Untunglah perusahaan roti dari dulu berkeliling hingga saat ini masih ada yang bertahan. Salah satunya adalah perusahaan roti Tan Ek Tjoan. Hmm... rasanya hingga kini tak berubah.
Produk roti Tan Ek Tjoan ini memiliki tekstur yang beda. Rotinya tebal dan padat sehingga maka sebuah saja sudah sangat kenyang. Sampai saat ini pun mereka masih mempertahankan produk legendarisnya.
Ada roti gambang, cokelat poles, roti noga, roti amandel, sucijs brood. Yang pasti jenis roti tersebut tidak akan bisa ditemui di toko roti lainnya.
Menurut Deden Suherman, chef bakery, roti Tan Ek Tjoan masih mempertahankan resep lama yang sudah diturunkan kepada anak-anaknya, yang kini sudah generasi ketiga menjalankan usaha tersebut.
"Kami tetap mempertahankan resep yang ada dan hanya orang tertentu saja dipercaya untuk mengetahui resepnya. Ketika sudah ada ditangan karyawan bahan-bahan tersebut sudah dikemas, tinggal memasukkan saja dalam mixer," ujar Deden.
Tan Ek Tjoan merupakan nama seorang lelaki keturunan Tionghoa. Awalnya dia hanyalah seorang buruh yang kerja di toko roti lalu mencoba sendiri untuk membuat roti. Alhasil dibukalah toko roti di Bogor pada tahun 1921. Kemudian membuka cabang di Jakarta tahun 1955 di Cikini.
Di Cikini, pabriknya berada di belakang toko. Sebagian besar roti-roti itu disebar dengan menggunakan sepeda gerobak . Saat ini ada 100 sepeda gerobak yang beredar di sekitar Jabodetabek. Padahal dulu sempat ada 300 sepeda gerobak.
Adanya persaingan dengan butik roti yang ada di mal, kata Deden, membuat usaha roti Tan Ek Tjoan mengalami penurunan. Untuk mengatasi masalah itu maka perusahaan roti tersebut memutuskan melakukan pendekatan dengan konsumennya. Seperti dengan mengadakan tur ke pabrik roti bagi murid-murid sekolah. [Jesisca Pang, Bekasi, Tionghoanews]