KISAH | TIONGHOANEWS


Selamat datang berkunjung dalam situs blog milik warga Tionghoa Indonesia. Disini kita bisa berbagi berita tentang kegiatan/kejadian tentang Tionghoa seluruh Indonesia dan berbagi artikel-artikel bermanfaat untuk sesama Tionghoa. Jangan lupa partisipasi anda mengajak teman-teman Tionghoa anda untuk ikutan bergabung dalam situs blog ini.

Senin, 01 Oktober 2012

AKU PERNAH DIREJAM SUAMIKU

Aku menikah di usia yang cukup matang, 26 tahun. Pernikahanku kurang disetujui oleh orangtuaku, karena perbedaan suku. Orangtuaku menginginkan aku menikah dengan seorang pria dari suku yang sama dan sudah dijodohkan denganku, tapi aku tidak mempunyai setitik cintapun kepada pria tersebut.

Akhirnya dengan segala daya upaya untuk menyakinkan orang tuaku, akhirnya aku menikahi teman kuliahku, sebut saja Tio. Lelaki ini semula adalah teman mainku, lama kelamaan ia memiliki rasa cinta yang mendalam padaku, dan ia juga mengatakan tak ingin kehilanganku. Singkat kata, ia kemudian meminangku untuk dijadikan istrinya. Tentu saja aku merasa tersanjung dan bahagia karena aku mengenal Tio sejak kami masih kecil.

Belum setahun perkawinan kami, suatu hari karena persoalan kecil, hanya karena aku pulang sedikit terlambat dari kantor mendadak Tio memukulku, hingga pipi kiriku lebam membiru. Aku menjerit, aku sama sekali tidak pernah menyangka Tio berubah menjadi pemarah dan pemukul.
 
Semula, aku mengira Tio khilaf, ternyata kejadian yang sama kerap berulang hanya karena masalah sepele. Bahkan badanku pernah dipukul Tio dengan menggunakan guci pajangan, hingga guci tersebut pecah berantakan.
 
Kejadian yang paling menyakitkan adalah saat sepulang kerja, aku menumpang mobil teman sekantor yang searah dengan rumahku karena mobilku masuk bengkel. Sudah mendekati rumah, aku turun dari mobil teman dan berjalan ke rumah yang jaraknya tidak lebih dari tiga menit. Setiba di dekat rumah, kulihat Tio sudah tiba di rumah lebih dulu.
 
Tio sempat menanyakan kenapa aku jalan kaki, tidak naik taxi. Kuceritakan panjang lebar bahwa aku menumpang mobil teman sekantor yang juga dikenalnya sampai jalan besar do dekat rumah. Mendadak tanpa peringatan apapun Tio menamparku. Aku yang tidak memperkirakan tindakan Tio, terjatuh di jalan aspal di depan rumahku. Bukan berhenti, Tio malah menarik tanganku dan menyeret badanku hingga memasuki pekarangan rumah.
 
Kejadian tersebut berlangsung di jalan depan rumah kami, sehingga beberapa tetanggaku menjerit melihat aku diseret oleh suamiku sendiri. Aku berusaha tabah, tidak melawan dan tidak menangis, karena di dalam rumah ada ibu dan kedua anakku yang masih kecil. Aku tidak mau kejadian ini terlihat oleh mereka.
 
Di dalam rumah, Tio masih teriak, hingga aku  meminta ibuku masuk ke kamar dengan membawa anak-anakku yang masih kecil. Agar ibu tidak panik, kukatakan padanya bahwa ada salah faham sedikit dan akan segera kuselesaikan. Begitu keluar kamar, aku langsung dihadang tamparan dan pukulan Rio. Aku tetap diam dan pasrah. Aku hanya tidak ingin ibu dan anak-anakku mendengar bahwa Tio sedang memukuliku.

Tapi kejadian tersebut menjadi titik balik hidupku selanjutnta. Kupersiapkan diriku sebaik mungkin. Aku bekerja lebih giat dari biasanya, agar prestasi kerjaku meningkat dan dilihat oleh pimpinan. Pertimbanganku saat iyu adalah jika aku ingin bercerai dari Tio aku harus mempunyai penghasilan yang cukup bagi kelanjutan hidupku dan sekolah anak anakku.

Setelah kurasa cukup menyiapkan diri dan mental, kemudian aku meminta cerai dari Rio, aku menggunakan jasa pengacara. Tio langsung jatuh sakit, ia tidak menyangka bahwa aku yang selama ini hanya diam mengalah bisa mendadak mengajukan cerai lewat pengacara. Aku bahkan memintanya keluar dari rumah, karena rumah tersebut adalah rumahku sejak sebelum nikah. 

Tio pergi meninggalkan rumah selama seminggu, hingga suatu hari pukul 11.00 malam, mendadak telpon di rumahku berbunyi. Terdengar suara Tio dari seberang sana, Tolong bukakan pagar rumah, aku kehujanan di luar, ma. Malam itu memang hujan deras.
 
Kubuka pintu pagar dan setelah memasukkan mobil ke garasi, Tio langsung bersujud mohon ampun di kakiku dengan badan basah kuyup sambil menyerahkan selembar kertas ber-materai, yang isinya mengatakan bahwa Tio berjanji tidak akan menganiayaku lagi. Jika ternyata dia memukulku lagi, maka dia akan menerima perceraian dan kehilangan anak anaknnya. Aku bukan pendendam, kuberi kesempatan terakhir bagi Tio untuk memperbaiki prilakunya.

Hingga saat ini, tujuh tahun setelah pemukulan yang dilakukan Tio, ia tidak pernah sekalipun memukulku lagi. Surat ber-materai tersebut sudah kubuang tanpa setahu dia, karena Tio sekarang sudah menjelma menjadi seorang suami dan ayah yang baik, penuh kasih dan membanggakan. Kadangkala jika kami sedang makan malam berdua, Tio masih sering meminta maaf dan meyesal sekali pernah memperlakukanku seburuk itu, aku tersenyum dan memintanya melupakan kisah lalu. [Vivi Tan / Jakarta] Sumber: Kisah-Nyata

PESAN KHUSUS

Silahkan kirim berita/artikel anda ke ke alamat email: tionghoanews@yahoo.co.id

MENU LINKS

http://berita.tionghoanews.com
http://internasional.tionghoanews.com
http://budaya.tionghoanews.com
http://kehidupan.tionghoanews.com
http://kesehatan.tionghoanews.com
http://iptek.tionghoanews.com
http://kisah.tionghoanews.com

ARTIKEL YANG BERKAITAN

Mari kita dukung kiriman artikel-artikel dari teman-teman Tionghoa, dengan cara klik "SUKA" dan teruskan artikel kesukaan Anda ke dalam facebook, twitter & googleplus Anda.

TERBARU HARI INI

ARTIKEL: INTERNASIONAL

ARTIKEL: BUDAYA

ARTIKEL: KEHIDUPAN

ARTIKEL: KESEHATAN

ARTIKEL: IPTEK

ARTIKEL: BERITA