diriku.

Dan sejak penyiksaan serta intimidasi yang aku terima dari ayah, aku berniat untuk pergi meninggalkan kelurgaku, biarlah aku hidup sendiri, dari pada aku harus menerima penyiksaan yang dilakukan ayah, demikian pikirku waktu itu. Berangkatlah aku menuju kota Jakarta sekitar dua tahun silam tanpa sepengatahuan siapapun juga.

Di Jakarta aku kebetulan menemukan komunitas, dimana tempat para berkumpulnya orang-orang yang memiliki kelainan seperti aku. hampir satu tahun lamanya aku menjalani profesi sebagai pengamen jalanan, sebelum akhirnya aku diterima bekerja di sebuah salon di sekitar Jakarta Pusat.

Dan selama itu juga aku tak memberikan kabar kepada ayah maupun ibu, begitu juga mereka yang tak pernah tahu keberadaanku, atau mungkin tak pernah ingin tahu tentang keadaan dan kabarku, entahlah sepertinya rasa memiliki ayah dan ibu sudah tak lagi kumiliki. Namun terakhir aku bertemu dengan seorang tetangga dikampungku yang memberikan kabar mengejutkan tentang keluargaku.

Dari mulut Rahman (bukan nama sebenarnya) aku mendapatkan kabar bahwa ibuku telah berpulang kepangkuan Tuhan Yang Maha Esa. Dari Rahman pula, aku baru mengetahui bahwa sejak kepergianku, ibu mengaku menyesal telah memperlakukan aku secara tidak adil, dan ia juga berusaha mencari keberadaanku untuk meminta maaf, sampai akhirnya ajal menjemputnya, dan kabarnya ayah menyalahkanku atas kematian ibu.

Kepulanganku untuk menziarahi makam ibu disambut, kemarahan ayahku, namun untunglah kakak-kakakku berhasil menghalangi ayah yang ingin melabrakku. Dihadapan pusara ibu, aku memang merasakan kepedihan yang begitu dalam, apalagi saat mengingat masa-masa indah bersama ibu saat aku kecil, tatapan matanya, elusan lembut tangannya, juga kecupan hangatnya yang selalu ia berikan menjelang aku tidur dan itu membuat hatiku hancur berkeping-keping. Merasa bersalah dan berdosa saat itu menjadi satu.

Dan kesedihan itu bertambah parah saat aku berada dirumah, ayah yang mesih menyimpan amarah langsung memukul dan menyiksa aku, sementara kakak-kakakku tak bisa berbuat banyak. Mereka hanya diam mematung sambil sesekali juga melontarkan kata-kata yang turut menyalahkan aku. padahal saat itu aku berniat memohon ampun dan meminta ayah bisa menrimaku kembali, namun penyiksaan itu mambuat aku mengurungkan niatku itu, justru sebaliknya aku malah menyimpan dendam.

Singkat cerita, aku pulang dengan membawa luka sayatan hati dan juga luka fisik disekujur tubuhku. Keadaan itu membuat teman-teman di Jakarta menjadi sangat khawatir dengan keadaanku itu. Praktis selama satu minggu aku hanya terbaring lemah dikamarku, masih untung teman-temanku mau merawat dan memberiku semangat hidup yang saat itu mulai hilang.

Setahun sudah kulewati masa-masa sulit itu. Dan aku mulai menemukan kembali semangat untuk hidup. Tapi tiga bulan setelah itu, aku kembali mendengar kabar tentang ayahku, kali ini kakakku sendiri yang menyampaikan pesan lewat telepon jika ayah dalam keadaan sekarat dan sangat ingin bertemu aku, tapi aku menolaknya.

Akhirnya hingga ajal menjemput ayah, aku sekalipun tak pernah menemuinya lagi bahkan melihat pusaranyapun aku tak pernah. Dan saat itu semua kakak dan keluargaku masih saja menyalahkan aku, mereka bilang akulah penyebab utma kematian kedua orang tuaku. Benarkah aku yang menjadi penyebab kematian mereka? Entahlah aku tak mau  memikirkan hal itu lagi. [Denny Tan / Jambi] Sumber: Facebook

--
Berita | Internasional | Budaya | Kehidupan | Kesehatan | Iptek | Kisah | Kontak

PESAN DARI ADMIN

Mari kita dukung artikel-artikel kiriman dari teman-teman Tionghoa dengan cara klik "SUKA", kemudian teruskan ke dalam jejaring sosial anda "Facebook, Twitter, Google+, Dll". Ingat ! Anda juga bisa mengirim artikel ke dalam situs blog ini melalui email ini.


ARTIKEL YANG BERKAITAN

Mari kita dukung kiriman artikel-artikel dari teman-teman Tionghoa, dengan cara klik "SUKA" dan teruskan artikel kesukaan Anda ke dalam facebook, twitter & googleplus Anda.

TERBARU HARI INI

ARTIKEL: INTERNASIONAL

ARTIKEL: BUDAYA

ARTIKEL: KEHIDUPAN

ARTIKEL: KESEHATAN

ARTIKEL: IPTEK

ARTIKEL: BERITA