KISAH | TIONGHOANEWS


Selamat datang berkunjung dalam situs blog milik warga Tionghoa Indonesia. Disini kita bisa berbagi berita tentang kegiatan/kejadian tentang Tionghoa seluruh Indonesia dan berbagi artikel-artikel bermanfaat untuk sesama Tionghoa. Jangan lupa partisipasi anda mengajak teman-teman Tionghoa anda untuk ikutan bergabung dalam situs blog ini.

Rabu, 27 Juli 2011

MULUT

Cerpen: Aku mengenal perempuan itu di sebuah tempat di suatu waktu, yang entah di mana, entah kapan, aku lupa. Tetapi tiba-tiba saja, tanpa mampu kusadari tidak bisa kuhindari, ia sudah memenuhi relung-relung batinku yang terdalam tanpa kata-kata yang disampaikan melalui suara lidah dan bibir yang mengeliat dari mulutnya yang seksi.
Apakah aku amnesia?
"Kita bertemu ketika kamu menjadi salah satu juri di lomba baca puisi Dewan Kesenian Surabaya," suaranya berbisik semilir menggugah memoriku. Tetapi mulutnya tetap tidak bergerak. Terkatup rapat membentuk sebaris garis lurus. Entah bagaimana ia bisa menyampaikan kata-katanya tanpa getaran resonansi gelombang suara.
"Oh ya?" aku berusaha keras mengingat-ingatnya.
"Ya. Waktu itu, aku adalah salah satu peserta lomba. Kamu sudah ingat?" Lagi-lagi dengan getaran gelombang telepati ia menyapa batinku.
Aku berusaha keras mengumpulkan keping-keping puzzle yang bertebaran untuk mengingatnya. Hanya sekelumit layar hitam yang sejenak berganti putih lalu hilang.
"Hm…Ketika kamu naik pentas untuk membacakan puisi, kamu hanya diam. Lama. Kamu disoraki penonton. Mereka berteriak-teriak menyuruhmu turun. Kamu tetap diam. Sampai dewan juri dan panitia membatalkan penampilanmu. Kamu digugurkan," kugumamkan sekeping puzzle kecil yang bisa kupungut dengan susah payah dari tumpukan ingatan yang timbul tenggelam.
"Kamu mulai ingat…" Ia menghembuskan napas panjang sampai wanginya bertebaran di ambang udara.
Kutangkapi wangi napas itu dengan menghirupnya untuk memenuhi dadaku yang kerontang. Ah…terasa lebih sejuk sekarang. Begitukah ketika Tuhan menghembuskan napasnya ke tubuh liat Adam dan rusuknya yang kemudian menjadi Hawa? Begitukah laki-laki dan perempuan bila bersenapas maka mereka tidak butuh kata-kata yang disampaikan melalui mulut untuk bersejiwa?
"Kamu kenapa waktu itu? Belum siap? Grogi?" aku mulai bertanya juga tanpa suara kepadanya.
Dia mengangkat bahunya yang indah. Tulang bahunya mengkilat seperti gading yang sempurna. Kuning. Mataku asyik menikmati setiap gerakannya.
"Siap. Tidak grogi. Mendadak saja, ketika melihatmu, aku merasa kata-kata tidak lagi diperlukan."
"Oh ya? Kenapa?"
"Sewaktu menatapmu…pandangan kita bertaut. Walau mulut terkatup tetapi getaran hati bersahut. Lalu untuk apa lagi kata-kata? Seketika itu juga, aku melihat dan merasakan mulut-mulut yang terbuka mengangga ternyata hanyalah sebuah sarana, sebuah kendaraan, sebuah alat, untuk berkomunikasi. Tetapi, apakah itu masih perlu jika nurani yang berbicara?" suaranya berbaur di tengah deru angin.
"Aku tidak mengerti…"
"Ayo, kita melihat mulut-mulut…," tanpa kata-kata ia menarik tanganku ke dalam genggamannya yang hangat. Menuntunku, ah, tepatnya mengajakku berjalan. Hanya naluri yang membuatku mengikutinya tanpa bertanya.
Ia membawaku ke sebuah terminal di tengah kota. Melintas di antara sopir-sopir angkotan kota yang duduk mencakung bermain kartu dengan rokok terselip di bibir mereka, pengemis-pengemis yang sibuk memamerkan cacat tubuhnya, sampai pengamen-pengamen yang gelisah menghitung recehan uangnya.

Kulihat bibir-bibir hitam yang terbuka lebar menampakkan kerak-kerak nikotin di setiap sela gigi. Bau tidak sedap menguap di sela udara. Suara-suara lantang berteriak melantunkan lagu sumbang di antara gemerincing uang logam yang memekakkan telinga. Tetapi mereka terbahak. Tawa merebak seakan akrab dengan lindasan roda kehidupan. Seakan tidak ada yang mereka gelisahkan tentang hari esok. Apakah mereka tidak pernah menyulam mimpi?
Menyulam mimpi kah?
Seketika kuingat mulut-mulut yang berpidato menjanjikan mimpi hari esok. Mimpi siapakah yang mereka renda? Mimpi sekelumit orang yang duduk di kursi empuk ataukah juga mimpi berjuta orang yang duduk beralas koran? Mimpi segelintir jiwa yang berbantal empuk ataukah juga mimpi selaksa jiwa yang berlapik tikar?
Ck!
Lalu perempuan itu menarikku memasuki sebuah plaza megah di tengah kota.
Air condition yang nyaman menyergap kegerahan yang sejak tadi tersimpan di sela ketiak. Wangi parfum menyeruak menyerbu hidung berlomba dengan aroma berbagai makanan fast food, Indonesian food, Chinesee food, Japanese food, sea food, dan semua jenis 'food-food' yang lain. Perempuan-perempuan cantik lalu lalang dengan dandanan up to date. Mulut-mulut mereka yang berpoles lipstik ratusan ribu rupiah mengoral sejumlah karbohidrat, protein, dan lemak, yang kemudian terurai ke dalam zat-zat yang akan mereka buang secara alami di kakus. Atau justru mereka akan bergegas ke salon kecantikan untuk menjalani terapi pelangsingan ketika melihat timbunan kulit jeruk yang bergelombang membuat mereka tidak bisa mengenakan rok mini strect dan kaos u can see. Borjuis!
Borjuis kah?
Sekelebat melintas mulut-mulut lain di Dolly, Moroseneng, Kremil, bahkan night club berkelas. Mulut-mulut yang cekikikan, mendesah dan mengerang di balik kelambu temaram beraroma bir murahan bahkan sampai cognag Hennessy, Remy Martin, atau XO. Mulut-mulut berbibir tipis atau tebal dengan lidah merah kenyal menyemburkan napas birahi. Mulut-mulut yang memamah sperma!
Glek!
"Masih banyak mulut-mulut yang lain…," ia menarik tanganku dengan lembut, seakan tidak rela aku berlama-lama menikmati mulut-mulut indah yang sedang sibuk dengan segala macam aktivitas oral-nya.
Kami memasuki sebuah bangunan kantor. Lagi-lagi aku melihat wajah-wajah cantik dengan pulasan eye shadow dan blush on yang membuat wajah-wajah itu sesegar fruit punch . Tetapi kutangkap gelepar keletihan dan kegelisahan di permukaan mata batin walaupun mereka sembunyikan rasa itu di balik blazer mengkilat yang tersetrika rapi. Toh, tetap saja mulut-mulut mereka mengumbar senyum dan kata-kata yang memabukkan, menghanyutkan, membuai, mempesona, untuk mata dan telinga di depannya.
"Siapa mereka?" tanyaku bingung.
"Perempuan-perempuan bermulut madu. Marketing bank, marketing mobil, marketing real estate, marketing asuransi!"
Aku jadi tertarik untuk memperhatikan bagaimana mulut-mulut indah itu mengeluarkan huruf demi huruf yang kemudian terangkai menjadi kata lalu terurai menjadi kalimat dengan suara merayu, merengek atau bahkan memaksa. Lidah-lidah tidak bertulang yang membuat hati mencair untuk merogoh kantong dan dompet bahkan menandatangani cheque. Memangkah Tuhan menciptakan Hawa dengan mulut bermadu sehingga hati Adam lumer seperti ice cream yang meleleh ketika dijilati, pada saat mereka mencicipi buah kuldi? Itu karunia atau petaka?
Ah!
"Kamu memang Adam, mudah terpesona dengan mulut-mulut bermadu…," perempuan itu memupus keterpesonaanku. Lagi-lagi tanpa suara yang keluar dari mulutnya. Ia mengomel. Tetapi mulutnya tetap membentuk sebuah garis lurus.
Telepati kah?
"Coba lihat mulut-mulut lain di sebelah sana…" Ia melemparkan pandangan matanya sejauh nelayan melempar jala.
Kuikuti sejauh matanya memandang. Menerawang melintas laut, ombak, pantai dan pulau…
Oh…laut! Laut yang bergelombang!
Oh…ombak! Ombak yang menghempas!
Oh…pantai! Pantai yang landai!
Oh…pulau! Pulau yang kandas!
Keping-keping puzzle di benakku terburai ditelan ombak tinggi di laut yang bergelombang, seperti lidah-lidah yang beradu untuk bercumbu dalam sebuah ciuman dalam yang memabukkan. Hanya sekejap. Lalu lenyap. Pecah menjadi busa-busa yang kandas di sebuah pulau bak terserap pasir di pantai landai.
Hanya sepersekian detik aku terperangah. Ketika rohku kembali dari kembaranya yang tidak tahu ke mana, keping-keping puzzle-ku hilang hanyut terombang-ambing karam di atas karang. Jemariku tak mampu meraihnya. Lidahku kelu. Tali suaraku kaku. Hanya mulutku yang mengangga tanpa kata-kata…
Di sekelilingku ribuan mulut-mulut juga mengangga tanpa kata-kata! Mulut-mulut tua renta yang keriput atau mulut-mulut bayi yang merenggek, mulut-mulut yang tertawa juga mulut-mulut yang menangis.
Menganga bukan saja karena lapar dan dahaga, tetapi juga pedih, perih dan sedih. Tangis yang tak terucap. Lara yang tak terperi. Menyangkut di tenggorokan. Menohok ke hulu hati.
Mulut-mulut yang tak mampu bersuara dan berkata lagi…
Kuteliti dan kuamati seluruh anatomi di mulut-mulut mereka. Ada kelopak bibir, ada gigi geligi yang berkerak, ada lidah merah kenyal, ada air ludah yang menyembur-nyembur, sampai ke dalam rongga tenggorokan yang liat. Puff! Baunya pun bermacam-macam. Ada yang berbau segar karena baru menyikat gigi dengan pasta gigi merek terkenal, ada bau mint karena baru berkumur dengan larutan penyegar, bau rokok tembakau, bau bawang Bombay dan petai, sampai bau busuk dari gigi infeksi karena berlubang. Aku mendadak seakan-akan menjadi seorang dokter gigi. Kulihat semua perangkat yang ada di dalam mulut-mulut itu terkepung kata-kata yang berebut semburat keluar. Entah kata-kata manis "sayang, manis, cinta…" atau sampai kata-kata makian "anjing, bangsat, keparat!"
Tetapi kata-kata itu cuma bergerombol menyumbat batang rongga tenggorokan. Mereka berdesak-desakan di sana, tetapi tidak ada satu pun kata yang mampu lolos keluar dilontarkan oleh lidah dan bibir. Lidah-lidah itu kelihatan kaku. Bibir-bibir terkatup rapat. Tetapi aku tetap melihat kata-kata itu bagaikan gelombang dahsyat bergulung-gulung di rongga tenggorokan.
Dari mana datangnya begitu banyak kata-kata? Apakah datang dari relung hati? Kenapa tidak bisa terucap? Kenapa cuma bergumpal? Bukankah itu menyesakkan dada? Pertanyaan beruntunku cuma sekadar tanda tanya di dalam hati. Lidah dan bibirku pun tidak mampu kugerakkan.
"Masih perlukah kata-kata suara ketika hati yang berbicara?" batinku digetarkan gelombang makna tanpa suara dari perempuan yang entah kukenal kapan dan di mana, aku sudah lupa.
"Seperti seorang ibu, perlukah kata-kata untuk mengerti tawa dan tangis bayinya? Tawa bayinya adalah kebahagiaannya. Tangis bayinya adalah kepedihannya. Kita adalah bayi-bayi yang dengan mulut rakus berlomba menganga berbicara, memamah, meng-oral bahkan berdusta! Tetapi, ibu kita, ibu pertiwi…menyimpan rintihan sedu sedan tanpa suara dan kata-kata," perempuan itu meratap tanpa air mata dengan mulut tetap membentuk sebuah garis lurus.
"Aku sudah muak melihat kata-kata dalam bentuk suara. Berisik. Bising. Tetapi tak tahu apa maknanya. Semua berebut bicara. Semua ingin didengar. Semua ingin mulutnya diperhatikan. Kenapa tidak pernah mendengarkan yang lain? Kenapa kita tidak lebih mempergunakan telinga? Bukankah telinga juga mempunyai fungsi yang sama dengan mulut?" perempuan itu memalu batinku dengan heningnya.
Aku mengenal perempuan itu di sebuah tempat di suatu waktu, yang entah di mana, entah kapan, aku lupa. Tetapi tiba-tiba saja, tanpa mampu kusadari, tidak bisa kuhindari, ia membuatku bertanya-tanya, "Tuhan, masih perlukah mulut Kau ciptakan?" [Meilinda Chen, Jakarta, Tionghoanews]

ARTIKEL YANG BERKAITAN

Mari kita dukung kiriman artikel-artikel dari teman-teman Tionghoa, dengan cara klik "SUKA" dan teruskan artikel kesukaan Anda ke dalam facebook, twitter & googleplus Anda.

TERBARU HARI INI

ARTIKEL: INTERNASIONAL

ARTIKEL: BUDAYA

ARTIKEL: KEHIDUPAN

ARTIKEL: KESEHATAN

ARTIKEL: IPTEK

ARTIKEL: BERITA