KISAH | TIONGHOANEWS


Selamat datang berkunjung dalam situs blog milik warga Tionghoa Indonesia. Disini kita bisa berbagi berita tentang kegiatan/kejadian tentang Tionghoa seluruh Indonesia dan berbagi artikel-artikel bermanfaat untuk sesama Tionghoa. Jangan lupa partisipasi anda mengajak teman-teman Tionghoa anda untuk ikutan bergabung dalam situs blog ini.

Sabtu, 13 April 2013

RAHASIA ITU TETAP AKU SIMPAN

Perkenalkan namaku Mayang (bukan nama sebenarnya), aku adalah seorang perempuan yang memiliki setatus sebagai istri ketiga dari seorang pengusaha kaya, sebut saja namanya Darmawan. Pernikahanku sengan darmawan memang berasal dari ide orang tuaku terutama ayahku yang mungkin telah jenuh dengan kehidupan yang serba sulit, atau mungkin juga karena ayah melihat Darmawan yang begitu baik hingga mereka berpikiran aku akan berbahagia dengan lelaki pilihan mereka.

Terus terang aku memang berbahagia menikah dengannya, walaupun setatusku hanya sebagai istri ketiga, dan aku harus meninggalkan kekasih pujaan hatiku.  Darmawan begitu baik dan sangat memperhatikan keadaan kami sekelurga, hingga hidup susah yang selalu menggayut di pundak kami secara tiba-tiba berubah drastis, namun untunglah keadaan tersebut tak membuat kami menjadi lupa daratan. Kami masih seperti dulu, tak pernah keluar dari norma-norma agama dan moral yang berlaku.

Kebahagiaan itu bertambah lengkap karena istri pertama dan keduanya tak mempermasalahkan kehadiranku sebagai istri ketiganya. Kami semua diberi tempat tinggal yang mewah, mungkin karena sikapnya yang adil itu istri-istri Darmawan tak pernah berselisih satu sama lain. Mereka justru terlihat saling mendukung dan saling menghormati.

Sejak menikah denganku, Darmawan memang lebih sering menginap bersamaku, ia beralasan di rumah istri pertama dan keduanya terlalu bising dengan anak-anaknya. walau demikian ia tetap bersikap bijaksana dengan selalu memberikan nafkah terhadap kedua istri dan kelurganya tersebut dan aku mendukung penuh apa yang ia putuskan dan tetapkan karena walau bagaimanapun ia memang masih berkewajiban memberi nafkah kepada mereka nafkah lahir maupun batin. Terlebih ketika aku berhalangan memberikan nafkah batin terhadap suami.

Saat menikah usiaku baru menginjak 20 tahun, di usiaku yang masih sangat muda itu aku sudah memiliki delapan orang anak dari darmawan, hasil pernikahan dengan istri pertama dan keduanya. Walau mereka bukan anak-anak kandungku, aku amat menyayangi mereka begitu juga sebaliknya kedelapan anak-anak tiriku juga begitu menyayangiku dan hal itulah  yang membuat aku merasa beruntung dengan pernikahan ini.

Dari kedelapan anak Darmawan, ada satu orang anak yang begitu dekat denganku sebut saja namanya Alek (bukan nama sebenarnya). Usianya sekitar 23 tahun, saat ini ia sedang kuliah di salah satu perguruan tinggi. Alek memang lebih sering bertandang kerumahku, terlebih ketika Darmawan mendapat tuga ke luar kota, alek selalu menemaniku karena dirumah aku hanya tinggal bersama seorang pembantu.

Di mataku Alek adalah seorang pemuda yang sangat santun, memiliki tubuh yang atletis dan wajah yang tampan seperti ayahnya. Sejak pertama kali kukenal, sepertinya aku sudah menyimpat bibit cinta kepadanya. Walau ia berstatus sebagai anak tiriku, namun usianya tak terpaut jauh denganku.

Rasa suka itu semakin tumbuh manakala suamiku semakin lama semakin tak bisa memberiku kepusaan diatas tempat tidur. Darmawan memang tak bisa bersikap romantis, setiap kali ia mengajakku bercinta, setiap kali itu pula ia selalu mengambil bagian dari haknya, semantara aku, sampai saat ini belum pernah merasakan apa yang selalu aku idam-idamkan yaitu orgasme, namun begitu aku akui bahwa aku tetap merasakan kenikmatan saat kami berhubungan intim, tapi tak salahkan jika aku mendapatkan lebih dari sekedar nikmat.

Hal itulah yang selalu memancingku untuk semakin mempersubur rasa cintaku terhadap Alek. Dan ternyata cintaku itu tak bertepuk sebelah tangan, karena semakin sering bertemu dan berbincang berduaan, Alek akhirnya mengakui bahwa ia juga menyimpan perasaan yang sama terhadapku, ia juga mengakui jika ia menghormati aku lebih dari sekedar ibu tiri dan lebih menyukai aku ketimbang ibu tirinya yang lain.

Mendengar itu semua, aku merasa tersanjung dan terharu. Itu semua membuatku jadi semakin mencintainya dan semakin ingin memilikinya. Semakin ingin merasakan kegagahan dan ketampanannya. Namun aku sadar sepenuhnya bahwa itu semua tak akan mungkin terjadi, walau bagaimanapun Alek adalah anakku yang harus kujaga dan kurawat dan untunglah Alek dapat mengerti,

Hingga saat ini aku dan Alek masih menyimpan perasaan yang sama, namun kami juga menyadari keadaan status masing-masing. Aku masih tetap berusaha melayani suamiku sebaik mungkin dan aku tak ingin menodai kesucian rumah tanggaku. Sampai saat ini rahasia itu masih tersimpan rapi dihati kami masing-masing. Bagi kami rasa cinta itu adalah anugerah dan kami masih bisa  berbahagia walau kami tak saling bersentuhan atau tak saling memiliki. [Anggraini Ang / Palembang]

***
Mari kita bersama-sama dukung Tionghoanews dengan cara kirim berita & artikel tentang kegiatan & kejadian Tionghoa di kota tempat tinggal anda ke alamat email: tionghoanews@yahoo.co.id

Selanjutnya ->

KUTUNGGU KAU KATAKAN CINTA

Mungkin kisahku ini bagai pungguk yang merindukan bulan, ya pungguk yang merindukan bulan karena aku cuma seorang PSK yang mencintai seorang laki-laki yang kebetulan berkedudukan sebagai seorang manager disebuah perusahaan. Aku mencintainya karena aku menilai ia seorang pria yang memiliki sesuatu yang istimewa yang aku sendiri tak bisa menerkanya, walau dilihat dari sisi agama, ia bukanlah pria yang taat dalam menjalankan ibadah agamanya, buktinya hampir setiap bulan ia mengunjungiku, walaupun tak selalu untuk melampiaskan hasrat kelelakiaannya.

Mengenal Pri (bukan nama sebenarnya), seperti mengenal seorang professor yang punya banyak jawaban ketika aku bertanya. Dari laki-laki ini juga aku bisa merasakan sebuah cinta yang sesungguhnya dari hatiku, bukan karena nafsu, bukan karena uang, tapi benar-benar karena kasih sayang, perhatian dan kehangatan dari seorang laki-laki yang selama ini belum pernah aku dapatkan.

Usiaku memang telah menginjak 26 tahun, tetapi selama itu tak pernah sekalipun ada laki-laki yang benar-benat memberikan perhatian yang tulus buatku. Yang ada dari sekian laki-laki yang pernah menjalin asmara dengaku, mereka cuma mau menikmati kehangatan tubuhku dengan gratis, pun dari para pelangganku. Mereka cuma datang, melucuti pakaian, 'pasang badan' menggelepar dan bayar, cuma itu saja tak ada aksi lain.

Berbeda dengan Pri yang setiap kali datang selalu menyuguhkan cerita-cerita yang membuatku selalu bisa tersenyum, bukan tersenyum semu, tetapi benar-benar tersenyum, bahkan aku bisa bermanja ria, dan menggelayut mesra. Pri memang romantis buat ukuran seorang pelanggan, setiap datang ia selalu membawa oleh-oleh untukku. Terkadang membawa buah-buahan, terkadang mempersembahkan sekuntum bunga mawar, bahkan ia pernah membacakan sebuah puisi manis sebelum ia akhirnya mencumbuku.

Begitu pula saat kami memulai 'prosesi pergumulan', ia begitu lembut membelai, membisikan kata-kata yang membuatku merasa terbang  ke awang-awang. Hal-hal seperti itulah yang membuat aku bisa menikmati 'permainan' ini, bahkan terkadang ia membuatku seperti cacing kepanasan, menggelapar merasakan sensasi yang begitu menghanyutkan seluruh aliran darahku.

Pun ketika ia berhasil menyelesaiakan 'tugasnya', tak seperti pelanganku yang lain yang langsung diam dan pergi begitu saja setelah membayar, Pri selalu mencium keningku dengan mesra,  memeluku dengan hangat sambil membisiakan kata-kata "Aku pasti akan kembali lagi, dan memberimu kehangatan seperti saat ini". sepertinya aku baru saja melayani layaknya suami sendiri, buakn melayani pelanggan yang telah membayarku sekian rupiah untuk mendapatkan kepuasan dariku.

Di lain waktu ia sengaja datang kepadaku hanya untuk sekedar ngobrol, membicarakan banyak hal, tentang pekerjaannya, tentang atasannya yang katanya terlalu bawel, tentang rencananya membeli sebuah rumah yang kelak akan ia jadikan istana bersama istri dan anak-anaknya, "Cuma sayang aku belum menemukan perempuan yang aku idam-idamkan selama ini," ujarnya, seperti hendak memberiku kesempatan.

Tak jarang ia juga memberiku banyak nasehat agar aku selalu berhati-hati dalam menerima teman kencan, agar aku lebih selektif dan bahkan memberiku trik-trik agar pelangganku bisa menikmati apa yang aku suguhkan. Dan entah mengapa, aku merasa tak enak hati saat ia berbicara seperti itu. hingga aku pernah berjanji kepadanya, bahwa aku tidak akan pernah melayani 'tamu' lain selain dirinya. Namun tentu saja aku tak berani mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya terhadapnya.

Setelah sekial lama terbuai oleh cinta yang bergelora di dadaku, tiba-tiba Pri menghilang begitu saja, tak pernah mengunjungiku lagi, tak pernah memberi kabar seperti sebelumnya. Entah mengapa aku begitu kecewa, kekecewaan yang sebenarnya tak layak aku rasakan, toh Pri cuma pelanggan tetapku, dan aku cuma seorang pemuas nafsu yang dibayar dan sepertinya tak layak untuk mendapatkan cinta dari Pri, tapi apakah aku salah karena aku mencintainya.

Jika saja Pri tahu jika aku mencintainya, mungkinkah ia akan membalas dengan sentuhan-sentuhan mesra, dengan pinangannya dan menempatkan aku dalam istananya seperti yang pernah ia ceritakan, mungkin ini cuma sebuah harapan, harapan semu yang membuatku bisa bermimpi indah dan menunggu ia mengatakan cinta dalam mimpi itu, oh alangkah indahnya jika semua itu menjadi kenyataan. [Mayasari / Depok]

***
Mari kita bersama-sama dukung Tionghoanews dengan cara kirim berita & artikel tentang kegiatan & kejadian Tionghoa di kota tempat tinggal anda ke alamat email: tionghoanews@yahoo.co.id

Selanjutnya ->

Senin, 11 Maret 2013

MALAIKAT ITU BERNAMA : IBU

Ada seorang anak siap untuk dilahirkan. Suatu hari ia bertanya kepada Tuhan, "Bagaimana aku akan hidup di bumi yang begitu kecil dan tak berdaya?"

Tuhan menjawab, "Di antara banyak malaikat, Saya sudah memilihkan satu untukmu. Dia akan menunggumu dan mengurusmu."

"Tapi katakan padaku, di sini di Surga, Aku tidak melakukan apapun kecuali bernyanyi dan tersenyum, itu sudah cukup bagiku untuk bahagia."

"Malaikatmu akan bernyanyi untukmu dan juga akan tersenyum untukmu setiap hari. Dan Kau akan merasakan kasih malaikatmu dan menjadi bahagia."

"Dan bagaimana aku mampu memahami ketika orang berbicara kepadaku, jika aku tidak tahu bahasa mereka?"

"Malaikatmu akan memberitahumu kata-kata yang paling indah dan manis yang pernah Kau dengar, dan dengan banyak kesabaran dan perawatan, malaikatmu akan mengajarkanmu bagaimana berbicara."

"Lalu, apa yang akan Aku lakukan saat ingin berbicara dengan-Mu?"

"Malaikatmu akan menempatkan tanganmu bersama-sama dan akan mengajarkanmu bagaimana berdoa."

"Saya pernah mendengar bahwa di bumi banyak orang jahat. Siapa yang akan melindungiku?"

"Malaikatmu akan membelamu meskipun untuk itu berarti ia mempertaruhkan hidupnya."

"Tapi Aku akan sedih karena Aku tidak akan melihat-Mu lagi."

"Malaikatmu akan selalu berbicara kepadamu tentang Aku dan akan mengajarkanmu cara bagaimana untuk datang kembali kepada-Ku, meskipun Aku akan selalu di sampingmu."

Saat itu banyak kedamaian di Surga, namun suara dari bumi sudah bisa didengarnya, dan anak itu pun terburu-buru bertanya lirih:

"Oh Tuhan, jika Aku harus pergi sekarang, tolong katakan padaku nama malaikatku."

"Nama malaikatmu tidaklah penting, Kau akan memanggil malaikatmu: Ibu." [Diana Chuang / Kendari]

***
Mari kita bersama-sama dukung Tionghoanews dengan cara kirim berita & artikel tentang kegiatan & kejadian Tionghoa di kota tempat tinggal anda ke alamat email: tionghoanews@yahoo.co.id
Selanjutnya ->

SEMANGKUK MI DARI ORANG ASING

Malam itu, Sue bertengkar dengan ibunya, lalu ia bergegas keluar dari rumah. Setelah jauh dari rumahnya, ia ingat tidak memiliki cukup uang di sakunya, ia bahkan tidak memiliki cukup uang untuk menelepon ke rumahnya.

Saat  ia melewati warung mi, ia menghirup aroma mi dari dalamnya, tiba-tiba ia merasa sangat lapar. Ia berharap mendapatkan semangkuk mi, tapi ia tidak punya uang.

Penjual mi melihatnya dan bertanya, "Hei gadis kecil, Kau mau semangkuk mi?"

"Tapi....saya tidak membawa uang," jawab gadis itu malu-malu.

"Masuklah. Saya akan memasakkan semangkuk mi."

Beberapa menit kemudian penjual mi membawakannya semangkuk mi yang masih mengepul. Baru beberapa suap, Sue menangis.

"Ada apa?"

"Tidak apa-apa. Saya hanya tersentuh oleh kebaikan Anda," kata Sue sambil menyeka air matanya. "Orang asing yang tidak saya kenal saja memberikan semangkuk mi, tapi ibu saya, setelah bertengkar, mengusir saya keluar dari rumah. Dia kejam!"

Penjual mi mendesah:

"Gadis kecil, mengapa Kau berpikir begitu? Pikirkan lagi. Saya hanya memberimu semangkuk mi dan Kau merasa seperti itu. Ibumu telah membesarkanmu sejak kecil, mengapa Kau tidak berterima kasih dan tidak mematuhi ibumu?"

Sue benar-benar terkejut mendengarnya.

"Mengapa aku tidak memikirkannya? Semangkuk mi dari orang asing membuatku merasa berhutang budi, sementara ibu yang telah membesarkanku sejak kecil dan aku tidak pernah merasa begitu, bahkan tidak sedikit pun."

Dalam perjalanan pulang, Sue memikirkan apa yang akan dikatakan kepada ibunya ketika ia sampai di rumah. "Bu, aku minta maaf. Aku tahu itu kesalahanku, maafkan aku..."

Setelah menaiki tangga, Sue melihat ibunya khawatir dan lelah mencarinya ke mana-mana. Setelah melihat Sue, ibunya dengan lembut berkata, "Sue, masuklah sayang. Kau pasti sangat lapar. Ibu sudah memasak nasi dan menyiapkan makanan. Makanlah selagi panas."

Tidak bisa mengendalikan diri, Sue menangis di pelukan ibunya.

Dalam kehidupan, kita kadang-kadang dengan mudah menghargai tindakan kecil dari beberapa orang di sekitar kita, tetapi untuk kerabat, terutama orangtua kita, kita melihat pengorbanan mereka sebagai hal yang alamiah.

Orang tua kita tidak mengharapkan kita membayar kembali jasa mereka memelihara kita, tapi pernahkah kita menghargai pengorbanan tanpa syarat dari orang tua kita? [Susanti Lim / Pontianak]

***
Mari kita bersama-sama dukung Tionghoanews dengan cara kirim berita & artikel tentang kegiatan & kejadian Tionghoa di kota tempat tinggal anda ke alamat email: tionghoanews@yahoo.co.id

Selanjutnya ->

UNTUK MENCINTAI DAN DICINTAI

Seorang pria yang sangat miskin tinggal bersama istrinya. Suatu hari, istrinya, yang berambut sangat panjang memintanya untuk membelikannya sebuah sisir agar rambutnya tumbuh dengan baik dan rapi.

Pria itu merasa sangat menyesal dan mengatakan tidak. Ia menjelaskan, ia bahkan tidak memiliki cukup uang untuk memperbaiki tali arlojinya yang baru saja putus. Sang istri tidak memaksakan permintaannya.

Pria itu pergi bekerja dan mampir ke sebuah toko arloji untuk menjual arlojinya yang rusak dengan harga rendah dan pergi membeli sisir untuk istrinya. Ia pulang di malam hari itu dengan sisir di tangannya siap untuk diberikan kepada istrinya.

Ia terkejut ketika melihat istrinya dengan potongan rambut yang sangat pendek. Ia telah menjual rambutnya dan memegang sepasang tiket menonton band baru.

Air mata mengalir dari mata mereka secara bersamaan, bukan untuk kesia-siaan tindakan mereka, tetapi untuk timbal balik cinta mereka.

Moral dari cerita ini: Untuk mencinta bukanlah sesuatu, untuk dicintai adalah sesuatu, tetapi untuk mencintai dan dicintai oleh orang yang Anda cintai, itu adalah segalanya. [Yenny Wu / Palangkaraya]

***
Mari kita bersama-sama dukung Tionghoanews dengan cara kirim berita & artikel tentang kegiatan & kejadian Tionghoa di kota tempat tinggal anda ke alamat email: tionghoanews@yahoo.co.id
Selanjutnya ->

LENGAN DAN KAKI UNTUK YANG LAIN

Bob Butler kehilangan kakinya dalam sebuah ledakan ranjau darat di Vietnam tahun 1965. Ia kembali ke rumah sebagai pahlawan perang. Dua puluh tahun kemudian, ia membuktikan sekali lagi bahwa kepahlawanannya berasal dari hati.

Butler sedang bekerja di garasi rumahnya di sebuah kota kecil di Arizona, Amerika Serikat saat musim panas, ketika ia mendengar jeritan seorang wanita dari sebuah rumah di dekatnya. Ia mulai menggulirkan kursi rodanya menuju rumah, tetapi semak-semak rimbun tidak bisa membuatnya masuk melalui pintu belakang. Lalu ia turun dari kursi rodanya dan mulai merangkak melewati sampah dan semak-semak.

"Aku harus ke sana," katanya. "Tidak peduli betapa sakitnya." Ketika Butler tiba di kolam renang ada seorang gadis tiga tahun, Stephanie Hanes, tercebur ke dalamnya. Ia lahir tanpa lengan dan jatuh ke dalam air, padahal tidak bisa berenang. Ibunya berdiri berteriak panik. Butler terjun ke dasar kolam dan membawanya naik. Wajahnya membiru, tidak ada denyut, dan tidak bernapas.

Butler segera melakukan pernapasan buatan untuk mencoba membuatnya bernapas kembali. Sementara, ibu Stephanie menelepon paramedis, yang segera keluar memenuhi panggilannya. Karena tak berdaya, ia menangis dan memeluk bahu Butler.

Butler melanjutkan memberikan napas buatan, dan dengan tenang meyakinkan si ibu. Jangan khawatir, katanya. "Saya sudah menjadi tangannya untuk keluar dari kolam renang. Kini, saya menjadi paru-parunya. Mari, kita bersama-sama membuatnya."

Beberapa detik kemudian gadis kecil itu batuk-batuk, sadar kembali, dan mulai menangis. Sang ibu langsung memeluk anaknya. Sambil berpelukan, ibu Stephanie bertanya kepada Butler bagaimana ia tahu kalau anaknya akan baik-baik saja.

"Saya tidak tahu," katanya. "Tapi ketika kaki saya meledak di medan perang, saya sendirian. Tidak ada seorang pun di sana yang membantu saya, kecuali seorang gadis Vietnam. Ia berjuang menyeret saya ke desanya, ia berbisik dalam bahasa Inggris yang terpatah-patah, 'Tidak apa-apa. Anda dapat hidup lagi. Saya akan menjadi kaki Anda. Bersama-sama kita buat itu.' Kata-kata itulah yang membawanya harapan bagi jiwa saya dan saya ingin melakukan hal yang sama untuk Stephanie. "

Ada saat-saat ketika kita tidak bisa berdiri sendiri. Ada saat-saat ketika kita membutuhkan seseorang untuk menjadi kaki kita, tangan kita, teman kita. [Merissa Tjia / Surabaya]

***
Mari kita bersama-sama dukung Tionghoanews dengan cara kirim berita & artikel tentang kegiatan & kejadian Tionghoa di kota tempat tinggal anda ke alamat email: tionghoanews@yahoo.co.id

Selanjutnya ->

Kamis, 07 Maret 2013

JANGANLAH ROYAL MENGUMBAR EMOSI

Seorang dokter bergegas masuk rumah sakit setelah dipanggil untuk operasi mendadak seorang anak. Ia mengganti pakaiannya dan langsung menuju kamar operasi. Ia melihat ayah anak itu berjalan mondar-mandir di lorong menunggu dokter.

Ketika melihat sang dokter, si ayah berteriak, "Mengapa Anda lama sekali? Tidak tahukah Anda, nyawa anak saya dalam bahaya? Tidakkah Anda memiliki rasa tanggung jawab?"

Dokter itu tersenyum dan berkata," Saya minta maaf, saya sedang tidak berada di rumah sakit dan saya datang secepat saya bisa. Sekarang, saya ingin Anda tenang, sehingga saya bisa melakukan pekerjaan saya."

"Tenang?! Bagaimana jika anak Anda berada di ruang operasi sekarang. Anda akan tenang? Jika anak Anda sendiri meninggal, apa yang akan Anda lakukan sekarang?" Kata sang ayah marah.

Dokter itu tersenyum lagi dan menjawab, "Dokter tidak bisa memperpanjang hidup. Pergi dan berdoalah bagi anak Anda. Kami akan melakukan yang terbaik oleh kasih karunia Allah."

"Memberikan nasihat ketika kita tidak peduli begitu mudahnya," gumam ayah.

Operasi berlangsung beberapa jam, setelahnya dokter keluar dengan senyum bahagia. "Terima kasih Tuhan! Anakmu selamat!"

Tanpa menunggu jawaban sang ayah, dokter itu bergegas pergi, "Jika Anda ingin bertanya lebih lanjut, tanyakan pada perawat."

"Mengapa dia begitu sombong? Tidakkah dia bisa menunggu beberapa menit sehingga saya bertanya tentang keadaan anak saya," komentar sang ayah kepada perawat beberapa menit setelah dokter itu pergi.

Perawat menjawab, "Putranya meninggal kemarin dalam kecelakaan lalu lintas. Ia sedang berada di pemakaman ketika kami memanggilnya untuk mengoperasi anak Anda." [Merissa Tjia / Surabaya]

***
Mari kita bersama-sama dukung Tionghoanews dengan cara kirim berita & artikel tentang kegiatan & kejadian Tionghoa di kota tempat tinggal anda ke alamat email: tionghoanews@yahoo.co.id
Selanjutnya ->

TIDAK ADA KATA TERLAMBAT

Keinginan, waktu, kecelakaan – dan keberuntungan – kadang memungkinkan kita menjadi "terlambat berkembang" untuk melakukan pekerjaan yang kita cintai. Namun, kita semua memang butuh sedikit bantuan. Margaret Fogarty Rudkin (1897 – 1967), digerakkan oleh keputusaasannya, serta didorong oleh suaminya, Brendan Gill (dalam buku Late Bloomers) menceritakan seperti ini.

Di pertengahan tahun, ia menerima dua masalah dalam kehidupannya: sumber keuangan suaminya yang terimbas depresi, serta kesehatan anak bungsu dari tiga putranya yang terancam alergi yang membuat mustahil baginya untuk makan. Makanan yang tak boleh dimakan antara lain roti yang diproduksi secara komersial.

Ia pun mulai membuat roti sendiri bermodalkan ingatan bagaimana neneknya membuat kue. Mungkin saja roti itu akan meningkatkan kesehatan anaknya. Roti yang lezat dan sehat itu ia tawarkan juga kepada tetangganya. Akhirnya ia menyewa pembantu dan mulai menjual roti dengan merk Pepperidge Farm.

Suaminya membawa roti tersebut ke New York City dan menawarkan untuk menjual ke toko ternama. Akhirnya, roti tersebut terjual secara luas. Pada akhirnya keluarga itu pun mendapatkan keuntungan. [Merissa Tjia / Surabaya]

***
Mari kita bersama-sama dukung Tionghoanews dengan cara kirim berita & artikel tentang kegiatan & kejadian Tionghoa di kota tempat tinggal anda ke alamat email: tionghoanews@yahoo.co.id
Selanjutnya ->

Minggu, 03 Maret 2013

SUKSES DIMULAI DARI PEKERJAAN SEPELE

Ada pepatah lama yang mengatakan: "Orang sukses melakukan hal-hal yang orang gagal tidak suka lakukan".

Bisa jadi ini moto Mary Matalin, komentator televisi, sebagai wakil manajer kampanye George Bush selama pemilihan presiden AS pada tahun 1992. Dalam pekerjaan itu, ia selalu bersedia melakukan tugas apa pun yang diperlukan untuk membantu kandidatnya. Secara kualitas dia telah belajar dalam tahun kampanye politik itu.

Ia aktif dalam kampanye dan partai politik sejak kuliah, bekerja dalam pemilihan lokal dan negara bagian di Illinois. Ia membawakan makan siang orang banyak, membuat salinan, melakukan semua pekerjaan mengetik, bahkan tugas-tugas yang tidak diperlukan dalam pekerjaannya. Namun baginya, itu adalah satu-satunya cara untuk belajar tentang bisnis.

"Beberapa anak membenci ketika menjawab telepon," ia pernah mengatakan dalam suatu wawancara. "Mereka pikir itu tugas tak berarti. Akan tetapi satu-satunya cara Anda memahami bagaimana politik, siapa pemainnya, seberapa cepat mondar-mandir, dan bagaimana mengkoordinasikan 50 putaran, itulah dengan menjawab telepon."

"Dan itu bukan hanya soal menjawab, 'Hai… Ini kantor Mary Matalin, ada pesan?' Selama kampanye, ada hari-hari saya mendapat panggilan telepon 400 kali. Orang di telepon harus mampu menjawab 50 atau 60 persen panggilan tersebut dan bukan saudara saya satu pun di antara mereka yang menelepon. Yang mengherankan, tidak ada satu pun yang ingin melakukan hal itu."

"Banyak pekerjaan sederhana, seperti menjilati amplop, membuatkan kopi, atau mengantarkan paket ke Gedung Putih. Banyak relawan bekerja yang hanya ingin pekerjaan yang dilakukannya saja. Tapi saya melakukan banyak pekerjaan."

"Orang kadang hanya memotong jalur tanpa melihat proses bagaimana melakukannya. Siapa yang pergi ke pertemuan apa, di kantor mana, siapa yang dapat nama. Semua itu tidak relevan. Ini hanya menghitung upaya dan sikap saja." [Veronica Lim / Bogor]

***
Mari kita bersama-sama dukung Tionghoanews dengan cara kirim berita & artikel tentang kegiatan & kejadian Tionghoa di kota tempat tinggal anda ke alamat email: tionghoanews@yahoo.co.id
Selanjutnya ->

Sabtu, 02 Maret 2013

SIAPA YANG PALING UNGGUL ... ??

Alkisah palu, bor, obeng, serut, gergaji dan penggaris sedang mengadakan rapat di bengkel tukang kayu. Masing-masing diantara mereka saling menyalahkan satu sama lain. 

Palu dinilai terlalu ribut karena suaranya paling gaduh ketika bekerja.

Bor juga dinilai tidak memberi manfaat apa-apa karena tugasnya hanya membuat lubang-lubang saja. Obeng pun demikian, karena orang harus memutarnya berulang-ulang kali baru bisa bekerja. 

Apalagi serut, ia dinilai hanya bekerja pada permukaan saja dan tidak mendalam.
Gergaji yang hanya bisa memotong-motong saja.
Lebih-lebih penggaris, tugasnya hanya mengukur pihak lain saja,
Mereka semua berpikir bahwa se-olah-olah dirinyalah yang terbaik.

Di tengah-tengah kegaduhan rapat itu, masuklah si tukang kayu. Walaupun mereka saling menyalahkan, akhirnya mereka semua dipakai juga oleh si tukang kayu itu untuk menghasilkan suatu perabot yang indah.

Ketika perabot itu telah selesai dibuat, masing-masing alat itu pun sadar, bahwa tidak ada gunanya memperbincangkan kekurangan masing-masing, sebab mereka tetap hanyalah alat yang dipakai oleh si tukang kayu.

Seperti halnya kita semua itu, hanyalah bagaikan alat-alat yang bila ada di tangan orang yang Ahli maka berbagai kekurangan yang kita miliki hendaknya tidak menjadi penghalang untuk saling bekerjasama dan saling melengkapi satu sama lain.

Ini semua adalah yang dimaksud bahwa Kekurangan Kita mungkin adalah Kelebihan Orang Lain, dan Kekurangan Orang lain bisa jadi adalah Kelebihan kita... Maka sudah seharusnya kita bisa saling melengkapi satu sama lain.... [Ernawati H / Medan] Sumber: Kebajikan

***
Mari kita bersama-sama dukung Tionghoanews dengan cara kirim berita & artikel tentang kegiatan & kejadian Tionghoa di kota tempat tinggal anda ke alamat email: tionghoanews@yahoo.co.id
Selanjutnya ->
Mari kita dukung kiriman artikel-artikel dari teman-teman Tionghoa, dengan cara klik "SUKA" dan teruskan artikel kesukaan Anda ke dalam facebook, twitter & googleplus Anda.

TERBARU HARI INI

ARTIKEL: INTERNASIONAL

ARTIKEL: BUDAYA

ARTIKEL: KEHIDUPAN

ARTIKEL: KESEHATAN

ARTIKEL: IPTEK

ARTIKEL: BERITA