Ia bermarga "Lay" Dengan nama lengkap "Lay Kim Moi" Tetapi dalam kesehariannya ia dipanggil Kim. Ia berperangai lembut, penyayang dan berkeinginan untuk mandiri. Hanya sayang karena orang tuanya bukanlah orang yang berada, maka Kim hanya dapat menyelesaikan pendidikannya di bangku Sekolah Menengah Pertama kelas 1, itu pun tidak selesai, padahal Kim masih ingin sekali untuk sekolah.
Maklum di jaman 70-an, selain ekonomi keluarga yang masih sangat sulit juga adat Cina kuno yang masih kental melekat dalam pribadi setiap orang, apalagi orang-orang tua yang rata-rata merupakan generasi pertama atau kedua orang Cina yang mendarat di Kalimantan Barat, Pontianak, membuat mereka sungguh enggan untuk menyekolahkan anak-anaknya, terutama anak perempuan, karena mereka beranggapan anak perempuan sekolah tinggi-tinggi juga akhirnya hanya mengasuh anak dan mengurus dapur. Beda dengan anak laki-laki yang merupakan tiang penyangga bagi keluarganya sebagai pihak pencari nafkah.
Rumah itu sedikit anker jika dipandang lama. Terletak di desa Kaliasin yang mayoritas berpenduduk orang Cina khususnya suku Hakka, berjarak 3 km dari kota Singkawang. Dari jalan besar masuk melalui sebuah jalan kecil berpasir putih yang di kiri dan kanan terdapat banyak pohon kelapa yang tinggi. Jalan kecil tersebut berjarak sekitar 300m dari jalan raya. Rumah kayu nan tua itu dibangun dengan ketinggian sekitar hampir 1m dari permukaan tanah. Selain besar, juga luas dan panjang bak istana. Dikelilingi beratus-ratus pepohonan yang tinggi dan lebat. Bukan hanya itu, di pinggiran rumah juga terdapat pohon yang dijadikan pagar tinggi menyerupai kandang, termasuk di dalamnya kandang ayam, bebek dan juga babi. Untuk keamanan, istana itu dijaga oleh berpuluh-puluh ekor anjing yang garang. Jika malam tiba hanya gelap gulita yang ada, maklum daerah itu belum juga dialiri listrik. Maka tidaklah heran jika hari mulai gelap nyamuk-nyamuk nakal pun mulai berpesta. Di istana itulah Kim berdiam bersama keluarga besarnya. Kedua orang tuanya dan saudara laki-laki beserta keponakan-keponakannya. Kim memiliki dua orang kakak perempuan yang kini menetap di Jakarta, dan seorang kakak laki-laki yang telah memiliki empat orang anak, yaitu Bun, Nga, Cie dan Lu, dan dalam hitungan beberapa bulan mendatang, mereka akan segera memiliki adik lagi yang kini tengah dalam kandungan.
Di siang hari suasana rumah kayu itu terasa adem, angin yang bertiup menembus celah-celah pohon sibuk menggoyangkan dedaunan, membuat hawa suasana terasa sejuk dan nyaman. Dari arah pintu besar masuk, rumah itu memiliki tiga kamar tidur yang besar, lurus ke samping terdapat dapur yang besar juga termasuk sebuah meja makan kayu yang tidak kalah besarnya. Dari pintu samping kecil itu menuju ke kandang ayam dan bebek, juga kebun. Dari arah dapur menuju pintu kecil tepatnya di belakang dapur, terdapat tumpukan kayu bakar guna sebagai alat pembakar untuk tungku api. Dengan jarak kurang lebih 150m, beralaskan jalan berupa bekas pohon kelapa, di situ terdapat sebuah sumur yang dibingkai kayu bersegi empat seadanya dengan kedalaman kurang lebih 200m, di samping sumur terdapat sebuah kamar mandi yang terbuat dari kayu, di dalamnya diletakkan sebuah drum plastic yang sangat kumal dengan corong seng menuju ke sebuah lubang yang menghadap ke luar, yaitu dijadikan tempat aliran air sumur yang ditimba dengan ember yang juga tidak kalah kumalnya. Maklum, begitulah kehidupan di kampung apalagi di dalam pelosok desa kaliasin seperti ini.
Ayah Kim adalah seorang pekerja karet. Sedangkan ibunya bertani. Di samping itu mereka juga memelihara babi, ayam dan bebek. Begitulah keseharian dalam kehidupan mereka. Termasuk Kim yang harus bangun pagi untuk membantu ibunya. Dari menghidupkan api dengan kayu bakar dan memasak makanan untuk babi, menimba air di sumur sampai mengasuh keponakan yang sangat disayanginya. Ia juga gemar bermain dengan teman-temannya, dan setiap sore ia harus berangkat ke kota Singkawang dengan bersepeda kaki untuk mengikuti kursus menjahit.
***
Suatu sore yang cerah. Matahari bersinar indah. Ketika Kim pulang dari kursus menjahit, ia heran ketika dilihatnya ada beberapa orang yang tengah bertamu di rumahnya. Seorang wanita yang sudah berumur dengan seorang pemuda yang sama sekali tidak dikenalnya, mereka tampak asyik berbincang-bincang dengan ayah dan ibu Kim, sesekali terdengar suara riuh mereka yang penuh canda juga penuh tawa. Pemuda itu berwajah tampan, bertubuh kurus, sedikit jangkung dan cukup tinggi.
"Namanya Djit, ia bermarga "Jiu" Dengan nama lengkap "Jiu Djit Min" dan wanita tua tadi adalah ibunya. Kita masih ada hubungan keluarga dengan mereka. Maksud ibu, keluarga jauh dan kami bermaksud untuk menjodohkan kalian!" Kata ibu Kim yang sedang memasak dengan tungku api di dapur yang berlantaikan kayu, ia tersenyum sambil menatap anak gadisnya. Kim yang sedang menata piring-piring besi di meja makan kayu tiba-tiba menghentikan pekerjaannya dan membalas tatapan ibunya dengan wajah penuh tanda tanya.
"Hah! Ibu dan ayah akan menjodohkanku dengan pemuda tadi?" Tanya Kim terkejut. Sang ibu hanya kembali tersenyum dan mengangguk.
"Tetapi, aku belum mau menikah, ibu! Aku ingin ke Jakarta ikut kakak kedua!" Kata Kim lembut. Walaupun dari nada bicara terdengar hatinya sungguh kecewa.
"Iya, usiamu sudah 20 tahun. Apa lagi yang kamu tunggu?" Sambung kakak laki-lakinya yang tiba-tiba muncul di pintu tengah dengan wajah serius.
"Jangan khawatir anakku, kami akan mengatur semua acara perkawinanmu. Jika kamu setuju, ibu dari pemuda itu akan segera mengirim Mak Comblang yang akan menjadi perantara kalian, dia yang akan menghubungkan dua keluarga besar kita." Lagi-lagi sang ibu menjelaskan sambil tersenyum.
"Aku belum mau menikah, ibu! Aku masih ingin bekerja, bekerja apa saja." Kim mulai menegaskan kata-katanya. Ia lalu melangkah pergi memasuki kamarnya. Sang ibu hanya menarik nafas panjang tanpa bersuara. Sepertinya ia juga tidak bisa memaksa anak gadisnya untuk menikah, bukankah itu adalah haknya Kim untuk mau menikah atau tidak?
Kim terpaku dan berdiam diri di dalam kamar. Tak sepatah kata pun kini yang keluar dari bibir manisnya. Wajahnya sangatlah murung. Ada ketakutan dan kekhawatiran di dalam hatinya. Tetapi apalah daya, ini adalah tradisi, kebudayaan bagi adat Cina kuno. Perempuan di atas 17-an tahun harus segera dikawinkan, karena jika tidak bagi yang menjadi orang tua pasti akan mengkhawatirkan anak perempuannya bakal menjadi perawan tua. Jika mereka melewati usia-usia itu ditakutkan kelak mereka akan kesulitan dalam mendapatkan jodoh. Terlebih lagi jika tidak mendapatkan jodoh berarti tidak menikah, selain akan menjadi buah bibir bagi masyarakat, juga dipenuhi sejuta kekhawatiran entah bagaimana nasib mereka sewaktu usia di ujung senja? Tidak menikah sama dengan tidak memiliki keturunan, siapa yang akan merawat dan memelihara mereka nantinya? Dan yang paling dikhawatirkan oleh setiap orang cina kuno adalah siapa yang akan mengingat, mengenang dan merawat jasad dan kuburan mereka kelak setelah meninggal? Oleh sebab itu, pada umumnya setiap orang diharuskan untuk memiliki jodoh dan juga keturunan, ini adalah tradisi wajib yang merupakan keharusan. Istilahnya "tidak boleh tidak"
Tanpa disadari hidup seperti ini adalah hidup yang penuh dengan lingkaran ritual, pada umur segini haruslah begini, pada umur segitu haruslah begitu. Jika seseorang yang tidak mau memenuhi lingkaran ritual itu, maka ia akan dianggap aneh dan menjadi buah bibir bagi orang banyak bak mendapati hukuman moral secara mental.
Awal Tahun 1975.
Hari demi hari, tanpa terasa setengah tahun telah berlalu. Kim sangat giat bekerja, ia telah lulus kursus menjahit. Dan kini ia juga menerima orderan dari pelanggannya, entah teman, para tetangga ataupun keluarga yang telah menjadi pelanggan setianya. Selain itu, Kim juga menjual kerupuk yang terbuat dari ubi, mula-mula ubi dicincang halus, dijemur hingga mengeras, lalu digoreng sepotong demi sepotong, kemudian dibungkus dengan plastik kecil. Setelah itu dengan mengayuh sepeda, Kim akan berkeliling ke warung-warung untuk menjajakan kerupuk ubinya. Dihitung-hitung lumayanlah hasil penjualan tersebut untuk menambah penghasilannya. Kesibukan sehari-hari membuat Kim melupakan tawaran untuk menikah dengan pemuda bertubuh kurus dan sedikit jangkung itu.
Sampai suatu hari. Tawaran itu datang lagi. Kabar itu kini dikirim oleh seorang wanita tua yang mengaku sebagai Mak Comblang kepada ibunya Kim.
***
"Anakku, umurmu sudah 21 tahun. Kalau tidak menikah, kamu mau kemana? Tidak selamanya kamu bekerja seperti ini, bukan?" Bujuk sang ibu dengan nada khawatir.
Kim kembali terdiam dalam seribu kata. Hatinya terasa gundah, gelisah yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, dari wajahnya terpancarkan kepedihan, sejuta kekhawatiran dan ketakutan kini kembali menghinggapinya. Di lain pihak, ia juga tidak tega membiarkan ibunya terus menerus mengkhawatirkan hidup dan masa depannya, ia juga telah berjanji dalam hati untuk tidak mengecewakan kedua orang tuanya. Setelah berpikir sesaat, akhirnya ia menganggukkan kepala tanda setuju. Yah, Kim telah memutuskan yang dianggap terbaik dalam hidupnya, ia menyetujui dan menerima tawaran pernikahan itu! Kim akan segera menikah dengan pemuda yang bernama Djit.
Sebulan kemudian, acara pertunangan pun digelar di rumah Kim. Hari pertunangan itu jatuh pada bulan Agustus 1975. Acara pagi itu dimulai dari Mak Comblang yang mendatangi rumah Kim. Ia membawa sebuah keranjang rotan berbentuk bulat yang berisi buah-buahan berupa jeruk yang di atasnya ditaburi sedikit permen. Di samping keranjang ada undangan, permen dan mas kawin. Buah-buahan sebagai simbol kekeluargaan dan rezeki, undangan berwarna merah berupa pemberitahuan kepada teman, sanak saudara dan famili, undangan tersebut harus disebarkan bersamaan dengan permen. Sedangkan mas kawin berupa 2 buah gelang emas dengan model keroncong dan uang tunai sebanyak Rp200rb, di mana dengan uang tunai inilah Kim akan membeli hantaran pada saat hari pernikahan itu tiba. Pada saat Mak Comblang menyerahkan barang-barang tersebut, keluarga pihak Kim harus membalasnya dengan perjamuan sederhana, berupa acara minum teh bersama dengan diselingi makanan kecil, entah kue-kue, agar-agar ataupun makanan lainnya.
Pada hari pertunangan ini, Kim tidak diperbolehkan untuk bertemu dengan Djit. jadi sampai saat ini, Kim belum juga mengenal Djit, begitu juga sebaliknya Djit belum mengenal Kim. Setelah malam tiba, Djit baru diperbolehkan untuk menemui Kim yang kini berstatus sebagai tunangannya. Keduanya baru mulai diperkenalkan dan saling belajar mengenal antara yang satu dengan yang lain.
Setelah acara pertunangan dilakukan, baru akan ditentukan hari pernikahan. Lagi-lagi di saat-saat seperti ini Mak Comblang yang akan lebih sibuk lagi dari sebelumnya. Sibuk untuk mondar-mandir dan bolak-balik menuju rumah kedua keluarga besar Kim dan Djit. Ia akan menyampaikan pesan dari keluarga besar Djit kepada keluarga besar Kim, begitu juga sebaliknya. Jika ada pesan ataupun sesuatu yang hendak ditanyakan oleh keluarga besar Kim, Mak Comblang itu akan siap untuk menyampaikannya kepada keluarga besar Djit. Demikianlah Mak Comblang itu benar-benar berupa perantara yang telah menjadi jembatan untuk menghubungkan dua keluarga besar. Maklum jaman-jaman seperti ini belum ada makhluk yang bernama telepon apalagi yang namanya ponsel, kadang untuk mengirim secuil informasi saja sangatlah sulit walaupun berjarak sungguh dekat.
Atas persetujuan dua keluarga besar, maka pernikahan Kim dan Djit akan dilaksanakan tahun depan, sekitar hampir satu tahun sejak pertunangan mereka dilakukan. Di saat-saat itulah dijadikan waktu bagi Kim dan Djit untuk saling mengenal antara keduanya, istilahnya pacaran. Dengan sepeda kaki onthel, Djit biasa membonceng Kim untuk keluar rumah. Kadang bersama teman-teman lain mereka pergi ke Taman Pasir Panjang, bersantai ria dan berjalan di sepanjang pantai yang panjang dan berpasir indah. Karena menurut budaya cina kuno waktu itu, seorang perempuan tidaklah boleh sembarangan dibonceng oleh lelaki, apalagi sebelum bertunangan ataupun menikah, jika hal itu sampai terjadi, sang perempuan akan menjadi buah bibir dan akan merasa malu sekali.
Awal Juni, Tahun 1976.
Pesta pernikahan Kim dan Djit akan dilaksanakan 1 minggu lagi. Menurut kebudayaan adat Cina kuno, pesta berupa perjamuan sederhana yang akan diadakan terbagi ke dalam dua bagian. Ini menjadikan undangan yang disebar juga dipecah menjadi dua. Dengan aturan, bagi undangan yang untuk disebarkan oleh pihak mempelai wanita, nama kedua mempelai di dalam undangan harus diawali dengan nama dari mempelai wanita itu sendiri. Begitu sebaliknya, undangan yang untuk disebarkan oleh pihak mempelai pria, nama kedua mempelai yang dicantumkan di dalam undangan akan diawali dengan nama mempelai pria.
Sedangkan dua bagian pesta berupa perjamuan sederhana yang dimaksud adalah, yang pertama adalah pesta yang digelar oleh pihak keluarga calon mempelai wanita. Pesta tersebut akan digelar oleh keluarga besar Kim 2 hari sebelum hari H pernikahan, oleh sebab itu undangan untuk pihak keluarga perempuan sudah harus disebarkan 3 atau 4 hari sebelum pesta digelar.
***
Bagian yang kedua, adalah pesta yang akan digelar oleh pihak keluarga calon mempelai pria pada hari H pernikahan. Mengenai undangan juga sama seperti pihak perempuan, sudah mesti disebarkan 3 atau 4 hari sebelum acara pesta itu digelar.
Hari itu rumah Kim tampak ramai oleh sanak saudara dan family sampai keluarga jauh sekalipun. Ini adalah hari yang sangat istimewa bagi Kim, karena merupakan hari di mana digelarnya pesta sederhana oleh keluarga besarnya selaku pihak calon mempelai wanita. Pesta tersebut pun akan kembali dipimpin oleh Mak Comblang. Semua anggota rumah tengah sibuk dengan tugasnya masing-masing. Para koki tengah sibuk di dapur mempersiapkan hidangan makanan untuk tamu dan para undangan. Mereka sebenarnya telah bekerja dari subuh, maklum karena mereka mesti memasak dengan menggunakan tungku api, bukankah untuk menghidupkan api dari kayu bakar saja sudah harus memakan waktu berjam-jam?
Kim yang mengenakan gaun yang sangat sederhana berwarna pink itu tampak sibuk melayani para tamu. Termasuk teman-teman, sanak saudara dan family lainnya. Selama pesta ini berlangsung, lagi-lagi Kim tidak diperbolehkan untuk bertemu dengan Djit selaku calon suaminya, maka menurut aturan yang ada Djit tidak diijinkan untuk datang ke pesta.
Para tamu dan undangan kini tengah mengerumuni Kim yang berada di dalam kamarnya. Kamar Kim penuh dengan hantaran pernikahan. Hantaran tersebut berupa barang-barang yang dibeli oleh Kim sendiri, juga berupa kado dari teman-teman serta sanak saudara dan family. Adapun barang-barang yang harus dibeli oleh Kim sebagai hantaran adalah baskom, handuk, sapu tangan, baki, pispott dan sepasang gelas minum besar. Baskom tersebut merupakan baskom dengan ukiran huruf "Sung Hie" dan akan digunakan oleh Kim pada hari kedua setelah pernikahan, Kim harus mengisinya dengan air bersih lalu diberikan kepada Djit untuk mencuci muka. Setelah mencuci muka Djit akan mengeringkan wajahnya dengan Handuk yang disodorkan Kim. Sapu tangan merupakan penghias saja, di mana akan diletakkan ke dalam saku celana sang suami setiap ia bepergian. Tidak kalah dengan baskom, baki juga harus berukiran "sung hie" Yang kerapkali digunakan setiap pagi untuk mengantar minuman kepada sang suami. Pispott juga sama, harus berukiran "Sung Hie" dan ini akan digunakan oleh Kim sewaktu melahirkan anak pertamanya. Sedangkan sepasang gelas minum berukuran besar dengan ukiran "Sung Hie" juga tidak kalah stand bye di antara barang-barang lainnya. Sepasang gelas ini memberikan simbol kebersamaan, dan akan digunakan oleh Kim setiap paginya sewaktu membuat minuman.
Sedangkan kado dari teman-teman dan juga sanak famili, dapat berupa gelas kaca yang dibungkus berkotak-kotak, handuk yang diikat dengan tali pita merah, jam dinding, beberapa stel bahan kain , dan juga cermin gantungan yang penuh dengan tulisan merah, tulisan itu dapat berupa ucapan selamat ataupun nama dari sang pemberi kado. Hantaran pernikahan tersebut menurut aturan akan dibawa atau dipindahkan oleh Kim ke rumah Djit di keesokan harinya.
Di hari pernikahan ini, menurut aturan yang ada, semua barang yang dijadikan hantaran harus ditempeli dengan huruf "Sung Hie" yang dalam bahasa mandarin diartikan sebagai "Kebahagiaan" dengan harapan kehidupan setelah pernikahan nantinya akan lancar, sukses, akur, langgeng dan bahagia selamanya. Karena orang tua Cina kuno selalu mengajarkan kepada anak perempunnya jikalau "Sebaiknya mengenakan gaun pengantin itu hanya sekali saja seumur hidup" itu berarti mereka selalu mengharapkan anak-anaknya untuk menikah hanya satu kali dalam hidup mereka.
Hari mulai gelap dan pesta pun usai. Jam telah menunjukkan pukul 07 malam. Setelah sibuk melayani para tamu dan undangan seharian. Kim pun tampak kelelahan. Ia pun bergegas mandi untuk membersihkan dirinya lalu segera beristirahat.
Malam tak berbintang dan hanya beratapkan langit. Hati Kim sungguh gundah, satu hari lagi pernikahan Kim akan dilaksanakan. Hal ini membuat hati Kim semakin berdebar. Sejuta perasaan tengah berkecamuk di dalam hatinya. Ada perasaan takut, khawatir, gundah, perasaan tidak rela untuk meninggalkan ibunya, dan masih banyak lagi, di mana perasaan itu mungkin tidaklah bisa diungkapkan dengan kata-kata. Kim mencoba menarik nafas panjang lalu menghelanya untuk sedikit melegakan hatinya, ia mencoba memejamkan mata dan berusaha untuk mengalahkan semua perasaan tak menentu yang tengah menghinggapinya.
***
Hari Ke-10, Bulan Ke-5. Menurut penanggalan Imlek. Tahun 1976.
Akhirnya hari yang mendebarkan hati Kim itu pun tiba. Hari yang ditunggu-tunggu oleh keluarga besar Kim. Inilah hari H pernikahan Kim dan Djit. Acara dan pesta pernikahan akan dipimpin oleh Mak Comblang.
Pagi itu, subuh-subuh Kim sudah bangun, karena ia harus siap untuk dirias oleh tukang bridal. Mula-mula rambut Kim yang dirias terlebih dahulu, menyerupai sanggul berupa tempat diletakkan mahkota pengantin dan pengkait "Lo Pha" yang berbentuk kain yang sangat tipis seperti bahan untuk kelambu, guna sebagai cadar atau penutup wajah pengantin wanita. Sesudah riasan rambut, giliran wajah Kim yang akan dimake-up. Setelah selesai semua, kini saatnya Kim akan mengenakan gaun pengantin, berwarna serba putih dipadankan dengan sepatu tinggi putih juga. Di mana sepatu tinggi putih ini merupakan sepatu yang khusus dipesankan oleh Kim kepada pembuat sepatu dengan corak dan model yang istimewa. Riasan diakhiri dengan pemasangan "Lo Pha" yang bertujuan sebagai cadar untuk menutup wajah Kim.
Tepat pukul 07.00 pagi. Djit selaku pengantin pria tiba di rumah Kim dengan menggunakan mobil Chevrolet tua. Djit tampak gagah dengan kostum berupa stelan jas hitam dengan dasi yang bermotif garis-garis, dipadu dengan celana panjang hitam pula ala tahun 60-an. Ia juga membawa seikat bunga segar yang telah dirangkai dengan indah. Sementara tukang foto siap untuk mengambil gambar dengan kamera yang sangat sederhana di tangannya.
Setelah memasuki pintu besar rumah Kim, di ruang tamu Djit akan menunggu Kim yang akan berjalan keluar dari kamarnya dengan diantar oleh kedua orang tuanya. Para tamu tampak mengerumuni acara tersebut. Maklum di daerah perkampungan tempat Kim, mungkin bagi mereka acara-acara seperti ini merupakan suatu tontonan yang sangat menarik. Dalam hitungan menit, akhirnya Kim pun berjalan keluar perlahan dengan digandeng oleh ayah dan ibunya. Tangan Kim tengah memegang sekuntum bunga. Mata ayahnya tampak berkaca-kaca, begitu juga dengan ibunya, mungkin di dalam benak mereka ini adalah hari terakhir bagi mereka untuk bersama-sama dengan putri yang sangat mereka cintai.
Acara selanjutnya adalah penyerahan Kim oleh kedua orang tuanya kepada Djit. Kedua tangan Kim yang digandeng oleh ayah dan ibunya kini diserahkan kepada Djit. Ini merupakan simbol jikalau kedua orang tua tersebut akan menyerahkan dan melepaskan anak perempuannya kepada calon suaminya. Yang selanjutnya akan pergi dan meninggalkan mereka untuk tinggal bersama dengan suaminya. Dengan wajah penuh kebahagiaan, Djit menerima tangan Kim, lalu menggenggamnya lembut. Setelah keduanya bergandengan, tiba saatnya kini untuk menukar bunga. Djit akan memberikan seikat bunga kepada Kim, dan Kim akan membawanya sepanjang acara pernikahan. Sedangkan Kim akan memberikan sekuntum bunga untuk Djit yang akan disematkan di saku stelan jas hitamnya.
Setelah acara penukaran bunga, kini tiba saat Djit untuk membuka cadar Kim. Cadar tersebut dibuka oleh Djit dengan sangat pelan dan diakhiri dengan tepuk tangan dari sanak saudara dan famili yang berada di sekeliling mereka.
Acara berlanjut kepada acara minum teh. Yaitu pengantin pria maupun wanita akan bersamaan menuangkan teh kepada para kerabat dan famili secara berpasangan, atau perorangan bagi yang sudah tidak memiliki pasangan lagi, dari yang deretan tertua sampai kepada yang termuda, seperti saudara dari pihak ayah, ibu, nenek, kakek ataupun keluarga jauh yang dianggap pantas. Ini merupakan simbol penghormatan kepada kerabat khususnya kerabat yang lebih tua secara garis generasi atau keturunan. Setiap menuangkan teh, pengantin pria maupun wanita diharuskan untuk berlutut sebelumnya sebagai tanda memberi hormat. Setelah pengantin menuangkan teh, para kerabat akan membalasnya dengan memberikan "Angpau" berupa kertas merah yang berisikan uang. Ini adalah acara terakhir, setelah acara minum teh selesai, Djit akan membawa Kim untuk pergi dan memasuki rumahnya.
Mobil Chevrolet itu berhenti tepat di depan rumah Djit. Rumah yang terletak di pinggir jalan itu telah ramai ditungguin oleh para kerabat dan sanak famili, termasuk kedua orang tua Djit. Kim dan Djit selaku pengantin bagaikan raja dan ratu sehari itu pun disambut dengan sorak-sorai penuh keriuhan. Mereka mulai melangkah keluar dari mobil dan segera memasuki rumah.
***
Acara pertama setiba di rumah pengantin pria adalah acara minum teh. Acara dan aturannya sama dengan acara minum teh di rumah Kim sebelumnya. Sesudah acara minum teh, dilanjutkan dengan memasuki kamar pengantin yang sudah didekor khusus. Kamar itu sungguh indah bagaikan kamar raja, ranjang dan lemari dihias dan penuh dengan hantaran pernikahan. Pemandangan ini tidak jauh dari warna merah dan huruf "Sung Hie" yang memang merupakan simbol khusus orang Cina.
Selesai acara tersebut, langsung diteruskan dengan penyelenggaraan pesta pernikahan berupa perjamuan sederhana yang dilakukan di rumah Djit juga. Dengan masih tetap mengenakan pakaian pengantin, Kim dan Djit melayani para tamu undangan, kerabat, sanak famili, teman ataupun sahabat dan juga keluarga jauh lainnya. Hanya saja di tengah perjamuan berlangsung, Kim harus mengganti gaun, gaun tersebut berwarna pink dengan model ala tahun 60-an. Setelah mengganti gaun, Kim akan menuangkan arak berupa bir ke cawan para tamu, oleh sebab itu menurut kebudayaan, gaun ini disebut sebagai gaun khusus untuk menuangkan arak.
Pesta telah usai malam pun tiba. Para tamu dan undangan lainnya mulai pulang dan meninggalkan rumah Djit. Sementara beberapa pembantu tengah sibuk membereskan dan mengemasi peralatan makan, ayah Djit tampak bahagia dengan senyuman di wajahnya. Ia lalu memanggil Kim dan Djit, kemudian menyuruh mereka untuk duduk di hadapannya.
"Kim! Djit!" Panggil sang ayah dengan nada bijak. Maklum beliau adalah seorang guru. Tidaklah heran jika penampilannya juga sangat terpelajar.
"Iya, ayah!" Kim dan Djit menyahut dengan hormat.
"Kalian telah dijodohkan dan kini sudah menikah. Maka dari itu, mulai sekarang kalian harus belajar saling mencintai satu sama lain. Pupuk keluarga kalian dengan saling setia, penuh cinta kasih, saling menjaga, melindungi dan memelihara. Ayah yakin kalian berdua pasti bisa melakukannya!" Ayah Djit kembali tersenyum dengan giginya yang indah.
"Baik, Ayah!" Kim dan Djit saling memandang, lalu menyahut bersama. Dan mereka pun kembali tersenyum. Senyuman yang penuh kebahagiaan.
Pontianak, Kalimantan Barat, Indonesia.
Pertengahan Mei, Tahun 1983.
Jam menunjukkan pukul 04.00 subuh. Hujan masih terdengar rintik-rintik di luar sana. Di rumahnya sendiri berupa rumah kayu bertingkat dua yang sederhana, Djit berdiri di luar pintu kamar dengan wajah gelisah. Hatinya sungguh berdebar, maklum ia tengah menantikan kelahiran anaknya yang ketiga. Sementara dua orang bidan tengah bekerja keras membantu persalinan di dalam kamar.
"Tuan Djit! Selamat, putra anda telah lahir dengan sempurna." Kata seorang bidan yang baru saja membuka pintu kamar sambil tersenyum. Jam dinding menunjukkan tepat pukul 04.45 subuh.
"Terima kasih, ibu bidan!" Jawab Djit dengan senyum penuh kebahagiaan. Lalu ia pun segera melangkah masuk ke dalam kamar untuk melihat Kim, sang istri dan bayinya yang baru lahir.
"Kita mendapatkan seorang putra lagi, Djit!" Kata Kim yang tengah tergolek di pembaringan dengan suara yang masih lemah.
"Iya, aku sangat bahagia. Kita telah memiliki dua orang putra dan seorang putri." Kata Djit sambil tiada henti menyunggingkan senyum. Kim yang mendengarnya pun ikut tersenyum, hatinya tengah diselimuti kebahagiaan yang tiada tara.
"Aku akan membawa anak-anak untuk melihat adik kecilnya!" Kata Djit lagi. Lalu ia pun membangunkan anak pertamanya, Bun yang baru berumur 6 tahun.ombangunkan putri semata wayangnya, Ing yang berumur 5 tahun.
"Ayo, bun dan ing! Lihat, Ini adalah adik kalian. Lucu seperti kalian, bukan? Anak-anakku, Ayah akan menamakan adik kalian ini, Jung yang berarti ombak. Ombak yang besar, berani dan tangguh. Ayah berharap kelak ia besar nanti, ia akan tangguh dan berani seperti Julius Caesar, seorang pemimpin yang sungguh luar biasa." Kata Djit sambil merangkul kedua anaknya.
"Kelak kalian bertiga harus selalu bersatu. Darah, daging dan tulang belulang kalian sampai di mana pun tetap bermarga Jiu. Kalian haruslah saling menjaga dan membantu antara satu dengan yang lain. Bun sebagai kakak tertua harus bisa menjaga dan melindungi adik-adikmu. Sedangkan Ing, karena kamu seorang perempuan, kamu harus bisa melindungi dirimu sendiri! Dan Jung, engkau harus berani dan tangguh, anakku! Itu adalah bekal untuk hidupmu nanti. Aku bangga menjadi ayah kalian!" Sambung Djit lagi sambil menatap anak-anaknya.
***
Begitulan kisah cinta Kim dan Djit. Biarpun pernikahan mereka merupakan hasil perjodohan oleh orang tua mereka, tetapi mereka tetap bisa hidup dengan bahagia. Saling setia, menjaga dan mencintai hingga masa tua mereka. Sungguh suatu teladan hidup yang pantas diacungkan jempol dan patut diteladani. Dan kukatakan kalau aku bangga menjadi salah satu anak dari mereka.
Ayah dan ibuku, aku mencintai kalian semua. Bagiku kalian adalah orang tua yang paling baik sedunia. (Yinnihuaren/Ing)
TAMAT
cer
