Benito memintaku menunggunya di sini. Sudah satu setengah jam. Selama itu juga hapeku terus menerus berdering mengabarkan macet setiap seperempat jam diiringi maaf bertubi-tubi. Aku dengan suara malaikatku selalu menjawab tidak apa-apa, walaupun di dalam hati aku sibuk memaki.
Seandainya saja aku tidak begitu merindukan Benito, aku takkan sudi berada di sini, di antara gerimis dan malam. Benito, seumuran denganku, beda sekolah, dan dipanggil Be oleh semua temannya.
Be orang yang amat sangat pendiam. Kemampuannya untuk menelponku setiap seperempat jam kali ini patut dibanggakan. Dia juga termasuk dalam golongan techno freak. Begitu menggilai segala macam hal yang berkaitan dengan teknologi. Dan aku tertegun saat mengetahui bahwa dia juga menggilai aku. Tak cukup jika disaingkan dengan gilanya pada teknologi, tapi cukup untuk membuatku terharu saat tahu dia benar-benar menyukai aku.
“Ta...,” sebuah suara terdengar pelan di tengah gerimis yang mulai menggila.
Kuangkat kepalaku dan mendapati sosok Benito di depanku. Entah sejak kapan dia berdiri di situ memegang segelas kopi panas. “Sini,” seruku sambil menepuk lengan kursi di samping kiriku.
Be menurut. Diletakkannya kopi itu di meja, melirik sekilas ke gelasku yang terlihat hampir kosong, dan duduk di kursi itu. “Mau kupesankan kopi lagi, Ta?” tanyanya sambil memandangiku lembut. “Tidak usah,” jawabku jengah. “Tumben ajak ketemu, Be?”
Be tidak langsung menjawab. Kedua tangannya bertaut sibuk memegang gelas kopi. Bibirnya bersentuhan dengan bibir gelas. Kesempatan ini kugunakan untuk memandanginya. Dia masih seperti Be yang kukenal dulu. Be yang pernah mengisi hari-hariku. Kulitnya yang memang kuning langsat menjadi pucat terkena dingin malam. Mata kecilnya menyipit menghindari kepulan panas kopi dari dalam gelas saat bibir tipisnya meneguk isinya pelan-pelan. Rambutnya masih saja gondrong untuk ukuran anak SMA. “Aku kangen kamu, Ta.” Perkataannya yang begitu tiba-tiba membuatku kaget. “Oh ya?” aku tak bisa lagi memikirkan jawaban yang lebih baik dari itu. “Banget.” Bibirnya menyunggingkan seulas senyum. Manis sekali.
Oh Tuhan, lain kali jika ada kesempatan menukarkan gerimis dan malam dengan senyum Be itu, aku tidak akan memaki lagi. “Aku ingin minta maaf,” kata Be lirih, masih memandangiku. “Untuk?” “Untuk semuanya. Terutama untuk ketololanku karena tidak mempercayai kamu, Ta.” Matanya meredup seketika. Jemarinya yang halus menyentuh jemariku, membawanya ke bibir, dan mengecupnya pelan.
Seluruh badanku gemetar. Ternyata aku masih sangat mencintainya. Sudah satu tahun tapi perasaanku masih tetap sama. Aku masih mencintainya. Sangat mencintai seorang Be. Bahkan jauh melebihi Bramantyo. Ah, Bramantyo. Aku terseret lagi dalam pusaran kenangan masa lalu saat mengingat nama itu. Saat semua cerita ini berawal darinya.
Benito dan Bramantyo bersahabat. Erat. Disatukan dalam satu kelompok persahabatan yang lebih besar. Mereka berdua, ditambah Muhazir Yusuf, Dwiky Asrial, Iboy Saragih, dan Jenny Sinulingga.
Mereka berenam bersahabat sejak kecil. Oh tidak, sebentar. Mereka berlima; Be, Azir, Dwiky, Iboy, dan Jenny. Bram datang belakangan. Dia disambut dengan tangan terbuka oleh lima sekawan itu. Jadilah mereka berenam bersahabat erat. Dalam persaudaraan brotherhood yang sangat kental.
Be dan Bram. Dua nama yang saling melekat. Di mana kau bisa melihat Be, bisa dipastikan kau akan menemui Bram di tempat yang sama. Hanya mereka berdua yang satu sekolah. Sehingga mudah untuk ditebak, mereka lebih dekat satu sama lain. Be rela mati demi Bram. Dan Bram.... Ah..., apakah Bram rela mati demi Be? Itu yang seharusnya menjadi pertanyaan besar.
Aku masuk dalam kehidupan mereka berdua dua tahun silam. Be memenangkan kejuaraan IT di sekolahku. Dia yang paling cemerlang saat itu. Matanya memancarkan sejuta kebahagiaan. Bibirnya tak pernah lelah menyunggingkan senyum. Aku pun jatuh cinta. Dia juga. Walaupun toh tidak sejatuh aku. Beberapa bulan kemudian kami berpacaran.
Tiga bulan awal hubungan kami sangat indah. Semua berjalan normal. Hingga suatu hari.... “Kamu melamun, Ta?” suara Be membuyarkan lamunanku. Aku tergeragap. “Mmhh,” aku bergumam lirih. “Memikirkan apa?” “Kita. Dulu.” Aku menatapnya sendu.
Be meremas tanganku lagi. “Maaf. Maaf.” Bibirnya bergerak menyenandungkan maaf tanpa suara. “Maukah kau menjelaskan bagaimana itu bekerja? Bagaimana kau bisa tahu semua? Mungkin terlambat. Sudah satu tahun. Dan aku baru memintamu menjelaskannya sekarang,” kata Be terbata-bata.
Aku tersenyum. Kutepuk-tepuk tangannya. “Tidak apa-apa. Better late than never.”
Aku terlahir istimewa. Ya ya, aku tahu semua orang di dunia ini terlahir istimewa. Semua orang mempunyai bakat dan keahlian masing-masing. Tapi, aku beruntung karena mendapatkan satu bonus kemampuan yang hanya dimiliki sedikit orang di dunia ini. Aku bisa melihat masa depan.
Sebetulnya kemampuanku ini tidak patut dibanggakan. Bahkan mungkin tidak bisa disebut keahlian. Mungkin hanya keberuntungan saja. Aku tidak bisa melihat masa depan dengan bola kristal, garis tangan, kartu tarot, atau daun teh. Aku tidak bisa melihat masa depan orang lain yang tidak berhubungan denganku. Aku juga tidak bisa melihat masa depanku sendiri dengan sengaja. Jadi aku hanya bisa mengetahui sesuatu di masa depan jika itu erat berkaitan denganku dan aku cukup beruntung untuk bisa melihatnya. “Jadi?” lagi-lagi suara Be membuyarkan lamunanku. “Bagaimana kau mengetahuinya?”
Aku mendesah. Sebelumnya aku tidak pernah mendiskusikan ini kepada orang lain. Bahkan kepada orang tuaku. “Itu datang begitu saja,” jawabku lirih. Aku benar-benar bingung bagaimana harus menjelaskannya. “Kau tahu, saat aku sedang melakukan sesuatu, tiba-tiba saja penglihatan itu datang. Kadang jika itu terlalu kuat atau terlalu banyak, datang bertubi-tubi, aku bisa merasa pusing. Dan itu bukanlah sesuatu yang bisa kukontrol. Seperti, misalnya, aku ingin mengetahui tentang kamu, aku memikirkan kamu, lalu penglihatan itu datang. Sama sekali bukan seperti itu. Penglihatan itu datang begitu saja. Mungkin sebagai peringatan kalau itu tentang sesuatu yang buruk.” Aku menarik napas. “Seperti contohnya?” Be menatapku. “Aku pernah melihat diriku sendiri terperosok di sebuah lubang cukup besar di jalan raya. Well, seharian itu aku sangat berhati-hati. Dan ya, aku tidak terperosok.” “Jadi kamu selalu bisa menghindari semua yang buruk?” “Tidak juga. Aku pernah melihat kakekku meninggal. Aku memberitahu Kakek untuk tidak pergi saat itu. Kau tahu, meyakinkan Kakek sama susahnya seperti meyakinkanmu,” aku memandang Be. Be meringis. “Aku membujuknya untuk membatalkan acara seminar di Makassar. Aku memintanya bermain catur seharian denganku. Meskipun terheran-heran, Kakek akhirnya mau memenuhi permintaanku berhubung aku cucu kesayangannya. Tapi, tetap saja Kakek meninggal,” aku menarik napas lagi. Kali ini sedikit lebih lama. “Bagaimana?” suara Be terdengar nyaris berbisik. “Beliau jatuh di kamar mandi. Terpeleset.”
Wajah Be terlihat ngeri. Aku tersenyum menenangkan. Tanganku yang masih berada dalam genggamannya kugoyang-goyangkan. Berharap Be setidaknya tersenyum. “Ta, bagaimana rasanya? Pasti berat sekali. Mmm, memiliki kemampuan untuk mengetahui sesuatu di masa depan?” Be menggigit bibir. Aku tersenyum lagi. “Begitulah. Kadang aku sangat bersyukur memiliki kemampuan itu. Tapi kadang itu bisa membuatku gila. Seperti saat aku melihat hubungan kita,” kali ini akulah yang menggigit bibir. “Maaf. Maaf,” senandung maaf masih keluar dari bibir Be.
Aku terdiam. Kejadian lebih dari satu tahun silam tiba-tiba saja terpampang lebar di otakku. Kami berdua sedang duduk di dalam kamar kos Be. Mengagumi dua buah gelang perak dengan ukiran Be dan Ta di kedua ujungnya. Gelang itu berbentuk sangat sederhana. Bentuknya lebih ke bangle bukan bracelet. Lebarnya hanya 0,5 cm, terbuat dari perak asli Kotagede – Jogja, dan mempunyai dua ujung yang saling bertemu. Di ujung yang satu terukir Be untuk Benito dan di ujung yang lain terukir Ta untuk Cinta.
Saat itu tiba-tiba saja penglihatan itu datang. Tentang Be dan aku, melibatkan seseorang yang tidak asing bagi kami berdua. Bramantyo. “Be...,” aku memanggil Be yang saat itu sudah asyik bermain game di facebook setelah memakai gelangnya. “Apa?” Be beringsut mendekatiku. “Be, Bram menyukaiku. Dia mempunyai hasrat yang sama besarnya denganmu untuk memilikiku. Bahkan sekarang saat aku sudah jadi pacarmu, Be. Dia masih ingin memilikiku,” susah sekali rasanya mencari kata-kata yang tepat untuk menyampaikannya pada Be.
Mata Be melebar. Memelototiku seolah-olah aku baru saja menelan satu kilogram cacing tanah. Dia menggeram, dan yang membuatku terkejut kemudian, dia menudingku dengan telunjuk kanannya sembari memaki kasar. “Dasar cewek tidak tahu malu. Jangan sok ge-er deh. Bram itu temanku. Tidak mungkin dia berpikiran seperti itu. Dia tahu kamu cewekku. Dia TIDAK MUNGKIN suka kamu. Karena dia TAHU kamu cewekku. BRAM ITU TEMANKU!”
Aku terpana. Aku tidak mengira reaksinya akan seperti itu. Demi Tuhan, aku sudah mengedit apa yang kulihat. Seandainya saja kuberi tahu dia, Bram sering membayangkan aku dalam setiap fantasi-fantasinya, entah seperti apa reaksi Be tadi. “Kamu ninggalin aku, Be,” aku menatap gerimis yang masih saja turun. Gerimis itu mengabur. Airmata yang mulai memenuhi sudut-sudut mataku mengaburkan semuanya. Termasuk Be yang tampak sangat menyesal. “Maaf. Maaf...,” senandung itu terdengar lagi.
Aku menangis sekarang. Mengingat semuanya sungguh sangat menyakitkan. Waktu itu, Be memang meninggalkan aku. “Kamu terlalu menyayangi sahabat-sahabatmu, Be. Kamu terlalu mempercayai mereka. Kata orang, semua yang terlalu itu tidak baik, kan?” aku berusaha untuk tersenyum.
Be memang seperti itu. Setidaknya dulu saat aku sangat dekat dengannya. Dia orang yang pertama maju berkelahi saat teman-temannya disakiti. Dia mati-matian berbohong kepada guru untuk melindungi Bram yang mencontek di kelas. Bahkan dia menuliskan jawaban soal Bahasa Inggris di selembar kertas dan menuliskan nama Bramantyo sebelum menyerahkannya ke guru.
Aku pacarnya. Tapi kadang-kadang aku merasa itu hanya status saja. Toh kenyataannya Be lebih sering bersama semua sahabatnya. Dan dia tidak mempercayaiku sedikitpun. Dia tidak pernah percaya Cinta, pacarnya. “Bram datang saat kamu pergi,” aku mendesah. “Aku tahu...,” seandainya Be tidak duduk dekat sekali denganku, aku takkan mungkin mendengar suaranya. “Bram datang menawarkan sebentuk cinta yang lain. Dia memberiku begitu banyak perhatian. Sesuatu yang tidak pernah kamu lakukan, Be. Dan aku bisa menjadi cewek termanja di dunia saat bersamanya....” “Hentikan, Ta.... Hentikan.... Aku tahu aku salah.... Aku minta maaf...,” Be menciumi tanganku. Bisa kurasakan tanganku basah. Aku memandangnya lekat-lekat. “Kamu menangis, Be?” “Aku menangis hanya untuk kamu, Ta. Aku menyesal. Sungguh. Aku menyia-nyiakan cewek sebaik kamu.” Aku tertawa. “Berlebihan kamu, Be. Aku tidak sebaik itu kok.” Be hanya menggelengkan kepalanya. “Kamu tahu kalau aku sempat berpacaran dengan Bram?” aku merasakan suaraku begitu datar saat menanyakan itu. Be mengangguk pelan. “Tapi kamu pura-pura tak tahu, kan?” aku mendengus. “Kamu terlalu baik, Be. Kamu benar-benar baik.” Aku tersenyum memandangi Be. Kubebaskan tangan kiriku yang sedari tadi digenggamnya. Jari-jariku menyusup ke rambutnya yang sangat lembut. Membelainya berulang kali. “Itu kenapa aku begitu menyukaimu, Be. Kamu luar biasa baik.” “Aku cowok yang terlalu baik, benar-benar baik, luar biasa baik, tapi sangat sangat sangat bodoh ya, Ta?” Be mendengus. “Tidak juga. Kalau kamu bodoh, mana mungkin kamu juara IT? Mana mungkin aku jatuh cinta sama kamu?” Be tertawa.
Saat ini aku rela menukarkan apa saja yang kumiliki dengan suara tawa Be. “Seandainya aku bisa memutar waktu ya, Ta,” mata kecil Be menerawang. Gerimis masih setia turun. Malam semakin pekat. Dengungan obrolan orang-orang di sekitar kami masih bisa terdengar. Aku mendesah. “I wish I could.” “Apa yang akan kamu lakukan pertama kali, Be, kalau kamu bisa memutar waktu?” aku mengerlingkan mataku saat memandangnya. Aku masih menyusupkan jariku ke rambutnya. Rambut Be itu lembut sekali. “Pertama kali? Aku akan mempercayaimu, Ta. Aku akan mempercayai segala yang kamu katakan,” Be memandangku dengan tatapan sayu. Tidak tega aku melihatnya bersedih seperti itu. “Akhirnya kamu percaya aku, Be?” tanganku berhenti membelai rambutnya. Kutangkupkan kedua tanganku di wajahnya. Airmataku menggenang lagi. Be mengangguk pelan.
Aku betul-betul tak tahu apa yang sudah terjadi satu tahun ini. Hubunganku dengan Bramantyo hanya bertahan beberapa minggu saja. Benar kalau Bram bisa memanjakanku begitu rupa. Tapi dia bukan Be. Aku tak pernah mencintainya. Tidak sedikitpun. Kemudian, aku memutuskan untuk pergi dari mereka berdua. Terlebih lagi saat aku menyadari bahwa Be tidak menginginkanku kembali.
Kedua tangan Be menggenggam tanganku yang masih berada di wajahnya. Disatukannya tanganku di depan bibirnya dan dia mengecup tanganku pelan. “Kau tahu kenapa aku begitu menyukaimu, Ta?” Aku menggeleng. “Tidak mungkin karena aku secantik Nikita Willy kan?” Be tertawa. Dia tersenyum lebar sekali. Mengacak rambutku pelan. “Karena kamu jauh lebih dewasa dari cewek-cewek seumuran kita. Dan kamu tidak manja seperti mereka.”
Aku tersenyum. Bagaimana aku tidak lebih dewasa kalau memang aku beberapa langkah lebih maju dari mereka. Menghabiskan waktu untuk merenungi kejadian-kejadian beberapa jam, bahkan beberapa bulan, ke depan. Menebak-nebak apakah aku bisa menghindarinya atau memang aku harus menjalaninya sebagai takdir. Lebih dewasa bukanlah kata yang tepat. Kadang aku bahkan merasa sepuluh tahun lebih tua dari teman-teman di kelasku.
“Terimakasih,” bagaimanapun aku bahagia mendengar Be menyukaiku. Dadaku sekarang dipenuhi gelembung-gelembung cinta dan bahagia.
Melihatku tersenyum, Be terlihat lebih bahagia. Kemudian sambil menyeringai, Be merogoh sakunya. Dikeluarkannya kalung perak dengan bandul kotak polos. Dibukanya kotak kecil itu dan disodorkannya ke tanganku.
Di telapak tanganku, kotak yang sekarang terbuka menunjukkan dua buah sisi. Sisi sebelah kiri berisi sebuah foto. Aku dan Be. Di sisi sebelah kanan, terukir dua buah nama. Benito dan Cinta. “Untukku?” aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak menangis. Ini adalah hal terbaik yang pernah Be lakukan untukku.
Be mengangguk. Diusapnya airmata yang sudah mengalir di pipiku. Beberapa saat kemudian tangannya terulur mengambil kalung itu dan mengenakannya di leherku. “Terimakasih,” ucapku lirih. Be mengangguk lagi. “I love you, Ta. Aku ingin kamu tahu itu.” Aku tak bisa berhenti menangis.
Malam ini Be banyak menyenandungkan maaf. Be menangis. Be tertawa. Be mengungkapkan cintanya untukku. Beberapa hal yang tidak pernah terjadi saat aku bersamanya dulu. Bahkan kata-kata love, cinta, sayang, Be tak pernah mengutarakannya hingga detik ini. Malam semakin larut.
Be berdiri. Ditariknya kedua tanganku, memintaku untuk berdiri juga. Belum lagi aku berdiri dengan sempurna, Be menarikku ke dalam pelukannya. Memelukku erat sekali. Menghirup bauku kuat-kuat. Saat itulah sesuatu menghantam otakku. Mendadak membuatku membeku.
Aku tidak suka mengatakan ini. Tapi baru saja aku melihat banyak orang berbaju hitam di ruangan. Menangisi satu sosok yang terbujur kaku. Aku ada di sana. Aku juga menangis. Be ada di sana. Dia tidak menangis. Dia tersenyum damai dengan luka bentur pada pelipis kanan. Terjatuh di jalan. Sepulang dari Starbucks. (Mei-ing)
