KISAH | TIONGHOANEWS


Selamat datang berkunjung dalam situs blog milik warga Tionghoa Indonesia. Disini kita bisa berbagi berita tentang kegiatan/kejadian tentang Tionghoa seluruh Indonesia dan berbagi artikel-artikel bermanfaat untuk sesama Tionghoa. Jangan lupa partisipasi anda mengajak teman-teman Tionghoa anda untuk ikutan bergabung dalam situs blog ini.

Senin, 05 Maret 2012

KURELAKAN ISTRIKU MENJUAL DIRI

Cerita seperti ini tidak melulu harus sedih, meski pada awalnya aku merasakan sebuah kepiluan karena istri tercinta telah meninggalkan aku dua tahun yang lalu. Ia menikah lagi dengan lelaki lain. Aku mengiyakan permintaannya. Kami bercerai setelah usia pernikahannya dengan lelaki eropa  itu memasuki sekitar dua tahun. Apalah arti sebuah surat cerai bagiku, hanya sebagai pernyataan saja. Aku justru lebih rela dia menikah dengan orang lain jika itu bisa membuatnya bahagia.

Istriku yang centil molek pilihan orang tuaku. Semua lelaki manapun tidak akan menyangka kalau sebenarnya dia sudah memiliki tiga orang anak. Dia wanita yang dengan segala pembawaannya terlalu menarik, memikat semua mata-mata yang haus akan pemuasan hasrat.

Wanita yang menjadi istriku dulu pintar bersolek, kata-katanya manis, lekuk tubuhnya nyaris  tidak jauh dengan sebuah gitar. Aku tersenyum-senyum mengingat wujud itu. Apalagi gaya jalan istriku, begitu aduhai! Dia menyukai sepatu berhak tinggi dengan baju setipis kulit bawang. Gerah, kilahnya jika aku mengkoreksi pakaian yang dipakai istriku itu. Tapi aku tahu jelas, bahwa gairah istriku masih besar, semua itu terbukti apalagi dengan usianya yang masih berusia 24 tahun. Bayangkan dua puluh empat tahun dengan tiga anak.

Tetapi apa yang membuatku selalu tersenyum? Itu karena tingkat kepasrahanku yang tinggi karena sifat keras kepala istriku yang cantik yang semakin parah. Sudah puluhan kali, bahkan sampai mulutku berbusa istri kesayanganku itu tetap saja nakal. Ia tidak lagi mencuri-curi waktu untuk menelepon lelaki lain. Yang aku pertahankan waktu itu adalah hanya kebahagiaan anakku, karena ia masih membutuhkan seorang ibu.

Aku hanya bisa tersenyum, apalagi menerima anggapan orang lain, khususnya kaum ibu tetangga kanan kiri rumah yang suaminya sering main mata dengan istriku. Tidak ketinggalan orang tuaku yang menjadi kian cerewet ketika mengetahui tabiat menantunya. Semua sepakat dengan kata CERAI.

Rasa cemburu, ada tidak ya? Mungkin pada awalnya iya. Tapi beberapa tahun belakangan apalagi setelah istri cantikku itu menjadi-jadi, sepertinya rasa itu menjadi kebal. Seolah semua cemburu, kecewa, mental. Aku menganggap istriku bukan lagi sebagai seorang pendamping yang setia seperti yang pernah ia janjikan dulu, ya tepatnya sewaktu masa kejayaan diriku berada pada puncaknya.

Tetapi setelah kejayaan itu hancur, istriku tak pernah lagi bisa menjadi pendamping setia. Ia lebih senang mengumbar kehangatan tubuhnya untuk siapa saja, asal ada uang ia pasti rela bertelanjang. Mungkin memang menyedihkan, tetapi itulah kehidupan yang mesti kutelan dengan segala kerelaan, kesabaran bahkan mungkin tanpa penyesalan. Itulah sebabnya aku berkata bahwa cerita ini tidak melulu harus bersedih.

Di saat aku memulai segalanya justru yang didapat hanya cacian, sindiran dan berbagai tektek bengek lain. Maklum, sejak dipecat dari tempat kerja terakhir semua kebiasaan istriku berkurang. Ia jarang facial, creambath, fitness dan perawatan-perawatan lain, meski gayanya masih sama saja seperti dulu. Ia marah besar jika satu jerawat muncul di salah satu kulit wajahnya, kukunya yang patah, kulitnya mengering atau pakaian-pakaiannya yang kusam padahal baru beberapa kali dipakai.

Semua itu sudah menjadi sarapanku setiap pagi. Sejak saat itu ia juga sering keluar rumah. Anak kami yang paling tua dan yang kedua meninggal diusia yang masih terlalu muda karena sakit. Tinggal anakku yang paling kecil yang sekarang berusia hampir genap empat tahun. Anak yang tinggal semata wayang ini benar-benar aku jaga dengan segenap hatiku, apalagi kasih sayang ibunya tidak lagi seperti dulu.

Sekarang aku tinggal bersama Ibu yang selalu menemaniku dalam keadaan apapun. Meski sudah cukup tua dengan garis-garis keras di wajahnya tapi ia tetap semangat menjaga anakku yang kadang nakalnya bukan main. Ibuku adalah seorang janda tulus yang ditinggal mati suaminya beberapa tahun yang lalu.

Ibuku sering menganjurkanku untuk menikah lagi. Aku sendiri merasa belum saatnya, apakah aku trauma? Tidak! Kadang aku bertengkar pada diri sendiri. Sebagai lelaki aku memang tidak bisa sendiri. Ibuku sudah tua, ia tidak akan selamanya bisa mengurus keperluanku anak bungsuku. Justru seharusnya dia sudah beristirahat seperti nenek-nenek lainnya yang setiap pagi menjemur dirinya dibawah hangat sinar matahari pagi, mendengarkan siaran radio dan menikmati secangkir teh tubruk ditemani cucu-cucunya yang riang bermain di taman.

Semua itu tidak pernah dirasakannya sejak detik aku menikah dengan istriku hingga sekarang ini. Belum lagi hasratku sebagai lelaki, anakku yang membutuhkan sebuah sentuhan tangan seorang ibu dan akh… aku memacu pikiranku dan mencoba meraih ide itu hingga menjadi nyata. Tapi entah mengapa aku lagi-lagi mundur dan mundur.

Aku tidak sanggup lagi menahan desakan hati, kemudian aku mengambil sebuah buku yang menjadi temanku selama ini dan mulai menuliskan lirik-lirik hidupku terhitung sejak tanggal terakhir. Malam, adakah kau turut ambil suara, atau unjuk rasa? Aku bingung sampai kapan rasa sepi, malam-malamku dan di saat anak serta ibuku tertidur bertemankanmu juga cahaya-cahaya kecilmu yang berkilauan? [Angelina Lim / Medan]

ARTIKEL YANG BERKAITAN

Mari kita dukung kiriman artikel-artikel dari teman-teman Tionghoa, dengan cara klik "SUKA" dan teruskan artikel kesukaan Anda ke dalam facebook, twitter & googleplus Anda.

TERBARU HARI INI

ARTIKEL: INTERNASIONAL

ARTIKEL: BUDAYA

ARTIKEL: KEHIDUPAN

ARTIKEL: KESEHATAN

ARTIKEL: IPTEK

ARTIKEL: BERITA