KISAH | TIONGHOANEWS


Selamat datang berkunjung dalam situs blog milik warga Tionghoa Indonesia. Disini kita bisa berbagi berita tentang kegiatan/kejadian tentang Tionghoa seluruh Indonesia dan berbagi artikel-artikel bermanfaat untuk sesama Tionghoa. Jangan lupa partisipasi anda mengajak teman-teman Tionghoa anda untuk ikutan bergabung dalam situs blog ini.

Kamis, 13 Januari 2011

GENDERANG AFRIKA

Dahulu di perkampungan Afrika, ada seorang anak lelaki yang bernama Sullivan, dari kecil dia sudah suka bermain genderang dan bermain dengan baik, melalui suara genderang, dia tidak saja dapat berkomunikasi dengan penduduk di kampung yang jauh tetapi juga dapat berkomunikasi dan bermain dengan burung-burung yang ada didalam hutan.

Pada suatu hari, seorang wisatawan Prancis yang bernama Georges Pompidou datang ke kampungnya ingin berwisata, lalu dia menyuruh Sullivan menjadi pemandu wisatanya.

Mereka tiba disebuah lembah yang luas, disana banyak burung dan binatang, Pompidou sangat senang, tanpa berpikir panjang Pompidau mengeluarkan senapan yang selama ini disembunyikannya, naik keatas mobil jipnya dan mulai berburu.

“Dorrr!!!... seekor singa terjatuh di tanah kena tembakannya, tanpa bisa dicegah oleh Sullivan, seharian ini turis asing ini sudah membunuh banyak binatang, lalu menguliti mereka, memotong tanduk dan mengambil bulunya bermaksud membawa pulang ke Prancis untuk dipamerkan kepada teman-temannya.

 Sullivan sangat sedih, oleh sebab itu di malam yang sunyi dia mengeluarkan genderang yang dibawanya dan mulai bermain “Dong… dong.. dong. Ada seorang kulit putih ingin membunuh seluruh binatang, tolong bantu binatang-binatang ini melarikan diri.”

Irama genderang terdengar merdu, tidak berapa lama kemudian, dari jauh terdengar balasan suara genderang.. “Dong…dongg.  Donng. Sudah tahu… sudah tahu.. dong…. Dong..dong.. semua binatang sudah melarikan diri. Dong… dong…. Dong..” Sullivan memandang jauh kedalam hutan, menganggukkan kepalanya.

Keesokan harinya, Pompidou dan Sullivan naik ke atas jip pergi berburu lagi. Tetapi, sudah seharian mereka tidak melihat seekor binatangpun, seekor kijang atau burung unta saja tidak terlihat bayangannya.

 Selama beberapa hari keadaan tetap sama, mereka semakin lama masuk semakin dalam ke dalam hutan, akhirnya mereka tersesat di padang pasir. Bahan makanan dan bensin sudah habis, dalam keadaan kehausan dan kelaparan, mereka hanya bisa duduk diam-diam menunggu mati. Pada saat ini Sullivan mengeluarkan genderangnya dengan perlahan-lahan dia memukul genderangnya, “ Donng.. dong… dong… dongg..”

Tiba-tiba seekor kijang yang entah keluar dari mana mendekati mereka, Pompidou mengambil senapannya, tetapi Sullivan melarangnya, kijang memandang kearah Sullivan, perlahan-lahan mengerakkan kakinya yang panjang berjalan ke depan. Sullivan membawa genderangnya mengikuti kijang tersebut.

Gurun pasir terlihat sangat sunyi, lalu Pompidou mengikuti belakang Sullivan, mereka tidak tahu sebenarnya kijang ingin membawa mereka kemana? Mereka diam-diam mengikuti kijang membawa mereka melewati sebuah bukit pasir, “Lihat!” Sullivan dengan gembira berteriak,  terlihat dihadapan mereka sebuah Oasis, rumput-rumput hijau dan bunga yang warna-warni seperti sebuah permadani yang indah, ditengah-tengah ada sebuah kolam yang airnya sangat jernih, dipinggir kolam penuh dengan burung dan binatang-binatang lain.

Bulan purnama yang merah terlihat dilangit, Sullivan kemudian mengambil genderangnya dan mulai memukulnya, suara genderang terdengar sangat merdu dan indah.

Seiring dengan suara genderang, Sullivan dengan lembut berkata pada Pompidau, “Lepaskan senjatamu, bertemanlah dengan binatang-binatang ini, marilah minum air yang jernih dan segar ini! Hargailah setiap nyawa!.

Seiring dengan irama genderang, para binatang ini mulai meminum air yang segar dan manis yang ada didalam kolam, ada yang mengepakkan sayap, ada yang mulai ikut bernyanyi, setiap binatang ini terlihat sangat senang, dari mulut mereka menetes tetesan air yang berkilau-kilau.

Entah sejak kapan senapan sudah terlepas dari tangan Pompidou, sambil menghela nafas panjang dia berkata, “Oh.. hidup ini sangat berharga dan betapa indahnya! Sekarang sayapun akan mulai meminum air yang manis ini!”

Di alam semesta ini berjalan menurut hukum alam, segala sesuatu sudah disesuaikan  dengan hukum alam, lebih banyak melepaskan keegoisan, keterikatan dan keserahan diri sendiri, dengan hati yang lebih banyak toleransi  dan memikirkan orang lain, dengan demikian lebih bisa bertahan hidup dan lebih menghargai hidup ini. (Hau Pheng Yao)

ARTIKEL YANG BERKAITAN

Mari kita dukung kiriman artikel-artikel dari teman-teman Tionghoa, dengan cara klik "SUKA" dan teruskan artikel kesukaan Anda ke dalam facebook, twitter & googleplus Anda.

TERBARU HARI INI

ARTIKEL: INTERNASIONAL

ARTIKEL: BUDAYA

ARTIKEL: KEHIDUPAN

ARTIKEL: KESEHATAN

ARTIKEL: IPTEK

ARTIKEL: BERITA