Saat berhadap-dua-duaan semalam, aku selesai jadi manusia. Miliknya jua gembira yang menggetarkan. Tapi konsentrasinya cuma terbatas kelas dan pasar, sekolah dan pekerjaan. Sedangkan aku?
"Aku benci sekolah."
"Bukan, kau tolol," sergah Wati.
"Aku berhenti kerja."
"Tolol dan nakal," ejeknya. "Tapi aku juga pintar dan manis!"
"Sudahlah, selamat tinggal."
Wati berupa nomor lama dari kalender. Mungkin masih akan lama aku kembali datang padanya atau merayu gadis lain lagi. Perempuan harus sendirian dalam putus cinta. Dan ini salah Wati juga. Lebih mementingkan kelas dan pasar, sekolah dan pekerjaan! Aku jadi cemburu. Kami menghindar dari situasi rumit, garis tegas batasi hati.
Dia diam, aku kalah. Kami telah memperbincangkan sepi dalam keasingan arus laut. Sewaktu mimpi rabuk dan rindu lapuk. Kenangan tersendat jadi ombak rata di garis batas langit. Rindu rabuk dan mimpi lapuk. Terhalang awan di ufuk, langkahnya mencari arah. Langkah yang kuiringi jerit serak, "Kau akan terus kukejar..." Cinta kabur, dihambur mimpi. Keadaan berubah, hambar seperti ketiadaan. Akhirnya tak saling kami bicara. Sejak itu kuperkenankan diriku menghala makna shamisen. Bunyi terasa mengharu-biru, jiwaku bertepuk masa lalu. Kukira, jika itupun nanti disejarahkan bukti sebagai mimpi, Wati denganku mestinya erat berdampingan mencercah hari terang yang memanjangkan bayangan kami dalam keabadian. Apakah matahari selindap biasnya di bawah air mata, sinar pudar, lanskap dipecundang mendung, cuaca menggerimis tiba-tiba, aku sudah menyampirkan ke pundaknya yang tersipu: sebuah pernyataan.
Hujan terus mengelabuhi laut. Gelombang berlalu. Sasmita alam dan perjumpaan terakhir menyisakan rasa marah. Dipicu persalingan kata dengan kalbu, saat tengkar mengacau mata, dan di kuping, cemburu berdengung balau.
"Jauhi aku, lupakanlah," pinta Wati. Aku melupakannya dan menjauh.
* * *
Telah bersemesta nantiasa mayapada ke hati dingin kami. Bagai kerentaan setua angin bak terpelantingnya ombak pada batu karang nan melekatkan lumut dan kalimat laut.
Kapal tampak kulihat menanti di marina. Awaknya membentangkan layar, kembali melaju bertualang. Secermatnya, kami camkan bahasa tanpa kata di kalbu. Saat kubuang jangkar ketergesaan ke dalam laut. Mimpi asing menggasingkan perasaan. Batinku terkacau diumbang sedihnya perpisahan.
Bulan lenyap. Nyiur diterawang angin. Mata awasku belum keliru mengenali Wati.
"Sini, sayang."
"Sudah sana, pergilah!" tukasnya, "Sebab kita hanya ingin berbantah untuk soal yang tidak jelas," Mataku kucelupkan ke laut yang dibelai hujan. Tatapku bersandar ke arah rumah-rumah nelayan. Titik-titik kecil yang terasnya terang. Kampung pelaut dilambai riuh nyiur dan bulan rendah. Terus aku berjalan menyusur, menjingkat tepi pantai. Meluaskan kanvas kesendirian. Tanpa Wati lagi.
"Kau belum belajar tentang nama, padahal milikku sudah hilang."
"Milikmu ada!" protesnya.
Malam berbingkai badai. Riuh nyiur dan bulan samar. Kutinggalkan nyiur dan bulan bermesraan. Lambat-laun langkahku pergi menjauh, teringat kerling indah mata Wati. Sekucur air mataku nyemplung ke air. Titik kecil bersinar di atas pasir. Masih gerimis dan laut berkabut, larut malam.
Tak berkurung di tanjung, aku menguras selat, membentangkan laut, membasuh air mataku dengan hujan. Tingkahku seperti kelakuan monster angker di kaki pelangi. Tak pernah lagi kujumpai gadis bernama sama dengan Wati, berbandana ungu pengikat rambut pendeknya, secabik senyum tak pernah alpa kuimpi.
Mungkin kami takkan berbaik lagi setelah kesini. "Seumur hidupmu, kau akan mencari perempuan seperti aku, tapi bukan aku!"
"Kau cari saja lelaki lain!"
Bandana ungu, cabikan senyum itulah yang merenggutkan layar, pasir, pantai, ganggang, batu karang, laut, kapal, kampung nelayan di gelap malam keduapuluh satu.
"Selamat melangkah", ujarku, "Semoga sampai tujuan."
Tapi ternyata aku belum kapok-kapok mencarinya, alasanku satu: rindu. Tetap datang terus, meski diludahinya wajahku, "Dasar bebal, mengesalkan!"
Berapa lama laut terkuras, layar tergelar, hujan terbantun, air bah pun surut. Tualang langlang menyusutkan air mata Wati, menghilangkan dirinya dalam musim badai.
* * *
Aku berusaha setia merepih kesunyian. Laut terombang-ambing gelombang bimbang. Bayang-bayang perahu merapat pelabuhan. Pada batang nyiur tua, masih juga aku duduk bersandar. Menyisih ceracau balau nan terbang dibawa angin sakal sejak dari pantai hingga terbantun ke gugus karang.
Pernah mendengar kata-kata? Apa yang kau ingini? Lalu. Apa yang kuingini?
Tak ada suara jawab. Tanpa lambaian perpisahan, air mataku lepas seluruh. Niat menyingkir sejenak dari pertanyaan, alasan klise demi mencari pencerahan sejati, mungkin juga tak dapat di sini.
Lalai, lalu aku pun lunglai. Menyadari kami berada dalam lintasan waktu tergaris di rajah tangan. Saling menjauh, yang kami lampaui hanya nisbi. Gerak ruang menyempit dihimpit galaunya hari berbulan tahun. Kadang pula, tanpa sadar, kami kembali terdampar.
Hidupku masih dibayangi mataharinya. Kota tetap riuh, sementara pantai sepi. Mungkin tak usah bersoal hati berdarah, pentingnya kami berjumpa lagi. Gugusan batu karang menyerpih dikelucak ombak ke ujung lekuk tanjung menikam luka lama dekat jantung. Kami dulu terkapar terseret arus dan tenggelam. Tapi selama itu, Wati ada di sampingku.
"Aku perlu cinta untuk peduli padamu. Padahal, kukira, cinta perasaan remeh-temeh, dibicarakan omong kosong, disikapi tak masuk akal."
"Sudahlah," tukasnya, "Nyahkan aku, bukankah kau lebih perlu kebebasan?"
"Ah, kebebasan. Tak lagi."
"Tapi kita sudah putus!"
"Bukan putus, tapi pisah."
Pantai luruh menerima langit. Langit terban ke batas selat arah mata angin selatan. Alunan ombak menampar karang. Ufuk tampak kelabu di pelupuk. Gelap mulai turun merendah. Bulan compang-camping direngkuh mega pada lanskap renta. Angin sangsai seperti merintih dilecut musim. Hujan gerimis satu-satu lalu, menoktahkan titik pertama. Gelap, bulan, lanskap, hujan bukan hanya lengking melodi, semuanya telah jadi orkes malam, tak selaras lagi dengan pantai, selat, laut, dan pulau.
Di beranda, angin masih berkesiur. Aku terus berada di luar.
Wati masuk kamar. Kami berteduh menjauhi kesiur cuaca.
Tanjung Kelayang sekejap mimpi, jazirah berbentuk busur yang bersebadan dengan Laut Natuna. Jika tanah tak basah, barangkali kami mendaki bukit lewat tebing curam. Menyepak pasir berjalan ke pelabuhan. Nelayan akan memanggang ikan sotong di atas bara api dari batok kelapa terbakar. Ah, cuma kerjap mimpi di Tanjung Kelayang.
"Mengapa belum tidur?" "Belum ngantuk ingin menjagai kamu." "Gombal!"
Kalau hujan tak jatuh, tentu bulan sudah bergaun malam mengayun dansa dengan awan. Kami bisa sumringah lantas ikut melantai juga. Mungkin diiringi musik Allegro vivace from Piano Concerto No 2 in F minor Opus 21 dari Chopin sambil kubayangkan Wati seperti Aurore Dudevant kurasakan aura cintanya pada senyuman. Bukan hujan yang jatuh, tapi aku.
"Gimana liburmu. Terus kerjanya sukses, kan?"
"Liburnya nggak asyik, tanggal 28 sudah masuk.
Eh, ngomong-ngomong kamu ini siapa?"
"Aku yang mengundang hujan."
Gerimis deras. Laut jadi kelam. Perahu dan tiang penambatnya tersentak berayun-ayun dalam siut angin yang dimarahi malam. Fajar nanti, para pencari telur penyu menggali pasir sia-sia. Mereka tentu mengalihkan pencarian pada ikan dan udang. Memungut rumah kerang kosong yang ditinggal penghuninya bersembunyi ke bawah permukaan pasir mencari selamat dari terlimbang gelombang.
Bersandar ke dinding angin, Wati merengkuhku dari belakang. Pipiku digigitnya, tangannya menggeraikan rambutku. Kami mulai dirajam berahi seolah-olah mengalami reinkarnasi Chopin dan Dudevant. Hanya mereka berdua, sebab toh keterlaluan sekali jika kami merasa jadi Pangeran Charles dan Camilla Martin.
"Bicaralah atas nama lanskap cakrawala dan cinta yang paling indah."
"Aku akan bicara, tapi aku tetap akan pergi."
"Ya, sesudah bicara, pergilah."
"Oi, Kilat. Aku sudah punya pacar. Kalau nanti pacarku melihat kau masih terus datang ke sini, bagaimana?"
"Jadi kita tak usah bertemu lagi?!"
"Kalau ingin menghubungi lewat surat atau telepon bolehlah, selama aku masih ada waktu. Asal isinya bukan soal cinta dan jangan ketahuan pacarku. Terserah apa maumu!"
"Aku mau"
"Sudah kukatakan, aku punya kekasih."
"Aku akan jadi kekasihmu yang lain lagi."
"Oi, Kilat"
Wati dan aku saling tentang di depan mata badai. Deru angin datang lagi. Benarkah perempuan selalu menyimpan kenangan indah tentang lelaki?
Masih aku duduk bersandar di beranda, tahankan gigil kecewa, jauh malam. Malam itu akhirnya tidur di sofa. Dalam mimpi kudengar suara Wati lirih memanggil, "Mengapa aku harus jadi Wati dengan nama lain, Kilat?"
"Karena,..." jawabku, "Kau juga mawar."
Tapi sewaktu aku bangun pagi tinggal tanya. Benarkah engkau adalah mawar?
Bunga ros atau bukan? Adakah beda antara yang bukan dengan mawar? (Yinnihuaren/Ling)
