Sebelum minum arak, biasanya orang Taiwan akan minum secangkir teh terlebih dulu, sedangkan saya selalu tersenyum dan berkata, "Tolong berikan saya segelas air putih." Lama kelamaan orang sekitar saya tahu kebiasaan ini, mereka tidak pernah lagi menawarkan minum teh jenis apa, mereka otomatis menuangkan segelas air putih untuk saya. Kehidupan saya yang hambar ditambah lagi dengan perangai saya yang hambar cocok seperti secangkir air putih.
Seiring berlalunya waktu, setelah lulus SD - SMA hingga perguruan tinggi, akhirnya saya melanjutkan ke jenjang S2. Teman sekolah saya, Yong, kini menjadi tenaga pengajar di Universitas tersebut. Setelah bertahun-tahun tak pernah berjumpa, membuat kami menjadi semakin akrab. Saat kami makan siang bersama, Yong bertanya, "Mau minum teh apa?" Saya mencibirkan mulut dan berkata, "Segelas air putih sudah cukup!"
Yong tertawa terbahak-bahak, dia memang tipe orang yang bersifat terbuka. "Teman lama, mengapa selama bertahun-tahun ini kamu sama sekali tidak ada kemajuan? Masih segelas air putih!?" Muka saya segera memerah, tidak mengucapkan sepatah kata pun dan masih tetap mempertahankan segelas air putih saya itu.
Lalu Yong mengeluarkan satu bungkusan kecil dari dalam tasnya dan berkata, "Coba lihat, ini Teh Bi Luo Chun, kualitas premium yang saya beli di Zhe Jiang, cobalah minum sedikit. Jangan khawatir, ini bukan racun jadi tidak bisa membunuh orang."
Sungkan untuk menolak, akhirnya tawarannya saya terima. Melihat teman saya menebarkan butiran-butiran kecil berwarna hijau ke dalam cangkir, timbul perasaan ingin tahu. "Apakah ini teh? Mengapa seperti siput yang mengerut?"
Butiran hijau yang terendam air panas merekah bagai mengembangkan sayapnya. Butiran itu ternyata berbentuk selembar daun hijau yang besar. Udara panas membumbung ke atas disertai bau segar dan wangi. Dengan hati-hati saya meniup uap di atas cangkir, lalu perlahan-lahan meneguknya. Oh! Ternyata air teh ini sesegar udara pagi di hutan bambu, dengan sekejab sekujur tubuh merasa lega dan nyaman seperti baru saja dibersihkan.
Sejak itu, saya selalu memilih Bi Luo Chun. Selama tiga tahun kehidupan sebagai mahasiswa S2, Bi Luo Chun dengan setia menemani saya.
Setelah meninggalkan kehidupan belajar yang tenteram, dalam kehidupan yang sama sekali baru saya menghadapi wajah-wajah yang baru pula. Saya ingin juga berkeluarga suatu hari dan menginginkan sebuah kehidupan yang stabil. Saya memanggul ransel perjalanan saya, meninggalkan segala kesibukan dan pergi ke desa asing. Di sana ada keperkasaan dan keagungan bagaikan gunung, juga ada kelapangan bagaikan lautan. Udaranya sangat bersih dan segar, juga tatapan polos mata yang hitam dan terang, seakan menanti segala keindahan yang saya bawakan untuk mereka.
Saya mengunjungi kediaman kekasih saya. Baru saja saya tiba, dia sudah menyuguhkan secangkir teh bunga Mo Li untuk saya. Saya menatap sekeliling rumahnya yang sederhana, dalam hati saya mengurungkan niat untuk memintanya membuatkan Teh Bi Luo Chun, dan meminum teh yang telah disajikan dengan tenang. Terasa udara hangat mengalir ke perut, harumnya semerbak menerjang masuk kedalam hati, ternyata teh bunga Mo Li itu persis seperti bunga melati, bagaikan mandi dalam keharuman bunga melati yang anggun.
Sejak saat itu kegemaran saya meminum Teh Mo Li tidak lebih sedikit jika dibandingkan dengan kekasih saya.
Kehidupan yang hambar juga sibuk seperti ini, kadang kala juga mengharuskan kita berkunjung ke tempat lain.
Suatu hari kami mengunjungi rumah seorang pelukis, perangainya lembut, bahkan ketika dia menyajikan teh pun juga terasa lamban. Itu adalah teh merah yang sudah biasa dia minum. Melihat cairan yang berwarna merah darah, tiba-tiba saya merindukan teh Mo Li. Pelukis langsung mempersilakan kami untuk meminum teh yang disajikan. Setelah minum, saya menjadi tercengang, ternyata teh itu juga mempunyai keharuman kental yang cukup hangat, mempunyai keharuman yang tidak membosankan. Sekujur tubuh segera terasa nyaman.
Ternyata teh merah tersebut juga mempunyai keunggulannya tersendiri.
Sejak saat itu, saya sudah tidak bersikukuh mempertahankan pendapat sendiri, tidak lagi berpandangan picik bagai orang yang duduk di dasar sumur melihat langit. Ternyata jika seseorang dapat melepaskan keterikatan pikirannya, dunia ini akan menjadi luas dan lebar, dada serasa lapang bagai lautan. Segala sesuatu yang bagus dan indah akan tampak jelas di depan mata, jiwa kita juga akan mengepakkan sayap terbang ke angkasa dalam ketenangan tanpa sesuatu keinginan. [Meilinda Chen, Jakarta, Tionghoanews]