Di benaknya yang terdalam, Rahma teringat siang tadi lia menyuapi anak keduanya sambil mengeluh harga susu yang mahal dan melambung tinggi, belum lagi suaminya yang sudah dua bulan tak lagi bekerja karena perusahaan tempatnya bekerja gulung tikar akibat krisis global, sementara anak pertamanya duduk menangis dipelataran halaman rumahnya meminta uang jajan. Lia juga menambah keluh kesahnya karena ijasah sarjananya bukan jaminan dirinya akan mendapatkan pekerjaan dengan cepat “Apa hal itu perlu kuceritakan pada ibu?” ujarnya perlahan berkata pada dirinya sendiri.
***
Mata Rahma masih sembab karena menangis semalaman, “Jangan marah nduk sama ibu, lah wong ibu kan mau cepet-cepet punya cucu, adikmu rudi kan jaraknya delapan tahun dari kamu, lagipula dia laki-laki, masih lama nikahnya,” ibunya panjang lebar berbicara pada rahma anak sulungnya sementara rahma hanya diam seribu bahasa.
“Mandi sana, ibu sudah siapkan air panas buat kamu, udaranya dingin, jadi mandi air hangat biar enak ya nduk,” lanjut ibunya.
Rahma melangkah menuju kamar mandi, mulutnya seperti terkunci tak menjawab kata-kata ibunya, dia sibuk menari-nari dialam bebas dengan bahasa pikirannya sendiri, baginya cinta adalah panggilan hati yang dengan sendirinya akan datang tanpa dia inginkan.
Begitu membuka pintu kamar mandi, Rahma kaget bukan kepalang, ada seember air lengkap dengan bunga melati di dalamnya, dicelupkannya tangan kanannya ke dalamnya, “Air hangat,”ucapnya perlahan. “Ibu, ini air ada bunga melatinya buat apa?” katanya setengah terheran-heran menghampiri ibunya yang sedang asyik memasak didapur.
“O... Itu air kembang buat kamu nduk, kemarin anak temen ibu ada yang baru menikah, mandi dengan air kembang itu,ya sisanya ibu minta untuk kamu, katanya biar kamu cepet juga nikahnya” jawab ibunya santai.
Rahma terheran-heran melihat tingkah ibunya kali ini, tanpa banyak tanya, dirinya masuk kembali ke kamar mandi lalu membuang air kembang itu begitu saja.
***
Pagi hari ini rahma pergi kekantornya dengan kata yang menari-nari dialam pikirannya, “Menikah? Suami? Anak? Cucu? Cicit? apa seperti itu seharusnya manusia hidup dan berkutat dengan waktu, tak bisakah manusia yang mengatur apa yang menjadi keinginan yang sesungguhnya dan bukan keinginan yang mengatur hakikat dari manusia?,” pikirannya menari-nari dan terbang dengan kata-kata yang mungkin hanya dia dan dirinya yang mengerti artinya.
“Pagi bu…ada undangan rapat nanti siang untuk project sosialisasi kerjasama dengan media, spot iklannya sudah ada dimeja,” kata sekretaris cantik yang biasa mengatur jadwalnya untukrapat. “Terima kasih cantik,tolong siapkan ruangannya,” sahut rahma cepat. “Baik bu, “ lanjut sekretaris itu dengan sigap. “Maaf bu, saya mau minta cuti tiga hari diminggu depan karena saya mau menikah bu.” Ujar rani nama sekretaris itu dengan terbata-bata. “Menikah?” rahma kaget bukan kepalang mendengarnya, lalu melanjutkan kata-katanya “memang berapa usia kamu?” “Dua puluh tahun bu,” jawab rani tertunduk malu.
Rahma hampir saja tertawa mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh sekretaris cantiknya “Rani, dulu umurku dua puluh tahun, aku masih sibuk cari ilmu dikampus, ikut sebanyak-banyaknya organisasi, jangan berfikir nikah, pacar aja gak kepikiran, tapi bagus berarti dengan keputusanmu ini kamu berani menghadapi masa depanmu, bahwa menikah itu bukan seperti saat kamu mengenal seseorang, kamu tidak cocok, kamu bisa putus begitu saja, ingat menikah itu ikrar manusia dihadapan TUHAN NYA,” lanjut rahma panjang lebar. Sementara rani hanya tersipu-sipu mendengar ucapan atasannya.
***
Siang ini mentari bersinar terik, diatas sana burung berlari-lari berkicau dengan riangnya, menapak dari satu ranting ke ranting pohon lainnya, lalu meloncat-loncat bersama induknya. Di terik siang ini, rahma memasuki lift dan ditekannya tombol 25, setelah tiba dilantai ke dua puluh lima, dibukanya pintu menuju tangga EXIT, lalu dinaikinya anak tangga itu satu persatu, diatas sana, rahma biasa melihat keramaian ibukota sambil membawa kamera kesayangannya, membidikkan kameranya satu persatu dari atap gedung untuk melihat objek yang dianggapnya menarik, dan kali ini objek itu adalah langit.
Kemudian diambilnya secarik kertas dan pena dari kantong bajunya, ditulisnya kata yang menari-nari diatas kepalanya.
“Kita sama…bedanya kau langit dan aku manusia, namun kita sama telah diciptakan oleh TUHAN YANG KUASA, bedanya lagi, aku dapat tua oleh hitungan temanmu yang bernama BULAN, namun persamaannya, jika kau sedang bersedih maka kau akan memanggil temanmu yang bernama PETIR, lalu air matamu akan membasahi aku dan manusia lainya di BUMI. Jika kau tak pernah dapat tua,mengapa BULAN datang lalu menghitung setiap jengkal usia pada kita, MANUSIA. Mengapa takdir membuat kita berbeda? ..aku yakin kita sama…digoreskan TUHAN untuk keindahan, lihat saja, warnamu terang menghiasi DUNIA, ada biru dan kelabu. Mungkin warnamu bisa kau nampakkan begitu saja, hingga manusia dapat mengerti maknanya, hari ini cerah, berawan atau hujan. Tapi apakah hatiku atau manusia lainnya dapat jua kau baca? Jika ya…kutunggu saatnya”.
***
Petang sudah menyelimuti awan, sore ini rahma berjanji menemui teman kuliahnya dulu, namanya rini, gadis yang sebelas tahun lalu menjadi idola seantero kampus karena kecantikannya.
“Rini, kabarnya sehat, makin cantik aja” lalu mereka saling memeluk satu sama lain. Sudah Sembilan tahun keduanya tidak bertemu karena sahabatnya itu pergi mengikuti jejak suaminya yang bekerja sebagai anggota DPRD di Bangka Belitung. “Rahma, kangen, mana calon suaminya, kapan nikah”? pertanyaan pertama yang membuat rahma sesak. “Ibu ini, baru juga ketemu, pertanyaannya yang lain aja, ganti topik,” sahut rahma tersenyum. “Inget ma, umur kita sudah kepala tiga,aku anak udah enam tahun, kamu tetap masih sama, kejar karir gak akan ada habisnya ma,nanti kamu udah tua, yang lanjutin cita-citamu ya anakmu,” rini sahabatnya bicara panjang lebar dan rahma hanya mendengarnya.
Malam semakin larut, kedua sahabat itu berbicara panjang lebar dari hati ke hati, disela-sela pembicaraan, rini berkata “Ma, kamu kenal pengacara tidak? Aku mau mengajukan gugatan cerai ke suamiku, karena aku melihat mata kepalaku sendiri dia selingkuh sama sekretarisnya.”
Rahma hampir saja tersedak dengan minuman yang baru saja diminumnya, mendengar pembicaraan sahabatnya, baru saja rini menasihatinya menikah, ini sudah lain lagi ceritanya.
***
Pukul dua dini hari, rahma tidak dapat terlelap dengan mimpi indahnya, dibukanya sekotak peti kecil berwarna biru, sudah lama dirinya tidak membuka peti itu, mungkin puluhan tahun silam saat terakhir dia menuliskan kata didalam buku yang tersimpan rapi dalam peti biru itu.
Ada foto sekelompok anak laki-laki yang memegang gitar didepan kelas, lalu dilingkarinya salah satu foto itu, dibuka lagi lipatan kertas yang warnanya sudah usang dan menjadi cokelat.
Aku ingin mencintaimu tanpa kata Seperti putik yang menjaga indah mahkotanya Aku ingin mencintaimu tanpa kata Seperti siang yang selalu berganti malam Aku ingin mencintaimu tanpa kata Cinta..yang kuharap kau dapat mengerti maknanya Karena…
kali ini, aku berkata dengan tarian jiwa…@ Tanpa Nama—Jakarta,14 April 1998
***
Lalu pagi itu, disebuah terminal bus, ada seorang gadis berpakaian seragam abu-abu putih yang berjalan dengan cepat ingin menemui temannya yang berada disebrang jalan, gadis itu tak melihat apa bus sedang berjalan kencang kearahnya, seorang laki-laki datang dengan cepat dan membawanya kepinggir jalan menghindari bus, namun kaki laki-laki itu tertabrak bis yang menabraknya dengan kencang,orang-orang berkerumun dan gadis itu berlari kearah laki-laki berada, darah mengotori seragamnya yang putih, laki-laki hanya berbisik sesaat “Aku ingin mencintaimu tanpa kata” dan gadis itu terdiam penuh tanya.
Rahma, menutup kembali kertas itu, menyimpannya rapat-rapat kenangan puluhan tahun lalu.
***
“Nduk, gimana kamu sreg sama fajar, dia kan dokter, nanti kalau sakit, kamu diobati sama dia”ibunya perkata dengan penuh semangat. “Aku ndak suka bu, umurnya dua tahun lebih muda diatasku,” jawab rahma seadanya. “Ya sudah, mas Dodi saja, dia pengacara, nanti kalau ada apa-apa kamu bisa dibela, lagipula umurnya empat tahun diatasmu, kamu tiga puluh empat, cocok, berarti dia itu tiga puluh delapan,” lanjut ibunya. “Ibu yakin, dia bisa setia?” jangan neko-neko bu, aku cari yang bisa setia saja.
Ibunya terdiam dan terlihat bingung, “kamu ini, punya anak pendidikan terlalu tinggi yang begini ini, sudah dinasihati orangtua, banyak alasan,” ungkap sang ibu dengan nada kesal.
“Maaf bu, tidak usah dengar kata orang, rahma senang dengan kehidupan saat ini, lagipula ini Jakarta bu, masih banyak gadis-gadis lain usia tiga puluh empat juga belum menikah,” rahma akhirnya angkat bicara. “Ya sudah, kamu cari sendiri saja sana, anak temennya ayah kamu nolak, padahal diplomat lulusan Amerika, dokter kamu ndak mau, cari sendiri ya gak nemu-nemu” ibunya masih berbicara dengan nada kesal.
***
Hari ini, rahma sedang tidak ingin masuk kantor, dipakainya celana jeans dan kaos berwarna biru andalannya, kamera kesayangannya digantung diatas lehernya, dibiarkan rambut hitamnya terurai diatas bahunya. Dinaikinya bus demi bus untuk mencari objek menarik untuk tambahan koleksi fotonya, ada seorang ibu yang menyusui anak bayinya yang masih memerah diatas jembatan, ada anak-anak balita yang berlari sambil berebut uang receh seratus rupiah yang terjatuh, ada bapak tua penjual tissue yang naik dari satu bis menuju bis lainnya, ada juga nenek dan kakek renta bersama-sama dan saling bergandengan untuk meminta belas kasihan berjalan disepanjang trotoar jalan. Di tengah teriknya surya, bis mengeluarkan asap hitamnya, dan sepanjang jalan beratus-ratus orang berdumam karena baju mereka yang basah bermandi keringat,serta aparat yang sigap mengatur jalan raya karena ada seorang pejabat negara yang akan lewat beberapa menit kemudian.
Di kameranya tertangkap ada seorang laki-laki yang memakai tongkatnya berjalan menyusuri sebuah gedung sambil membawa beberapa buah buku dilengan kanannya dan tangan kirinya memopoh tongkat yang berayun-ayun menemaninya berjalan.
Rahma berjalan perlahan mengikuti sosok lelaki itu,kameranya terus dibidikan kearah lelaki itu,seorang laki-laki petugas keamanan berbaju hitam mengangguk perlahan kearahnya, lalu sekelompok orang laki-laki dan perempuan menyalaminya satu persatu. Rahma terus mengikutinya, dibidiknya kamera kesayangan itu ke arahnya, namun obyeknya tidaklah pernah tepat karena laki-laki itu selalu terbidik dari arah belakang.
Saat ini rahma gagal membidiknya, kakinya tersandung pintu masuk yang tanpa diamatinya lebih tinggi dari tapakan sebelumnya. Rahma terjatuh, laki-laki itu menoleh dan menghampirinya sambil berlari mengayunkan tangan kirinya memopoh tongkatnya “tidak apa mbk, mari saya bantu?” lanjutnya.
Rahma menoleh keatas, tangannya bercengkram dibantu tangan kanan lelaki itu, rahma berdiri lalu mengucapkan “Terima Kasih."
Lelaki itu tersenyum, mereka berdua saling berpandangan, mata lelaki itu seperti dikenal Rahma begitu dekat, mata yang dalam, dan pandangan yang tetap sama saat puluhan tahun lalu pernah dilihatnya. “Banyu,” Rahma berkata lirih perlahan. “Rahma, kamu ya, apa kabar?” sahut lelaki itu perlahan.
Tanpa berbasa-basi Rahma memeluk lelaki itu erat, pelukan kerinduan yang belum pernah dirinya lakukan dengan lelaki manapun, kerinduan yang tertahan puluhan tahun silam, oleh cinta tanpa kata sepasang muda-mudi belia.
Banyu melepaskan pelukan rahma perlahan, dilihatnya gadis yang berada dihadapannya itu mengeluarkan sebening air dari mata indahnya, banyu menghapusnya, lalu berkata “Kau sudah menikah Rahma?”
Rahma menggeleng perlahan, tak sanggup mengeluarkan sepatah katapun, karena terlalu lama kerinduan itu menari-nari diatas mimpinya. “Baiklah, aku banyu yang hanya seorang dosen akan menikahimu, karena dimanapun aku berada aku selalu mencintaimu…meski dimasa lalu cinta itu tak dapat kuungkap dengan kata, namun kali ini aku yakin kita bertemu dengan tarian jiwa.”
Banyu berjalan menggenggam tangan rahma dengan erat, banyu tidak pernah ingin melepas cintanya kali ini, cinta yang bertemu karena dipersatukan TUHAN dengan tarian-tarian kerinduan, yang tertiup angin, dan menjadi selaksa kata penuh makna. (Mei-ing)
